Recents in Beach


Menampar Sastra Indonesia

 

"Menampar Sastra Indonesia: Ezra Pound tak bisa mengikat Denny JA"





Qur'an, Surat Taahaa, ayat 131

"Jangan tujukan pandanganmu dengan kenikmatan, yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan, sebagai bunga kehidupan dunia, karena Kami uji mereka dengan kesenangan. Karunia Tuhanmu lebih baik, lebih kekal."


#SELA INGATAN


Di saat kepastiannya sebagai hukum, bahasa justru terberai tak pasti. Keadaan "duduk sebelah menyebelah" mula-mula menggoyangnya. Selanjutnya metafora, dalam keadaannya yang paling dasar: metafor. Metafor membelah diri, menjelma metafor lain.


Bergerak dari tiada menuju ada, kita merenungi unit terkecil kata yakni huruf, memikirkan muasalnya adalah titik - sebelumnya adalah ketiadaan. Mereka mengada dalam fenomena kehadiran: menyongsong benda-benda. Kehadirannya untuk mencatat serta menghitung dunia. Kehadirannya untuk mengenalkanNya.


Abidah menulis Menjelang Hijrah, Korrie Layun Rampan memuatnya di Angkatan Sastra 2000, bukunya. Sastra mulai mengalami kata yang tak tetap itu, dalam peristiwa, melibatkan fungsi pisau dan pedang.


Ketaktetapan kata dimulai, karena latar puisi Abidah, yakni hijrah. Penggunaan kata "pedang" adalah niscaya karena Hijrah memerlukan senjata. Senjatanya bukan "pisau" tapi "pedang".


Pedang yang dipakai Abidah untuk keperluan: "menebas lehernya", "menguliti tubuhnya", "mengorek matanya", "mengelupas telinganya", janggal karena fungsi pisau bukan fungsi pedang.


Mengapa ia mengerat badannya? Mengapa pedang membelok ("cincang dagingku uraikan sejarahku
kupas satu satu") - terbaca sebagai usaha mengenali diri.

Sekalipun "Menjelang Hijrah" bukanlah bagian dari puisi-puisi yang memuncaki Angkatan 2000, ia memperlihatkan "bahasa puisi": letak kata berubah menjadi kiasan, kiasan yang keras.


Mencari kiasan, itulah soalnya, menjelajahi kedalaman, inilah impiannya, meraih keindahan, inilah masalahnya: obsesi para penyair dan sastrawan. Seperti "sapu tangan" adalah kiasan di kisah Fang Yin.


Kekaburan bisa membuat ikhtiar berhenti, walau apa yang kabur ini kuasa kembali lagi.


Ahmad Yulden Erwin, "penerus" Nirwan Dewanto, memulai buku puisinya dengan Kredo Puisi, membawakan "jeda puitik" untuk ucapan "perlahankan bahasamu", dengan cara bergerak ke luar dari bahasa prosa agar hidup di bahasa puisi.


Berpuluh tahun bertanya, mencari apakah puisi, bagaimana menulis puisi dengan membaca Eropa, Amerika, China serta Jepang, sebelum bermalam-malam ia datang dengan pertanyaan, di FB kita yang tinggal kenangan; kita melihat: laju puisinya terlalu cepat seraya merekomendasikan: agar ia memelankan puisinya.


Penyair yang cerdas ini, dengan gairah puisi membara, mengolah ilmu puisi "memelankan bahasa" yang kita terangkan, lalu muncul dengan Kredo intrinsik: "Jeda dalam Ruang Puitik", bersinar.


Seperti bersinarnya Kredo ekstrinsik Puisi Esai saat memelankan bahasanya dalam gerak terbalik dan paradoks: prosa yang kini justru mengisap puisi lewat esai. Puisi yang normal dan konvensensional diganggu, oleh esai yang masuk ke dalam puisi dalam usaha "memelankan" bahasa. Tetapi esai, dibawa lagi ke dalam puisi

Erwin:


"Stilistika imajisme berfokus pada satu-dua objek-tematik serta menghadirkannya secara mendalam dan intensif dengan teknik jukstaposisi. 'Jeda', salah satu aspek penting dalam prosodi, tidak dihasilkan oleh permainan sintaksis puitik tetapi oleh bias semantik, melalui ambiguitas yang ditimbulkan dari kesenjangan antara makna denotatif benda dalam ruang rutin sehari-hari dengan makna konotatif benda dalam ruang imaji."


Apakah artinya "menghadirkannya secara mendalam"? Bahwa puisi di samping merenungi dunia ini, menyuntikkan emosi, sehingga apa yang disebut "dalam", mengundang kita memasukinya.


Orang bersedia memasuki lubang dalam kalau di dalam lubang ada sesuatu yang menarik hati. Apa yang menarik hati dalam dunia ini? Membuat kita bersedia memikirkannya. Apa yang mengundang simpati dalam dunia ini? Membuat kita bersedia ikut merasakannya.


Puisi atau sastra menjadi dunia bermain, tetapi pemain-pemainnya adalah orang dewasa, dalam bingkai permainan, meniscayakan dirinya menjadi kanak kembali; kita tidak bisa menjadi kanak andai tak merelakan diri: mengada di dalam fantasi.


Imajinasi, dimulai di sini bersama harapan demi harapan yang melompat dari gudang jiwa. Puisi pun menadahnya: bentuk menyambut isi yang melompat dari timbunan-timbunan penyair.


Stilistika, katanya, stilistika apa saja. Bahkan tanpa nama hidup memperlihatkan bentuk dari isi yang berselang-seling. Kita digodanya. Mulai mengakui alangkah sukarnya menetapkan benda-benda konkret, benda-benda abstrak.


Senja, misalnya, konkretkah? Senja abstrak ini kita sebut konkret karena ada langit lindap, serta laut, yang akan menelannya.


Jadi langit, laut, membuat senja nyata. Tanpanya, senja menjadi alam kosong, seperti dunia, nyata, karena segenap isinya.


"Mata" yang disentuh tangan Allah lewat "jangan", (Al-Qur'an Surat Taahaa ayat 131), tidaklah berada dalam ruang hampa. Bersama mata terikut "telinga", "mulut", indera-indera luar: "kulit di sekujur tubuh".


"Kulit" (mata, telinga, mulut), dikenakan "larangan", kehilangan arti karena mirruhi mulai memperlihatkan diri sebagai wacana "puisi". Imaji bukanlah berhenti di mata tapi sampai ke dalam jiwa.


Kata dari porosnya mengembang, seperti mengembangnya kesedihan dari sebuah negeri ke puisi, mencabang ke dalam permainan tanda yang menjadi imaji saat membayangkan afirmasi: lima nilai ideologi negeri, hidup tumbuh, ke dalam belahan-belahan puisi esai Denny JA. Hermeneutika melompat dari kitab suci ke negeri.


Apakah kita percaya terhadap pernyataan-pernyataan? A Few Don'ts mulai menanggalkan dirinya, menyisakan "don't" seperti harapan pada polemik virus saat ini.


Tidak ada larangan untuk membuat klaim apapun, #TirtaMandiraHudhi, sebab klaim akan berhadapan dengan klaim, klaim #TifauziaTyassuma dalam ikhtiarnya mematahkan virus luar.


Seperti klaim "Ezra Pound", boleh "meniru" Allah dengan pagar A Few Don'ts by imagiste, tapi si puisi seperti virus: menggeliat, mencari varian-variannya. Akhirnya, akan dinilai lewat dua ukuran: indah dan makna. Kajian kepada puisi adalah niscaya; "Pound" hendak menghadangnya, #DennyJA melawannya.


"Ezra Pound":

"Go in fear of abstractions. Don’t retell in mediocre verse what has already been done in good prose. Don’t think any intelligent person is going to be deceived when you try to shirk all the difficulties of the unspeakably difficult art of good prose by chopping your composition into line lengths."


Allah tidak dalam keadaan "fear of abstractions", dalam kebeningan bahasaNya, abstraksi ini muncul sebagai "bunga dunia". Dalam akhir Surah Matahari Ia bahkan berkata: Ia tidak takut terhadap apapun perbuatanNya. Komunikasi konkret mulai menjadi komunikasi abstrak. Komunikasi tanda dimulai saat bahasa puisi digerakkan.


Kalau "Ezra Pound" hendak menjeratnya melalui "good prose", Ia bersijingkat ke dalam "puisi". Kalau "puisi" ingin menahanNya, Ia bergerak ke arah prosa. Dua gerakan terhitung, dengan arah ekuilibrium.


Dengan mudah orang menemukan pengertian-pengertian puisi, pengertian-pengertian prosa, bahkan menyatakan bahasa puisi dan bahasa prosa, dalam praktiknya, setiap pernyataan membuat lubang-sela. Ciri paling khas, adalah bentuk, ("baris terpenggal"), tidaklah menjamin kemudahan mulus. Musik juga karena prosa adalah irama. Dalam prosa, "persamaan" dan "perbedaan" menunjukkan dirinya.


Yang tidak bisa dihilangkan adalah intensitas mempursuit keindahan dan kedalaman, usaha. Tapi ia bukanlah semata milik sastra, kita mulai kehilangan kata "unik" yang diselimutkan Teeuw, bahwa sastra dunia yang unik.

Kedokteran adalah dunia unik seperti ilmu, praktik hukum, atau ekonomi, seunik gerak-gerik Tai Tzu Ying di tepuk angsa. Apa yang tersisa? Titik sama, sebuah dinamik: ditarik persamaan, didorong perbedaan: indah mengada bersama kedalaman dunia.


Sapu Tangan Fang Yin misalnya, diniatkan sebagai puisi dengan mengubah beberapa pandangan dalam puisi: puisi mulai disentuh esai. Membacanya membawa ingatan kita kepada puisi Rendra: Khotbah. Juga Elliot dalam: Orang-Orang Kosong. Narasi ada di sini: info, yang dijauhi, diolah sebagai seni, sebagai puisi.


"A Few Don'ts" adalah "perintah" walau dihaluskan - ia bukanlah mozaik larangan, kata Pound. Sementara itu, seorang penganut fanatik Teori Sujud Li Sajidin, Budi Riyoko, menulis:


"Puisi tak mengenal mati, sebab di dalamnya Mim menyinari, kata tak mengenal kegelapan sebab kata bukan hiasan tapi pilihan, diksi tidak bersembunyi pada penafsiran tapi arti hadirNya. Mim merindu atau kita yang tak tahu cara merindu?"

Betapa kebenaran itu berdentang di Ezra Pound, di Denny JA, bergema ke mana-mana.


Runtun bunyi yang bekerja di puisi kini membalik menjadi runtut tanya di pena ilmu. Imajisme diniatkan melawan romantisme dalam puisi.


Tetapi, apakah dasarnya? Apa bedanya? Sungguhkah ia berbeda bukan, kembali dan selalu: ditarik persamaan.

Tak kita temukan dalam "A Few Don'ts", dasar berpuisi, kecuali aspirasi membaguskannya, setidaknya dalam pandangan "Imajisme". Dasar yang bernapas intrinsik. Mim belum melambai ke sini.


Imaji, yang disentuh Ezra Pound, adalah kehadiran serentak pikiran dan emosi, terbuka untuk kita hayati: saat ada-lain bersentuh dengan kita, saat ini, bahkan lain itu, dalam diri kita sendiri. "An 'Image' is that which presents an intellectual and emotional complex in an instant of time."


Tiap kata adalah imaji, tiap benda juga, Mr Ezra Pound. Sebab benda, kata, menjadi putik di dalam jiwa. Mata mengirimkan kesan-kesan itu ke dalam. Bukanlah, "sapu tangan Fang Yin", hanya berhenti di jemari pena Denny JA. Tapi masuk ke dalam, terendam di dalam, menjadi ingatan di dalam.


Ingatan tentang jalannya Teori Sujud Li Sajidin, titiknya bertemu dengan "A Few Don'ts", sebelum berbeda karena "Sujud Li Sajidin" terus menyelam di kedalaman, meninggalkan Ezra Pound di permukaan.


Kegiatan meraut kata dalam puisi adalah sambungan dari dunia nyata, di mana ikhtiar meraut, tak lain renungan akan hakikat benda-benda dalam peristiwanya. Agar rasa sajak muncul di dalam puisi.


Benda adalah material tetapi tubuh dihidupi oleh mirruhi. Selain Ia, makhluk, setiap makhluk, adalah ciptaan yang bernyawa.


"Sebelum-puisi" lalu sama pentingnya dengan "sesudah-puisi" (puisi itu sendiri), ruang penyair yang musti dilihat oleh ilmu.


Pound, tidak bisa menautkan ATAS NAMA CINTA kepadaNya, karena abainya Ezra menyentuh dasar (ber)sastra, hal yang dengan mudah dialirkan Teori Sujud Li Sajidin, bahwa Denny dengan "atas nama cinta", bisa kita alurkan ke firmanNya: "Kami menumbuhkan perasaan kasih dan sayang, ke dalam hatimu." Ia niscaya karena tujuan akhir setiap ada adalah Dia.


Walau kelak "teks" saling melintasi, penyairnya mengokohkan keyakinannya dalam pelintasan, dalam puisi. Ia menjadi pengetahuan genap saat ilmu berkayuh di tubuh puisi.


Gerakan mundur maju yang tak terhindarkan. Melarang puisi dengan menghilangkan dekorasi-bahasa demi anggapan memoto kenyataan setepatnya, bukanlah satu-satunya kebajikan. Suara tak pernah tunggal. Usaha mengekalkan melalui Kredo hanyalah versi dari tafsir si aku yang sedang merenungi dunia.


Keserentakan adalah niscaya, melibatkan yang konkret dan yang abstrak. Ada beda esensial antara dua kata ini: hiasan, dan khiasan. Hiasan menambahkan, khiasan mengumpamakan. Badan adalah dasarnya, pakaian hiasannya. Hati adalah intinya, pakaian terbaik adalah taqwa.


Ilmu sastra Mr Ezra Pound tak sampai ke sini: "mozaik larangannya" sejauh menyangkut "puisi", iman puisinya hanya dunia bukan alam sana. Karena itu hakikat kata yang menembus, sampai kepadaNya, tak ia miliki.


Padahal kata adalah hiasan benda: benda berbaju ialah bahasa: kata, menyelimuti benda seperti hati menjadi tudung: diri. Bahasa lalu menjadi kepanjangan manusia, yang difirmankan: kehadirannya hanya untuk beribadah kepadaNya, dengan cara mengenaliNya.


Jangan merumbai-rumbaikan bahasa, katanya ("use either no ornament or good ornament"), hanya sejauh menyangkut hasrat penyair: menghadirkan seni ke dalam bentuk puisi. Rapikan kata yang akan terpakai, bukanlah mengerkah hiasan sebagai inti kehadiran.


Kenyataan telanjang tanpa baju adalah "pornografi". Hiasan lalu menjadi adab badan: ditutupi. Hiasan lalu menjadi adab puisi: tak bergerak sendiri. Kita memerlukan "bunga dunia" untuk mengucapkan tubuh: apa, mengapa, ke mana, si tubuh ini.


Seperti Fang Yin memerlukan sapu tangan, agar dalangnya, kuasa berlayar di air mata kesedihan: negeri, diri.

"Ditatapnya sekali lagi sapu tangan itu, tak lagi putih; tiga belas tahun berlalu. Korek api di tangan, siap membakarnya menjadi abu masa lalu."


"Sapu tangan Denny"

Sejarah didorong Afrizal Malna dalam bentuk: "Sitti Nurbaya berlari-lari", dua imaji mengendap di dalam bahasa, memperlihatkan dirinya. Kita mengimajinasikan tubuh Nabi Ibrahim seperti kita membayangkan Sapu Tangan seraya merenungkan badan Fang Yin (seperti tubuh Tai Tzu Ying-kah? Sosok yang baik hatinya). Nama kuasa membuat fantasi melenting.

Pengalih berupa sapu tangan menjadi titik temu "kejahatan". Hasilnya: bayangan pada kitab suci dan puisi, buah imajinasi, dari dua imaji. Tempatnya di dalam jiwa. Kreasi batin yang menyatukan pecahan-pecahan ke dalam ikatan.

Rasa unik naik, di depan kita api menyala, badan manusia, tetapi berbelok ke sapu tangan. Waktu menjadi jeda-ingatan, tetapi kejahatan sebagai motif menautkan waktu ini: ia nyala di jiwa pembacanya.


Kita menyadari: Allah menulis dari tempatNya yang tersembunyi, seakan-akan beda, tetapi kita mengerti "Sapu Tangan Fang Yin" adalah buah di mana letaknya tepat pasti tak bisa ditunjuk, kecuali seolah sama: Allah? Kita terkenang dunia. Denny JA? Kita teringat dadanya.


Dunia memproduksikan "Kitab Suci". Dada menghasilkan "puisi", dengan imbuhan "esai", yang membuat kreasi Denny menjadi ledakan polemik tapi tak memiliki kedalaman, dari kehakikian puisi sebagai batasan.


Sebab puisi seakan prosa: dunia di mana pagarnya sering bertemu. Bahkan hilang karena dipatahkan penyair lewat mimpi-mimpinya, menampar mereka yang tengah terlelap.


Polifonik yang kita temui, momen dramatis membawa kita ke loncatan imaji demi imaji. Imaji puisi: membayangkan dunia batin Denny merenungi nasib negeri.


Benda-benda di-"tranquility", agar dari keheningannya muncul kejernihan, mengantarkan kita ke segenap arah, masalah.


Sapu tangan, waktu, manusia, peristiwa, dalam jiwa - senyap sepi di sini, hening sekali. Ialah waktu di sebelum puisi. Seperti waktu di sebelum kitab suci: tubuh Nabi Ibrahim as dibakar seperti sapu tangan Fang Yin.

Tapi tak hangus. Justru Namrud yang mati diserang lalat. Sapu tangan dibakar Fang Yin: hangus. Tanda mulai mengambil arahnya.


Kalau kegiatan Seno "melipat senja", mengguntingnya, memasukkannya ke dalam amplop, ingin mengirimkannya kepada pacarnya, kegiatan Fang Yin mengenang Kho kekasihnya, lewat sapu tangan, tetapi telah sama sekali berubah:

ia bukan lagi rasa kasmaran gadis kepada bujangnya, dengan senyapnya dunia yang menjadi sayu, buah percintaan anak Melayu, bersih dari segala ketakutan, murni semata renjana dalam hati, tapi mirip kilatan-kilatan Khotbah Rendra di Orang-orang Kosong Eliot.

Berjalan dari sebuah masa lalu dengan nama prosa liris Pengakuan Pariyem, kesaksian Fang Yin lewat sapu tangannya. Kisah puisi yang disentuh esai, dengan wajah Afrika Yang Resah mengambang: Nyanyian Lawino dan Nyanyian Ocol.

Masihkah puisi yang diangankan "murni" itu? Persamaan dan perbedaan adalah nama-nama perasaan manusia yang hidup sekapal, yakni badannya, jiwanya.

"Kho, apa kabarmu
Aku sendiri di sini
Dulu katamu akan menemaniku
Terutama di kala susah
Itu sebabnya kuterima cintamu
Aku sangat susah hati, Kho
Aku ingin dengar suaramu."

#PINTU MASUK

Apakah puisi esai adalah esai yang dipuisikan, atau puisi yang diesaikan? Gegap gempitanya seperti Polemik Sastra Pornografi, atau Polemik Boemipoetra melawan Teater Utan Kayu.


Mengambil representasi, di Polemik Sastra Pornografi berhadap-hadapan Hudan Hidayat melawan Taufiq Ismail, di Polemik Boemipoetra melawan Teater Utan Kayu, Saut Situmorang melawan Goenawan Mohamad. "muda lawan tua".


Bisa dikatakan keadaannya bergeser di Polemik Puisi Esai: "muda lawan muda". Saut Situmorang melawan Denny JA. Apa, sebenarnya yang dilawan? Apa yang sebenarnya yang terjadi di puisi esai.

Saut menanggapi tiga paragraf Denny ini:


“Di mana keunggulan puisi esai dibandingkan dengan jenis puisi atau genre yang sudah ada? Seorang entrepreneur sejati, tentu saya tak sekadar bergenit-genit membuat sesuatu sekadar baru, asal beda. Hanya sekadar beda, ia tak akan survive.


Keunggulan pertama, puisi esai yang panjang, yang merupakan historical fiction, potensial diangkat ke layar lebar. Semua sastrawan yang kaya-raya di dunia, itu karena novelnya menjadi film laris. Ini hanya terjadi pada novel, bukan puisi.


Puisi esai adalah novel pendek yang dipuisikan. Semua plot cerita, karakter, dan drama yang ada pada novel juga ada pada puisi esai. Dibanding semua jenis puisi yang ada, puisi esai paling potensial dibuat menjadi film layar lebar. Dibanding semua jenis penulis puisi yang ada, penulis puisi esai paling potensial menjadi kaya-raya karena puisinya.”


Tanggapan yang berusaha setia dengan ilmu sastra, tetapi tulisan Saut Situmorang adalah tulisan yang dangkal, hanya bergerak di permukaan: menurut ilmu sastra, padahal ilmu sastra jauh lebih luas dari ilmu sastra resmi yang dimengerti Saut, seandainya ilmu ini dibukakan implikasi-implikasinya yang tidak terduga, oleh ilmu sastra itu sendiri. Dangkal, karena tidak ada kajian kepada buku yang sedang dilawannya. Dangkal, karena ia sangat membatasi dirinya, mengikat dirinya.


Melalui
Atas Nama Cinta
Sebuah Puisi Esai
Buku Denny
kita perluas polemik ini.
Menguji Puisi, Prosa, Drama, adalah caranya.

Melakukan warming up dari jalur yang tak ada hubungannya, ialah entrepreneur serta kaya-raya, yang dibawakan Denny, tetapi ditolak Saut. Apa hubungannya dengan kemungkinan kesanggupan menulis puisi? Sebab, bukankah ia, seperti sastra, adalah seni? Seni dagang, seni sastra, adalah kesanggupan yang tidak saling meniadakan.


Seorang penyair, yang mempunyai kesanggupan bisnis, menggubah puisi esai, bisa sama unggulnya dengan penyair murni yang diklaimkan Saut kepada dirinya.


Puisi, seperti drama, berdiri sendiri, tapi prosa membawakan fiksi (novel, cerpen), dan esai. Puisi esai menyatakan bahwa ia adalah fiksi sejarah, bahwa ia adalah "novel pendek yang dipuisikan".


Batasan yang diterobos oleh Denny, dengan cerdas, mengirimkan gangguan kepada Sastra Indonesia. Saut Situmorang, yang berilmu sastra lama, salah satu yang terganggu.


Seolah anak sekolahan melihat kenyataan berjalan tidak sesuai dengan diktat pelajarannya, Saut meletakkan diri di bawah Denny yang merenungkan sastra, puisi, esai, novel serta cerpen lewat kata "fiksi" dengan imbuhan "sejarah".


Memperberatnya dengan memasukkan "novel" ke dalam "puisi". Lengkap sudah "penderitaan" Saut untuk mencerna "permainan" Denny, saat kata entrepreneur dimasukkan sebagai latar bagi puisi yang dimelarkan.

Fiksi menyambut melarannya. Puisi sebagai sebuah dunia, tak kuasa bertahan walau ia meninggalkan jejak, misalnya konvensi persajakan yang membedakannya dengan prosa, tempat fiksi ini berada. Dengan demikian apakah puisi berbelok menjadi apakah fiksi, celah yang dengan lihai dimasuki Denny, untuk muncul dengan puisi esai.


Apakah fiksi? KUBI memuatnya, Ensiklopedi Sastra Indonesia juga memuatnya, mereka menyatakan tentang dunia rekaan. Jadi walau disambut dengan bentuk (genre), setiap bentuk ini adalah dunia rekaan.


Puisi mengimajinasikan, Prosa juga, membayangkan. Benda bergerak ke dalam bahasa, menjadi imaji dengan, sekali lagi, bentuk menyambutnya. Apa pun bentuknya, hakikatnya tetap: (sebagai) dunia rekaan. Kalau sastra memakai kata, maka kata itulah rekaan.


Sastra bergerak ke induknya, Seni, seperti sayup-sayup karena keterbatasan mengeksplorasi, Saut juga melihat pergerakan Sastra ke Seni ini, dalam tulisannya ("Angkatan Puisi Esai Denny JA"). Kalau foto memakai gambar, kata senyap, tertidur di dalam warna.


Hasrat Pound untuk memakai kata setepat-tepatnya bisa kita renungi saat bukan hari yang dipakai Rendra (semoga almarhum dalam lindungan Allah yang baik) tapi satu.


"Di satu Minggu yang panas".
"Di hari Minggu yang panas".


Minggu itu adalah hari, sehingga "hari" menjumbai Minggu kalau ia diikutkan. Hari lain dengan satu, yang membawakan imaji lebih khusus. Keumuman kini bergerak ke khususan. Di sebuah Minggu, ada seorang Padri muda yang dibunuh oleh jemaatnya. Kita teringat ucapan Fang Yin.


"Aku sangat susah hati, Kho
Aku ingin dengar suaramu."

Kita kembali ke fiksi untuk menjemput puisi. Mengambang di esai serta novel. Khotbah adalah puisi, Rendra yang menuliskannya. Sapu Tangan Fang Yin adalah puisi, Denny JA yang menggubahnya.


Esai, bukanlah rumbainya, sehingga saat ditautkan dengan puisi, esai ini, ia bukanlah hiasan puisi, tetapi sebuah organisme baru: puisi esai, genre yang menyimpang, dari puisi konvensional.


Kesetiaan kepada pengertian ada batasnya, karena pengertian itu sendiri di kedalamannya memiliki kandungan lain, kandungan pengertian yang kita pagari berbeda itu. Pengertian puisi membatasi puisi, pengertian prosa membatasi prosa. Juga drama. Lingkup ilmu sastra yang ditalikan oleh teori ini bukanlah pagar kokoh berdiri sendiri, sebaliknya: saling mengumpan, saling memberi.


Puisi meminjamkan dirinya kepada prosa, dan esai menerimanya. Puisi kembali lagi ke batasnya sendiri: dunia rekaan, dan esai memelarkan dirinya, termasuk, sejarah, batas yang dihujamkan Saut Situmorang kepada Denny JA. Prosa mengisap puisi, puisi mengisap prosa. Mereka saling mengusap dengan kata serta tanda baca sebagai sarananya.


Kungfu Denny JA jauh lebih ulung ketimbang kungfu Saut Situmorang Menari di sela-sela batas itu, dalam esai, sebagai ilmu - ilmu sastra. Denny menari di dalam puisi - puisi esai. Perlawanan Saut kita kutipkan agar dua irama kaki yang menari dalam sastra ini menjadi jelas.


Tuduhan-tuduhannya justru terasa menggelikan, karena begitu berat beban tubuhnya untuk mengikuti dunia yang menjulur maju, dunia idealis yang dibangun Denny.


Penyair ini beruntung, memiliki sumberdaya yang kuat untuk menyokong ide-ide pembaruannya di dalam puisi, menggerakkan Sastra Indonesia, ke arah idenya. Saut terlihat tambun, dengan ilmu, berat melangkah, setia dengan dogma ilmu.


Ia begitu awam dengan kekuasaan kata, kemungkinan-kemungkinannya, yang berada dalam lingkup misteri bahasa dan dunia. Sampai pada taraf naif.


"Ini sebuah puisi", ujar novel Stasiun membuka ceritanya, lukisan tentang hari dengan lanskapnya, rawan. Putu Wijaya menyusun kalimat-kalimatnya seperti prosa yang jadi kutipan Saut. "Tuhan adalah seniman tak terduga" ujar Rendra. Rendra menyusun baris-barisnya secara puisi. Itulah "Kupanggil Namamu."


Novel, prosa itu, saling melambai dengan puisi. Saut mengakui persinggungan-persinggungan semacam ini. Tetapi apakah puisi esai adalah puisi? Ia puisi esai. Ia puisi tapi disentuh esai. Ia esai tapi ditarik puisi. Mana buktinya kata Saut?


Penyair yang mengesankan mengerti sastra ini, seperti novelis Budi Darma yang menyerahkan kepada waktu saat ditanya "bagaimana, dengan tiba-tiba, sastra kita dihadiri oleh novel post novel", gubahan sepasang penulis, melibatkan gaya yang sedemikian merombak corak novel Indonesia. Biarlah waktu yang menilainya, katanya dalam sebuah wawancara di Koran Tempo.


Bedanya: Saut hanya bertanya: sudahkah dibuktikan bahwa tulisan Denny JA itu memang puisi esai. Ia tidak memiliki hasrat untuk membuktikannya sendiri. Saut, hadir di sastra Indonesia hanya untuk menambal "mutu puisinya yang pas-pasan", dengan cara berteriak sekencang-kencangnya.


Esai dipakai Denny, gerak, untuk melonggarkan bentuk puisi. Ia, bukanlah gerak yang baru. Keterangan tentang Puisi di Ensiklopedi Sastra Indonesia, seperti keterangan bahan dari luar juga. Bahwa, sistem persajakan pada puisi, telah ditarik oleh para penyair Indonesia - ke prosa, di antaranya.


Pada puisi itu sendiri, sebagai bentuk, bukan saja prosa absen, puisi(nya) pun menghilang. "Sistem persajakan", yang membuat puisi menghilang, melalui tipografi yang menjadi bahasa puisi.


Masih adakah irama, matra, rima, pada puisi yang sudah menjauh dari "puisi"? Kalau kita tanyakan apakah motif dari diberaikannya puisi oleh puisi, jawabnya tak lain adalah kebaruan. Masyarakat berkembang, individu penyair ikut berkembang. Apakah yang aneh kalau alam ini sendiri, memuai.


Tetapi Saut diam di tempatnya, tidak berkembang. Betah di kubangannya. Saut tertib berbahasa, tapi dangkal dalam isinya.


Keniscayaan terlanggar, melanggar, melekat pada setiap kebaruan. Saut menjadi paradoks di sini: di saat ia mengakui batas-batas yang saling memasuki antara puisi dan prosa, pada saat itu pula apa yang diakuinya dibatalkannya atas nama batas, pengertian.


Dua poin pernyataan Denny JA:

1) historical fiction,
2) puisi esai adalah "novel pendek yang dipuisikan",

ditertawakan Saut. Tapi kita geli sendiri: tidakkah Saut yang pantas ditertawakan? Ia menerima batas sekaligus membatalkannya. Ada yang salah dengan cara berpikir Saut: ia bukan dikuasai ilmu tetapi dikuasai nafsu - untuk memberontak tapi asal memberontak.


Pemberontak sejati akan memasuki bahannya, dalam hal ini puisi esai, lalu menolaknya, karena tidak setuju. Mungkinkah Saut Situmorang yang menjadi isian tulisan Budi Darma dulu: "pemberontak dan pandai mendadak"? Suaranya tidak punya nilai sama sekali.


Sedetik berlalu sudah menjadi sejarah, tegas #IwanSimatupang, berfilsafat dalam novelnya, Ziarah. Angka "umumnya 50 tahun" yang disetia Saut karena begitulah biasanya novel sejarah didefinisikan.


Tapi atas nama kebaruan, apa yang umum ini bisa saja diberaikan. Mei bulan yang penuh nestapa di tahun politik kita, ditarik Denny JA untuk dibentukkan: puisi esai adalah novel pendek yang dipuisikan.


Di mana novelnya? Menjadi pertanyaan sekaligus melihat bagaimana esai dalam puisi, puisi dalam esai. Kajian isi yang diabaikan oleh para penentang puisi esai, hal yang kini kita masuki.


Novel, bagian dari fiksi, fiksi, bagian dari prosa. Di sinilah esai masuk menjadi puisi - puisi esai. Karena prosa juga bentuk berirama, matra serta rima - sistem persajakan itu. Di mana baris di luruskan menjadi kalimat.


#ATAS NAMA CINTA

Mata Sapardi yang tak terlalu jauh memandang. Pandangan profesor ini pendek. Tapi benar.


"Novel pendek yang dipuisikan" itu diintip oleh batasan dalam sastra yaitu novel - karena ia puisi. Puisi Novel. Karena ia esai. Puisi esai. Lorong-lorong yang tersedia dalam prosa, kotaknya adalah fiksi, adalah novel. Bentuknya lebih rumit dari cerita pendek, karenanya lebih panjang.


Bab awal novel Telegram, asalnya adalah novel. Putu ingin kawin, ia butuh uang. Cerita pendek itu, katanya, titiknya ia hilangkan, di akhir cerita. Musik di telinganya, menulislah pengarang tenar kita ini, memanjangkan cerita pendeknya, jadi novel Telegram.


Romi dan 'Yiyi' dari Cikeusik, mengambil pena estafet dari tangan puisi Fang Yin, menghelanya lebih jauh, lebih luas, Atas Nama Cinta pun, karenanya, lebih rumit. Tangan Denny JA mengambil kerumitan itu, mengusapnya ke dalam puisi.


Bagian fiksi kini merapat karena tugasnya, bersama puisi, mengolah patahan-patahan. Ialah esai, yang bersama puisi, dihayati Denny, mengucapkan patah-hati.


Patah hati tentang apa? Apakah temanya? Bagaimana tema ini dibentukkan, inilah tugas ilmu, dengan teorinya.

Kalau puisi esai berkata: aku ini puisi esai, maka ilmu tak perlu buru-buru bereaksi: ah, masa sih? Tapi masuk meneliti untuk membuktikan. Bukan minta dibuktikan, Saut.


Puisi esai memang fiksi sejarah karena "Mei" itu memang ada di hidup kita. "Iwan" telah membatalkan "Saut", masuk akal karena setiap peristiwa yang telah terjadi adalah bagian dari masa lalu.


Prosa adalah puisi dalam esai sebagai fiksi: rekaan pada masa lalu yang disambut oleh bentuk puisi yang agak melonggarkan sistem persajakannya.


Ada memang terkait pada sejarah bahasa. Nama menjadi rapuh karena ditarik oleh kata - dalam istilah di awal tulisan ini: kata tak pernah tetap di tempatnya.


Penyair Sapardi Djoko Damono menulis Epilog di buku Denny. Profesor sastra ini menari dengan definisi melalui kata fiksi yang fanatik dipegang Saut apabila berbicara tentang sastra.


Kita pernah menggodanya lewat sedikit "menyimpangkan" nama puisinya: "Saut Kecil ingin Mencari Hudan", Saut tak senang, atas nama definisi yang menjadi diktat berpikirnya.


Dari kejauhan kita tertawa, seolah melihat anak kecil yang begitu terusik saat pengertiannya diberantakkan.


Apa kata Sapardi? Sapardi seperti kita: ia pandai menari melewati kata, walau kadang kakinya tak begitu kuat. Kakinya tak tahan, misal menghadapi Aku Ini Binatang Jalang, buku Chairil. Kakinya pendek, sependek matanya.


Jangkauan tangan serta mata Profesor ini seadanya saja, tapi benar. Bukan seperti "mata" Saut: lantang, tapi salah.


"Karangan Denny ini puisi –itu jelas, karena antara lain ditulis dalam bentuk visual yang berupa larik yang dikumpulkan dalam bait. Dan puisi adalah fiksi, artinya karangan yang bersumber terutama (dan kadang-kadang se-mata-mata) pada imajinasi dan kreativitas. Betapa dekatnya pun kisah yang ditulis Denny dengan segala sesuatu yang pernah terjadi, semuanya adalah fiksi karena bersumber pada imajinasinya. Bahwa imajinasi biasa dipicu oleh segala bentuk peristiwa, itu tentu kita pahami. Itulah yang saya baca dalam karangan Denny ini."


Begitulah #Sapardi, bersama #Sutardji, dan #Ignas, menulis Epilog di buku Denny. Penyair yang matang ini sudah bisa menari dengan definisi, diktat yang diacukan Saut. "Puisi adalah fiksi", dunia rekaan, dunia imajinasi. Kreatifitas memandunya.


Kalau puisi adalah fiksi, apakah prosa cerpen, prosa novel, bahkan prosa esai, adalah fakta? Pengertian-pengertian standar ilmu itu masih di tempatnya, tapi perspektif sedang maju ke muka yaitu rekaan, imajinasi, fiksi. Agak sedikit menyimpang: sungguhkah kitab suci itu adalah fiksi? Jawabnya dimulai dengan pertanyaan: kitab suci yang mana? Al-Qur'an?


Hal yang dihindari #RockyGerung ini justru akan kita masuki: Al-Quran bukanlah fiksi, dalam perspektif rekaan, imajinasi. Tetapi fiksi yang mengandung fakta: rekaanNya, imajinasiNya, menjadi nyata, fakta. Inilah yang membedakan rekaan turunan, imajinasi turunan: ia tak kuasa menghasilkan kenyataan. Maqamnya hanya berhenti di rekaan, di imajinasi. Betapa dekatnya peristiwa yang disampaikan Denny dengan kenyataan, ujar Sapardi, ia tetap rekaan, muncul dari kreatifitas imajinasi Denny JA.


Selain soal bentuk, nama, yang tak lazim, sebenarnya, yang menarik dari kemunculan puisi esai ini adalah "atas nama cinta" itu, temanya. Soal-soal pengertian sastra yakni Puisi, Prosa, dan Drama, telah kita atasi dengan cara, seperti Denny, menari, maka puisi novel menjadi bahan untuk menyelam di, sebenarnya, harus bagaimana dengan, Atas Nama Cinta?


Memindahkan "kontroversi" ke sini, inilah yang harus dilakukan kritikus. Tak perlu berlari ke sana ke mari mencari, melihat, apakah puisi esai. Tetapi bagaimana "atas nama cinta" dibahasakan oleh Denny menjadi puisi novel. Kalau puisi esai adalah novel pendek yang dipuisikan, maka kelima bagian kisah Denny ini, adalah lima tokoh yang hidupnya mengada di "atas nama cinta".


Karena itu: apakah maksud novelis ini dengan Atas Nama Cinta? Ia rangsangan bagi Teori Sujud Li Sajidin untuk menjawabnya. Kontroversi sejatinya ada di sini, bukan di dengung para penyair lama pelawan penyair puisi esai, mereka yang tersentak, kaget terkejut dari tidurnya. Mendapati Puisi Indonesia kok ditulis seperti Denny JA menulis.


Biodata Penulis:


Hudan Hidayat, sastrawan dan esais 



Posting Komentar

0 Komentar