Recents in Beach


Ragam Teks

 

Ragam Teks

Nizar Machyuzaar*

Teks dapat mengambil bentuk tulisan, rekam suara, rekam gambar (bergerak), atau kombinasi di antara ketiganya. Sistem bahasa menjadi bahan baku pembangun teks. Sekalipun tidak tertulis atau terdengar kata-kata, teks selalu menuntut tidak sekadar dipahami, tetapi juga ditafsirkan. Dengan demikian, ketika kita menikmati lukisan atau musik instrumental, kita tetap merangkai pemahaman dan penafsiran dalam proposisi kalimat-kalimat yang menyusun narasi atau kisah.

Untuk sampai pada memahami dan menafsir teks, kita mesti dapat membedakan ragam teks yang erat kaitannya dengan acuan-diri teks. Setidaknya, kita dapat menggolongkan teks ke dalam dua ragam, yakni ragam nonfiksi dan fiksi. Teks nonfiksi memiliki acuan-diri teks yang berkorespondensi langsung dengan kenyataan. Sebaliknya, teks fiksi me-reka kreasi referensi-diri teks sehingga teks tidak langsung berkorenpondensi dengan kenyataan.

Selanjutnya, kita dapat membedakan teks nonfiksi ke dalam teks faktual dan teks faksional. Yang membedakan keduanya adalah strategi literer pembuatan teks. Dalam teks faktual, persepsi pribadi pembuat teks sedapat mungkin dihindari, seperti terbaca pada teks berita, sejarah, karya ilmiah, dsb. Sementara itu, pada teks faksional, strategi literer pembuatan teks justru mengeksplorasi persepsi subjektif pembuatnya dalam bentuk argumentasi dan persuasi, seperti terbaca pada artikel, tajuk rencana, dsb.

Sementara itu, ragam teks fiksi justru sebaliknya. Teks fiksi mau lebih intens mengeksplorasi persepsi pribadi penulisnya, bahkan pun yang paling subjektif. Kode bahasa yang menjadi bahan baku teks beroperasi membangun referensi-diri dalam korespondensi tidak langsung dengan kenyataan. Sebabnya, pembuat teks telah me-reka kreasi bahasa dalam pola ungkap yang subjektif, yakni pemanfaatan diksi dan gaya bahasa dalam narasi.

Teks fiksi pun memiliki ragamnya, yakni fiksi faktual (biografi, kritik, esai) dan fiksi nonfaktual (puisi, prosa, drama). Mengapa fiksi disandingkan dengan kata faktual? Bukankah dua istilah ini bertentangan? Di sinilah kita mesti meredefinisi pengertian fiksi. Fiksi yang dimaksud di sini adalah teks kreatif hasil dari reka imaji. Sementara imaji diproduksi dari pengalaman hidup atas penginderaan alam, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Imaji diproduksi karena manusia berada dalam kesadaran diri dan kesadaran di luar dirinya.

Sampai di sini, dapatlah dikatakan bahwa teks yang berbahan baku bahasa, baik dalam sistem ketandaan verbal maupun nonverbal (atau kombinasi di antaranya), menuntut pemahaman dan penafsiran penerimanya dalam kode bahasa. Sementara itu, seperangkat aturan yang menandai bahwa suatu teks berjenis tertentu menandai kode (ragam) teks. Terakhir, referensi-diri teks yang terbakukan di dalamnya menjadi kode sosial-budaya yang menuntun penerima teks tak sekadar asik-masyuk dalam dua kode sebelumnya.

Dari andaian memahami dan menafsir teks tersebut, kita akan sampai pada satuan terkecil pembangun teks, yakni kalimat. Satuan gramatikal ini teristimewa untuk dikuasai transformasinya karena melaluinya monumen bahasa yang disebut teks dapat dibangun dihampiri oleh penerima teks. Dengan begitu, pemahaman dan penafsiran penerima teks dapat bersua dengan “ada”-nya teks yang memendarkan referensi-diri dan makna teks.

Apalagi, saat ini teks terdukung teknologi informasi digital. Segala informasi dalam internet (konten) menuntut penerima teks (warganet) dapat sampai dan masuk dalam monumen bahasa (kode bahasa) yang berkontur pemodelan teks tertentu  (kode ragam teks) dan bereferensi-diri teks (Kode sosial-budaya). Jikalah kita sepakat dengan ungkapan berselancar di dunia maya, dapatlah kita bayangkan berapa banyak peselancar yang tergelincir kemudian berenang, bahkan tenggelam dalam metafor semesta teks.

Mangkubumi, 6 Juni 2021

* Penulis adalah penyair dan narateks.

Posting Komentar

0 Komentar