Recents in Beach


Balalin (Bagian I Sesi 5)

Balalin 

(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 5

Sumber Foto: https://alamalami.com/wallpaper


Oleh Waliyunu Heriman

Malam itu menjadi malam yang sangat mencekam bagi Patriskiting ketika ia menyaksikan  gelombang eksodus terjadi. Mula-mula gerombolan burung yang begitu saja muncul dari arah Hutan Marut.  Bergerak seperti gelombang awan hitam ke tempat ia berdiri—sebuah bukit rumput yang tak ia kenali. Berteriak riuh seperti mengalami ketakutan yang luar biasa. Terbang berputar-putar di atas kepalanya lalu kembali bergelombang ke arah matahari terbenam.

Di tempat lain,  Patriskiting melihat gerombolan monyet mengelilingi setumpuk bangkai kawannya. Monyet-monyet itu sedang berkabung dengan kesedihan dan kemarahan yang berpadu. Mereka menjerit-jerit dengan suara yang memekakan telinga. Seekor yang paling besar dan berbulu paling lebat, mendongak ke langit dan memencak-mencak mengisyaratkan kemarahan yang luar biasa.

Gerombolan babi keluar hutan, menerobos semak  melewati sungai dengan langkah setengah berlari, seolah ada puluhan tombak mengejar dari belakang. Babi-babi itu tak menoleh. Bergerak lurus ke arah jalan yang hendak dilalui.

Patriskiting terkesima menyaksikan adegan-adegan para binatang itu. Begitu cepat seakan tak memberinya kesempatan untuk menghela nafas, melonggarkan dada yang terasa sesak. Angin tak bertiup. Di bawah remang bulan sabit, pepohonan kaku.

Manakala angin bertiup, Patriskiting tersentak oleh makhluk-makhluk serupa hantu yang  keluar dari pepohonan. Terbang melayang ke atas lalu berkerumun membentuk sebuah gerombolan kabut. Patriskiting tahu makhluk halus itu adalah roh-roh nenek moyang mereka. Adu Oroh  yang sudah merasakan bahkan sudah melihat apa yang akan terjadi pada hari esok atau masa yang akan datang, sebelum orang-orang kampung, anak cucunya tahu.

“Apa yang terjadi di hutan sana?”

Patriskiting merasa sangat cemas. Tubuhnya bermandi peluh. Mendadak ia ingin pergi ke hutan itu. Hutan yang sering ia jelajahi sejak kecil, saat ia sering diajak ayahnya ke sana. Hutan yang sudah sangat ia kenali.

Saat remaja,  Patrisking sering  di bawa ayahnya menjelajahi Hutan Marut. Ayahnya, kala itu,  menunjukan secara detil dan rinci bagian-bagian hutan yang menjadi milik mereka. Bukit dan sungai serta anak-anak sungai yang membatasi hutan mereka dengan hutan yang dimiliki orang-orang dari kelompok suku lain. Mendiang ayahnya,  juga menunjukan letak-letak pepohonan yang menjadi tempat berdiamnya roh para kakek moyang mereka.  Ayahnya menunjukan di pohon mana kelak rohnya akan berdiam setelah ajal tiba.

Bagi para lelaki dewasa Long Simau, mencari dan menentukan pohon untuk berdiamnya roh kelak adalah sebuah keniscayaan. Pencarian dilakukaan oleh para lelaki manakala ia sudah dewasa atau setelah ia mampu menjelajahi hutan. Ia akan pergi dari kampung seorang diri atau berteman seekor anjing yang paling kuat dan bisa dihandalkan untuk menemani tuannya berjalan. Perjalanan bisa berlangsung seharian, tergantung cepat atau lambatnya ia menemukan pohon yang dianggap tepat. Tepat atau tidaknya akan ditentukan oleh kekuatan yang akan muncul mendorongnya untuk memilih pohon secara yakin. Jika pada satu pohon keyakinan itu belum didapat, maka orang akan berjalan lagi untuk memilih pohon lain. Sampai ditemukan pohon yang betul-betul menyatu dengan pikiran dan jiwanya.

Puluhan pohon raksasa yang tumbuh di Hutan Marut  sudah terpilih dan sekarang menjadi tempat berdiamnya nenek moyang orang Long Simau. Patriskiting sudah menandai sebuah pohon ulin yang tumbuh di sebelah timur. Dengan melingkarkan rotan sebesar jari pada pokok batang kayu tersebut. Ikatan rotan yang melingkar itu ia tetesi darah dari dua jari tengahnya yang di iris sedikit dengan menggunakan pisau. Ketika Patriskiting meninggal rohnya akan terbang ke sana  mencari pohon berbau darah itu.

Sebegitu kuat dorongan pada Patriskiting sehingga pagi buta, ketika malam masih menyisakan gelap, ia sudah melangkah pergi bersama Si Tukuk, anjing hitam, yang telah menemaninya bertahun-tahun. Jika bukan Patriskiting, butuh waktu setengah hari dari kampung ke jantung hutan sana. Lelaki itu berjalan setengah tak menapak. Melewati jalan setapak di sela pepohonan dan belukar. Tak ada embun atau sisa air yang jatuh dari dedaunan yang tersisir Patriskiting. Patriskiting, seperti bayang-bayang yang terus berkebat menembus hutan.

Lelaki yang masih meyakini keberadaan dan peran serta Bungan Pesalong Bugang dalam kehidupan orang Kampung Long Simau dan dalam menjaga hutan itu, merasa akan ada sesuatu datang. Sesuatu yang mengganggu tatanan kehidupan orang kampung dan tatanan kehidupan para roh leluhur di Hutan Marut sana.

Matahari telah berada di garis tengah langit ketika Patriskiting sampai di muara Sei Marut.  Muara itu adalah gerbang bagi orang-orang Long Simau yang hendak memasuki Hutan Marut. Dari muara Patriskiting melangkah menyusuri jalan setapak menuju lembah yang ada di sebelah timur bukit Marut.  Jalan yang disusuri Patriskiting tak lagi berupa jalan layaknya yang sering diinjak orang. Permukaan tanahnya sama saja dengan tanah disekitarnya. Yang menunjukan itu sebagai jalan adalah adanya rambu-rambu atau tanda-tanda yang dibuat Patriskiting dan orang-orang yang mulai rapat tertutup semak belukar.

Patriskiting seperti seekor ular, menyelinap licin di sela pohon dan belukar. Diikuti anjingnya yang sejak sampai mura tak sekalipun mengeluarkan suara selain dengus nafasnya. Tujuan Patriskiting adalah tebing bergoa dan bebatuan yang menjadi situs nenek moyangnya.

Seekor ular sawah (sejenis ular sanca) sebesar pohon pinang merayap pergi dari atas batu usai menjemurkan badanya setelah berhari-hari melingkar di tempat yang lembab, ketika angin yang bertiup dari arah Patriskiting sampai ke hidungnya. Dari jejaknya yang tertinggal Patriskiting tahu binatang itu baru saja berlalu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya tertegun sejenak  untuk meminta Uku Pata menjauhkan ular itu juga binatang ganas lainnya,  dari tempat yang ia tuju. Cukup lama ia tak menginjakan kaki di sana. Tumbuhan belukar mulai memenuhi. Patriskiting mencabut parang lalu menebas,  membersihkan tempat itu.

Selesai menebas, Patriskiting bergerak ke arah bekas kediaman nenek – moyangnya dulu—goa-goa yang berada di lereng bukit batu.  Mulut goa-goa itu pun mulai penuh dirambati akar dan tumbuhan menjalar yang menempel dipermukaan batu bersama lumut-lumut hutan. Dengan parangnya Patriskiting lalu  kembali menebas akar dan tumbuhan yang menutup mulut goa. Ada banyak goa di lereng bukit itu. Goa-goa besar dan kecil. Sebagian berada di tebing tertinggi. Tiga goa paling besar berada di kaki lereng, sekitar pelataran situs.

Dari luar, goa itu tampak terpisah. Mulut-mulutnya setinggi orang berdiri selebar dua-tiga daun pintu. Berbekal senter pemberian keponakannya, Patriskiting memasuki goa pertama. Hawa lembab bercampur aroma lumut basah tercium oleh Patriskiting setelah berada di mulut goa. Lima belas langkah berjalan, lorong goa pertama itu berbelok, tembus pada lorong goa kedua dan ketiga. Rupanya, pada kedalaman sekitar 15 meter,   goa-goa itu tersambungankan oleh lorong besar menyerupai ruangan rumah.

Patriskiting sudah tak asing dengan goa-goa itu. Sejak kecil ia sudah sering dibawa ke sana oleh mendiang ayahnya. Dari ayahnya itulah ia tahu bahwa goa-goa itu dulu menjadi tempat tinggal kakek dari kakek dan nenek dari neneknya Patriskiting dulu, ratusan tahun lalu. Mereka menjadikan goa-goa itu sebagai tempat tinggal karena di sekitar goa cukup banyak kekayaan hutan sebagai bekal hidup. Tersembunyi sehingga cukup aman dari ancaman musuh, suku-suku lain yang kerap menyerang,  pada zaman perburuan kepala atau ngayau dulu.

Jejak-jejak masa lalu itu, beberapa masih ada.  Tersimpan dalam satu lobang pada dinding lorong belakang. Saat cahaya senter Patriskiting mengarah ke mulut lobang itu, segera tampak tulang belulang, tiga tengkorak kepala yang sudah nyaris tak berbentuk, dan bebatuan pipih bekas senjata mereka dulu. Tangan Patriskiting bergerak mengorek-ngorek belulang itu, memisahkan belulang yang menempel rapat setelah cukup lama bersentuhan, kemudian menatanya lagi di tempat semula. Tiga tengkorak kepala itu ia letakan di tengah, dikelilingi belulang dan benda lain yang ada disitu.

Kesunyian mengambang. Sesaat kemudian terasa  mencekam. Patriskiting duduk di atas batu bulat yang seolah sengaja disediakan sebagai tempat duduk bagi orang yang datang untuk berziarah ke sana. Si Tukuk, anjing hitam yang menemani Patriskiting, berbaring menghadap majikannya.  Patriskiting membenahi posisi duduk. Membungkukan punggung setelah menyatukan pegangan kedua tangan pada gagang tombak yang dibawanya. Lalu menunduk dengan merapatkan kepala pada kedua lengannya yang menyatu di gagang bujak.

“Kakek-nenek, saya datang menjenguk kalian. Karena mimpi yang mencemaskan. Saya takut sesuatu akan terjadi. Musibah atau bencana menimpa kalian. Menimpa kami. Lindungi kami. Lindungi hutan kami, sungai kami,  ladang kami, pondok kami,” batin Patriskiting. Berulang-ulang, berulang-ulang, hingga seruannya itu sampai ke telinga para kakek-nenek moyangnya di sana.

Kelafet (ua-ua) jantan yang sedang kasmaran berhenti memanggil-manggil betina. Seekor Nyau (elang) yang melesat di sela daun hendak menyergap punai, melambat lalu melayang dan hinggap di atas cabang. Burung-burung yang semula riuh berkicau, mendadak diam. Termasuk sepasang babi hutan, jauh di seberang sana, yang sedang kawin, buru-buru memisahkan diri dan masuk ke sarang.

Alam telah menyampaikan getaran pada mereka bahwa pada saat itu roh-roh makhluk hidup baru saja terjaga. Para penguasa alam baru saja mendengar sebuah permohonan dari seorang manusia yang selama berpuluh tahun bersahabat dan tulus menyayangi mereka. Permohonan untuk keselamatan kaum sendiri serta mereka yang ada di alam luar dan alam dalam. Maka serukanlah permohonan itu agar menjadi doa bersama sekalian mahkluk hidup.

Patriskiting merasakan kehadiran kakek-nenek moyangnya. Merasakan kehadiran Sang Pencipta dan Pemilik Alam dalam keheningan yang terus mengambang sekian waktu lamanya. Kiting dan Ayum—perempuan yang mengandung dan melahirkannya. Kovung dan Unyu Arut, kakek dan nenenknya, dan sosok-sosok lain yang wajahnya tak ia kenali tapi namanya tercatat dalam ingatan Patriskiting sebagai orang tua dan leluhurnya.

“Kakek-nenek, saya datang menjenguk kalian. Karena mimpi yang mencemaskan. Saya takut sesuatu akan terjadi. Musibah atau bencana menimpa kalian. Menimpa kami. Lindungi kami. Lindungi hutan kami, sungai kami,  ladang kami, pondok kami,” ulang Patriskiting.

Kiting menghampiri Patriskiting. Memegang dan mengelus pundak anak lelakinya itu.

 “Nak, ayah tahu keinginanmu. Sekalipun kamu tak datang kesini. Kami selalu melihatmu dari sini. Kami mendengar doamu dan kami ikut menyampaikannya pada Sang Pencipta. Kami selalu meminta agar Uka Belawin menjaga dan melindungi kalian di sana,”

“Mimpi itu mencemaskan saya,”

“Ayah tahu. Begitulah Sang Pencipta memberi kita isyarat. Bukan hanya dalam mimpi. Sehari-hari kita sering menerima isyarat itu. Kewajiban kita adalah selalu waspada,”

“Saya khawatir sesuatu akan datang dan mengganggu tatanan kehidupan kita. Mengganggu kampung kami dan hutan yang menjadi tempat tinggal kalian,”

“Kakek moyang kita sudah biasa menghadapi masalah. Selesai juga dihadapi. Masalah itu akan ada saja. Orang-orang Punan kita akan menghadapi masalah-masalah itu. Nyatanya, kalian bisa menghadapi itu,”

“Saudara-saudara kami di bawah sudah banyak yang kehilangan. Kehilangan hutan dan kehidupan. Mereka datang begitu serakah. Tak seperti bangsa kita,”

“Ya begitulah kodrat kehidupan. Kalian akan selalu berhadapan dengan bangsa kalian sendiri. Kalian tahu adat hutan, tetapi mereka tak mau tahu,”

“Lalu kami harus membiarkan mereka?”

“Siapa pun yang memang mengganggu tak boleh dibiarkan. Kakekmu dulu memotong kepala orang yang mau berbuat jahat. Tak peduli saudara atau kawan sendiri. Kita punya senjata. Tombak, sumpit dan parang. Tapi bukan itu. Kalian sendiri tahu sekarang bukan masanya kita berperang,”

“Kalau mereka merusak?”

“Jangan biarkan mereka merusak agar tak ada  perkelahian  atau kematian,”

“Kami akan melawan?”

“Ya, lawanlah dengan kebaikan yang kalian punya. Janganlah dengan kejahatan atau kekerasan sebab itu akan menyengsarakan kita juga,”

“Kalau suatu saat mereka datang dan mambawa kehancuran, demi langit dan bumi, datangkanlah dewa petir, dewa hujan, dan dewa angin. Musnahkan mereka para penghancur itu,”

“Meraka tahu dan mendengarmu. Biarkan mereka bekerja dengan cara sendiri yang tak perlu kita suruh atau minta-minta. Biarkan itu urusan mereka. Urusan kita sekarang, jagalah kehidupan itu baik-baik. Lakukan apa yang bisa dilakukan sesuai dengan kodrat kita,”

“Baik, ayah. Tapi, bantulah lindungi kami. Lindungi hutan kami, sungai kami,  ladang kami, dan pondok kami,”

“Ya. Sekarang pulanglah. Kasihan orang-orang mencarimu. Mereka kehilangan. Mereka kesusahan mencarimu,”

Patriskiting terjaga. Si Tukuk sedang menatapnya. Anjing itu bangkit dan melangkah ke luar lebih dulu. Diikuti Patriskiting yang jiwanya kini merasa ringan. Dari dalam anjat, sebelum melangkah ke luar, ia mengambil tiga butir telur ayam kampung dan meletakannya di sisi belulang itu. “Hanya ini yang bisa saya berikan,” gumamnya lalu berjalan.

Kembali menuju kampung, saat matahari sudah bergeser jauh ke Barat. Patriskiting melangkah cepat. Berjalan dalam kelebatan pohon dan tumbuhan, seakan ia sedang berjalan di atas padang rumput. Saat menuruni lereng hutan  yang basah, ia seakan tak merasakan licin. Melompat di atas bebatuan saat melewati sungai, tubuhnya ringan seperti melayang.


Posting Komentar

0 Komentar