Recents in Beach


Ragam Kalimat


Ragam Kalimat

Oleh Nizar Machyuzaar*

 

Kalimat dapat mengambil bentuk ujaran dalam rangkaian bunyi dan tulisan dalam rangkaian huruf. Kalimat dapat ditempatkan dalam otonomi relatif tanda, yakni hubungan tanda kata yang dilepas dari konteks peristiwa berbahasanya. Dari penempatan ini,ciri keumumannya dapat difiksasi, yakni ketatakalimatan yang melahirkan satuan gramatikal kalimat dan ragamnya yang dikaji bahasa sebagai sains (linguistik).

Sebaliknya, kalimat pun dapat ditempatkan dalam konteks yang melingkungi peristiwa berbahasa diproduksi. Pembingkaian ini mengembalikan kalimat pada fungsi dasarnya sebagai penyampai gagasan dalam interaksi antarpengguna. Aspek pengujar/penulis, pendengar/pembaca, dan acuan sosial-budaya melingkungi kalimat sebagai teks yang diproduksi dalam peristiwa berbahasa (wacana).

Setidaknya, kalimat mensyaratkan adanya nominalisasi (pembendaan) dan predikasi (pelabelan) yang populer diistilahkan dengan Subjek (S) dan Predikat (P). Hubungan dialektis keduanya menghasilkan makna kalimat. Kata “presiden” dapat dilabeli nomina “pemaaf” yang bermakna identitas, verba “makan” yang bermakna peristiwa, adjektiva “tegas” yang bermakna kualitas, dan numeralia “satu” yang bermakna kuantitas.

Kalimat menjadi lengkap maknanya saat disertakan sasaran yang menempati unsur Objek (O) atau Pelengkat (Pel.), seperti pada kalimat Presiden (me-N)makan nasi. Bahkan, kalimat dapat menjadi sebuah narasi sederhana manakala konjungsi dan preposisi menempati unsur Keterangan (K) yang mengacu pada peristiwa berbahasa. Contohnya, Tadi pagi (K) presiden (S) (me-N)makan (P) nasi (O/Pel.) di kafe (K).

Alih wahana kalimat dari ujaran ke tulisan dapat dibakukan dengan tanda selain kata (suprasegmental). Secara umum, alih wahana ini mengharuskan penulisan kalimat diawali huruf kapital dan diakhiri intonasi ujaran datar (tanda baca titik) untuk memberi informasi, naik turun (tanda baca tanya) untuk mendapat informasi, dan naik (tanda baca seru) untuk menyarankan atau memerintah.

Ketatakalimatan menjadi bahan baku siapa pun yang memproduksi dan mengonsumsi kalimat. Namun, dalam situasi percakapan, ujaran akan memenuhi prinsip keefektifan. Gagasan inti kalimat yang dibangun S dan P dapat lesap karena kontinuitas percakapan antarpengguna menjadi acuan pemaknaan dalam konteks selingkungnya. Dengan demikian, kalimat dapat dibangun hanya dari satu kata, satu suku kata, bahkan satu huruf.

Sampai di sini, kita dapat mengandaikan bahwa hubungan antarkata secara horizontal menandai disposisi pengguna bahasa dalam berinteraksi secara sosial. Sementara itu, hubungan antarkata secara vertikal menandai adanya pertimbangan diksi (pemilihan kata) dan style (gaya bahasa) pengguna bahasa. Darinya, kalimat dapat diproduksi dan dikonsumsi.

 Mungkin, kita masih ingat ujaran ‘Odading Mang Oleh, rasanya anjing benget!”. Bandingkan saat kalimat ini diujarkan “..., rasanya enak sekali!” atau dengan plesetan yang sering digunakan anak kecil “..., rasanya anjai sekali!”. Disposisi kalimat dalam pertimbangan diksi dan gaya bahasa menyebabkan pengguna bahasa mesti menguasai ragam kalimat. Selain itu, disposisi kalimat juga mengakibatkan peristiwa berbahasa memiliki relevansi sosial dan budaya, yakni sistem nilai yang berlaku di masyarakat.

Ragam kalimat tidak hanya kalimat aktif dan kalimat pasif. Akan tetapi, kita dapat membaginya menjadi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Sementari itu, dari keutuhan unsurnya, kita dapat membaginya menjadi kalimat mayor dan kalimat minor. Dari susunannya, kita dapat membaginya menjadi kalimat versi dan inversi. Dari kompleksitas gagasannya, kita dapat membaginya menjadi kalimat simpleks dan kompleks.

Ragam kalimat dapat dipelajari secara tekstual. Informasi begitu melimpah di internet sepanjang kita dapat mengaksesnya. Kiranya, kalimat dapat memenuhi kriteria teks saat dibakukan dalam tulisan atau direkam dalam dokumen suara, gambar (bergerak), dan keduanya. Sebabnya, kalimat dalam peristiwa bahasa (wacana) akan aus bersama temporalitas ruang dan waktu wacana jika tidak dialihwahanakan ke dalam cetak atau konten hasil dari transmisi elektronik.

 

Mangkubumi, 6 Juli 2021

* Penulis adalah penyair, esais, dan pembelajar tekstologi dan stilistika.

Posting Komentar

0 Komentar