Recents in Beach


Puisi Choer Affandi


Puisi Choer Afandi

 

Corona

1/

Seperti wabah menular
Sepi bersinggah di sini
Di sudut-sudut gang
Di jalan-jalan
Di pasar-pasar
Di tempat hiburan
Di tempat ibadah
Di tempat mencari uang
Di hati kita yang ketakutan

Dunia sepi kini
Tinggal di ruang kamar
Sebelum sepi abadi
Tinggal di kubur sunyi

 

2/

Menunggu suara telpon
Matahari lekas terbenam
Malam tanpa cahaya bulan
Apalagi bintang

Menunggu suara telpon
Detik-detik yang dinantikan
Adalah bayang-bayang
Kenangan

Telpon berdering video call
Wajah
nya tersenyum lebar
Di dalam layar

Kemudian terucap;
Baik-baik sayang
Baik-baik


3/

Orang bertanya
Dari mana corona
Lalu mencari fakta

Ada yang mengamati
Saling tonjolkan opini
Bermunculan para ahli

Ini adalah azab tuhan
Ini konspirasi sekelompok orang
Ini senjata biologis perang

Diam-diam
Corona berkeliaran
Di dekatmu kawan

4/

Virus merebak
Orang-orang berpulang
Kampung halaman

Di sini sepi
Jalan-jalan yang lengang
Pedagang
gulung tikar

Relawan datang
Berjibaku melawan
Virus corona

Alam semesta
Sedang menegur kita
Berjuang
dan doa

5/

Duhai bulan separuh
Pancaran cahayamu tenangkan kalbu
Hati yang menanggung beban rindu
Di tengah wabah yang buat aku beku
Keindahanmu kupandang jarak jauh
Ketakutan dan bahagia menjelma
Separuh-separuh di dadaku

Lalu aku menjadi kecil
Dari mahluk yang paling kecil
Oh corona

Betapa mudahnya tuhan
Membalikkan keadaan

Aku kini doa;

Duhai matahari pagi
Cahayamu berikan energi
Keringat mengucur dari pori-pori
Lalu terdengar bunyi
Dari senar gitar ini

 

Rantau (1)



Aku di sini
Mencium bau besi dibakar matahari
Mencium bau keringat di jalan-jalan padat
Mendengar ceramah klakson tak pernah henti
Menyaksikan segala maki setiap hari
Menangisi mimpi yang tak terbeli
Tertawakan kenyataan telah terjual
Menjadi boneka murah yang dikendalikan

Aku di sini
Tak dapat berlari padahal punya kaki
Tak dapat bicara padahal punya kata
Tak dapat bersaing padahal punya daya

Aku di sini sendiri
Malam semakin sepi
Orang-orang bermimpi
Tak bertepi

 

Rantau (2)

 

Ibu. Aku pergi
Beri aku buah tangan
Yang senantiasa aku makan
Di saat pagi siang dan malam
Jauh di perantauan

Ibu. Aku pergi
Doa dari bibirmu yang lembut
Seperti dongeng-dongeng malam
Yang sering engkau ceritakan
Saat kanak dalam buaian

Ibu. Aku pergi
Aku akan kembali
Pulang

Rantau (3)


Di bawah langit
Malam semakin tinggi
Beranjak pergi
Air mengalir jauh
Mencari jalan sunyi

 

Rantau (4)

 

Aku berjalan menuju sepi
Berputar-putar aku cari
Hari bulan dan tahun ganti
Namun sepi hanya ilusi

Aku berlari mengejar mimpi
Jatuh ke dalam rongga bumi
Tak bisa apa. Hanya pasrah
Merangkak naik. Jatuh kembali

Buah busuk di teras rumah
Telah menemukan takdirnya
Disapu ke dalam tong sampah
Berjumpa dengan nasibnya

  

Rantau (5)

 

 

Aku iri pada kawan
Yang hidup disibukkan dengan karya
Berkunjung ke tempat-tempat menarik
Mengobrol asik tentang segala
Seperti memutar lagu-lagu lama


Aku iri pada kawan
Yang begitu nikmat mengisap
Tiap batang rokok yang berasap
Kemudian seruput segelas kopi
Panas hitam dan pekat


Aku iri pada kawan
Yang cerita tentang kesuksesan
Keberhasilan yang gemilang
Menjadi pimpinan perusahaan
Beromzet miliaran

Aku iri
Pada diriku sendiri
Yang mampu bertahan
Menjalani hidup
Dengan sadar

 

Jerit

 

Ada kematian
Ada tangismu
Di gang sempit
Engkau menjerit

 

Kenangan

 

Kenangan
Tinggalkan rindu
Menggenang
Di selaput matamu

Di lorong kecil
Kau tunggu aku pulang
Dengan senyuman
Ada lambaian tangan
Meski hanyalah bayang

Yang Ditunggu

 

 

Hujan berlinang
Bumi desah gembira
Tanah petani gembur
Namun malapetaka
Takut dan takjub
Bersamaan
Datang

 

Kita Berjarak

Tangan yang lembut
Dalam genggam erat
Kita berjarak dekat
Kita diam di sini

Sedang rasa rindu
Telah sampai di puncak
Keabadian
Sejati

Angin menyelinap dari bawah pintu
Suara keras alarm bangunkan tidur
Terpenggal putus mimpi bercumbu
Sayup qunut orang bersyukur

Kicau burung
Padu cahaya
Fajar

 

Kata


Kata-kata tajam
Menusuk dada. Luka
Sampai bertahun lama

Kata-kata seperti isi rumah
Ditata. Di mana letak meja
Kursi. Lemari. Sikat gigi

Kata-kata ada
Waktu adam ditanya
Seperti kita. Saat belajar bicara

Ini apa?
Suara. Lambang. Makna
Keluar dari rongga


Biodata Penulis
Choer Afandi lahir di Jakarta, 2 September 1981. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Kota Bekasi. Menempuh pendidikan di MAN Cipasung Tasikmalaya (1996-1999), serta mondok di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Jurusan Ahwal al Syakhshiyah Fakultas Syari’ah IAIC (Institut Agama Islam Cipasung) Tasikmalaya, sampai semester VI, tidak dilanjutkan. Mengenal dan mempelajari sastra setelah ikut aktif di Komunitas Azan dan Sanggar Sastra Tasik. Buku puisi pertama “Kehadiranmu Dan Puisi 2006-2019 (Belum Diterbitkan).” Puisinya pernah dimuat di koran lampung pos, koran radar tasikmalaya, koran priangan, koran pikiran rakyat dan juga media online.

Alamat: Kp. Cipasung Rt 02/07 No. 24, Cipakat Singaparna 46417, Tasikmalaya – Jawa Barat.

Posting Komentar

0 Komentar