Recents in Beach


Komposisi

 



Oleh Hudan Hidayat

#TeoriSujudLiSajidin

#Bismillahirrohmanirrohim


"Ada Yang Menyelamatkan"


1

Komposisi

Gerak menuju ideal menghasilkan poros yakni kata ideal, logika, atau hal, yang kita sarikan dari Al-Qur'an, dan menjadi renungan teori imitasi Plato dalam The Republic Book X, memikirkan form atau idea, yang ideal. Penyimpulan ranjang awal dibuatNya, sedang pengrajin membuat dari ideanya, form dalam pikirannya, meniscayakan sarana, mekanisme, yang merujuk ke bahasaNya (sarana), serta bagaimana Ia mengajari manusia, sesuatu yang tak dimiliki oleh bab dari The Dialogues of Plato (terjemahan W.H.D. Rouse).

 

Kita percaya Ada bergantung denganNya, dikendalikan prinsip ideal. Poros yang bergoyang, sebelum diuji menuju kemantapannya, menetapkan titik pasti karena idealnya. Melukiskan lebih dahulu yang ideal dalam keseluruhan dimensinya adalah kebutuhan yang niscaya.

 

Yang ideal meliputi dunia nyata, dunia bahasa. Dunia nyata adalah dunia di luar bahasa. Dunia bahasa adalah dunia nyata yang berpindah ke dalam bahasa. Menjadi ilmu. Menjadi sastra. Menjadi puisi menjadi agama. Yang ideal mengayominya. "Bidang" Kitab Halaman tidak tentu "titiknya", memungkinkan "garis lurus" ditarik. Bidang dengan banyak titik-titik terhubung, langsung atau tak langsung, bidang melingkar.

 

Untuk apa menetapkan titik? Garis-lurus apakah yang bisa ditarik? Untuk memastikan yang ideal. "Kubaca lagi", mengandaikan si aku-titik ini telah pergi, tetapi kini ia kembali, "mulai" melihat bidang-rumahnya, titik-titik tempat ia bergerak, meninggalkan jejak-garisnya adalah tema. Penyair mengisinya, usaha mengisi tema adalah ikhtiar membaca diri sendiri. Yang ada adalah gambar: putik-putik telah pergi. Ruang waktu tempat putik-titik ini pernah mengada, kini menyisakan ingatan, tergambar di dalam jiwa, sebelum menjadi putik-kata, imaji dalam bahasa. Menjadi putik-puitik. Hidup menyingkapkan diri, dalam kebajikan seni.

 

Si aku mendapat pencerahan setelah jauh berjalan, mendengar kemungkinan yang dekat adalah kepastian, sebelum diragukannya lagi. "Apakah patik tengah bermimpi atau terjaga?" katanya. Kata, saat ditarik, mengapa menjadi tanda? Kesediaan kata lain untuk meluruskan garisnya, bukanlah hal aman bagi puisi. Bermain di dua gelumbang dalam satu bidang bahasa itulah Kitab Halaman, turunan dari Sabda Ruang. Ada titiknya, mencong ke kiri karena garis tak hendak lurus, garis yang membatin: betapapun langkah-titikku bergerak ke kiri, toh garisnya lurus juga. Sebab yang ada hanyalah garis, sebelum ia patah, sedetik-sejenak toh identitasku adalah garis, lurus menuju patahannya. Kata, mengerjakan misi ini. Dengan duka atau bahagia. Sengsara.

 

Patahan sadar adalah tak sadar, waktu bagi puisi bersajak ke kanan. Bukankah, ia adalah gerak ideal? Ideal untuk mengembalikan aku ke muasalnya: dunia dekat yang ia akrabi. Saat Adam bersama Hawa mendekati pohon yang dilarang Allah untuk didekati, apa yang ideal itu, terguncang. Ada misteri di sini, semacam siasat, pernyataan Allah memainkan gerak paradoks. Di satu sisi "berdiamlah kamu di surgaKu ini."

 

Di sisi lain "Kami akan menurunkan kamu ke dunia." Selanya adalah enigma: bukankah Adam dan Hawa tidak mungkin, kuasa bertahan dengan perintah "Jangan dekati pohon ini." Pohon musti didekati karena tarikan keniscayaan: nenek moyang kita itu memang akan diturunkan ke dunia. Jadi, sin qua non. Di sinilah misterinya, teka-teki terkunci di ayat-ayat mutasyabihat, tak kunjung menjadi ayat-ayat muhkamat. Misteri menjadi daya tarik hidup ini. Misteri kelak menjadi daya tarik puisi. Misteri bagi sebagian manusia: makin memegut eksistensi Sujud Li Sajidin kepada Allah.

 

Sebagiannya lagi membangkang. Atau: tidak senduli. Kamus memuat arti kata, makna, yang ideal ini. Tetapi dunia nyata memperagakannya di dalam peristiwa. Keadaan tubuh harus ideal agar sehat. Tubuh terlalu banyak makan, sampai tambun, tumbuh mengambil hak orang lain, sampai kurus, tak ideal: badan sakit, jiwa, ikut sakit, karena bereksistensi tidak ideal. Idealnya: waktu di bumi 24 jam seperti saat ini. Di luarnya idealitas kehidupan mulai terganggu. Jadi kalau di dunia nyata ideal itu sembunyi di dalam peristiwa ada (ada manusia dengan tubuh dan jiwanya, ada tumbuhan pohonan sungai lautan dengan hewan-hewan jinak buas di antaranya), pada bahasa ideal adalah gemanya. Bahasa menjadi ideal apabila menggemakan kenyataan dalam dirinya.

 

Kalau ia menyimpang, penyimpangan menjadi turunan karena dunia nyata adalah permainan tarikan, dari ideal dan timpang, tak ideal. Dengan kata lain nasib, riwayat ada, adalah perpanjangan serta perluasan dari ketaksanggupan Adam-Hawa saat tubuhnya belah ditarik oleh paradoksNya. Kalau Brooks berkata bahasa puisi adalah bahasa paradoks, maka yang ideal ini membuktikan terus-menerus hipotesaNya: Kami mengajari kamu bahasa. Onomatopi ada di kawasan ini, saat tubuh tua kita itu meratap, atau bernyanyi - hari sedih, hari cerah, adalah wajahnya.

 

"Sepasang sunyi"

Mengambang sebagai enyambemen "sepasang" menjeda dirinya dari "sunyi". Ruang kosong tercipta darinya - milik pembaca. Gema memanjang dari sepasang sebelum sunyi menangkupnya menjadi ledakan imajinasi, bahwa sunyi dalam konteks arti bahasa yang berelasi dengan tubuh memperlihatkan keberadaan diriNya sebagai mirruhi. Begitu jauh ia dari kesadaran kita, atau nyaris ia tidak kita sadari sebelum baris puisi Ahmad, tanpa bermaksud seperti yang kini kita maksudkan, menangkap sunyi dalam angka: sepasang, membawa kita kepada makna keberadaan ruh dalam tubuh. Tak sesunyi yang kita kira.

 

Ada "orang lain" di dalam tubuh kita itu - adalah Dia: sepasang sunyi bersama makhlukNya. Tanpa disadari saya telah ditarik rima awal yang ketat, sehingga "mulai" menghilang dari Kitab Halaman, puisi Ahmad, tidak lagi terpasang sebagaimana Erwin memasangnya: "Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku." Kemungkinan-kemungkinan imaji, dipilih penyair, adalah kata. Imaji-imaji tumbuh dari dunia di luar bahasa: benda (hal ihwal).

 

Ia di sana, di luar diri penyair. Bentuknya adalah rumah dengan halamannya, pagar batu, serta bunga. Inilah benda-benda itu, di samping "aku-lirik" yang mendapatkan tekanan pada matanya: "membaca", tempat kata mulai meluas: ada huruf-huruf rupanya, di sekian benda-benda yang disebutkan Yulden. Huruf-huruf yang tenggelam di benda-benda, yang dibacanya. Huruf-huruf tiada, tetapi benda-bendanya ada, timbul dengan cara bersembunyi di benda-benda, saat penyair mengaktifkan aku-liriknya.

 

Misteri kematian kehidupan ditunjukkan oleh gejala bahasa. Ada tiada timbul tenggelam di tengah kita. Mewartakan yang jauh, dalam posisinya yang sangat dekat: bahasa. Memperlihatkan kenyataan unik. Jiwa pikiran, terbedakan dengan bahasa; kenyataan mulai kabur. Selajurnya adalah keindahan, kemaknaan. Bentuk isi. Diintip baik buruk, jalin menjalin, menjelmakan misteri. Remang-remang karena lapis melapis, impit mengimpit. Seolah kisah Kitab Halaman, gerak surealistik dalam puisi, yang kita hadapi. Betapa pun mantapnya teori bahasa Saussure, benda-benda, distingsi dengan kata. Tak kita sadari, "ilmuwan semu" yang tengah mengatribusi, sebenarnya, adalah kombinasi tak terpisahkan dari benda dan kata, komposisi. Semantap pengelihatan Avram Noam Chomsky, Bahasa dan Pikiran. Tetapi pikiran, atau kata: halaman, rumah, ku, itu? "Kerajaan bunyi" ini masih tetap bunyi saat dilisankan, makin menjadi bunyi saat dituliskan.

 

Benda yang diam, berbunyi di dalam kebisuannya. "Pagar batu" itu di sana, di luar diri penyair yang kini menyeberang - jadi aku-lirik dalam puisi. Apakah aku-lirik ini "bunyi"? Atau: material tubuh dengan mirruhi sembunyi, dalam dadanya. Menyeberang dari Sabda Ruang, atau bergayut dari Sabda Ruang, semesta mengecil sebelum ia mengembang (puisi mengembangkan dirinya), menjadi Kitab Halaman. Keadaan jauh, dunia, dipanggil, menjadi dekat, rumahnya. Aku menyimpulkan hidupnya melalui bahasa: puisi.

 

Kita berpikir, tetapi bisakah kita berpikir tanpa bahasa, tanpa kata. Puisi melonggarkan sistem persajakannya, mengembalikan segalanya lagi ke tempatnya semula ialah kata. ialah saat "Creating of Meaning" bergerak mundur, menjadi "before-Creating of Meaning", rumah batin penyair yang tengah menduga apakah gerangan isi Kitab Halaman-nya. Atau: isi Sabda Ruang-nya. Sajak adalah cara bahasa mempuisikan dirinya, tetapi dengan begitu ia menuju dunia ideal. Seideal misteri ini: saat pikiran disebutkan, bahasa muncul. Saat bahasa dimunculkan, pikiran timbul. Saat Tuhan meniupkan ruhNya, tubuh hidup seperti saat penyair menggerakkan pikirannya dengan bahasa: puisi, mengada. Melintasi dunia, membawakan dunia, ke dalam sajaknya. Seperti kita melintasi Chomsky karena digoda pikiran yang tak lain adalah bahasa, bahasa adalah pikiran, sehingga "dan" yang dipakai profesor linguistik dari Amerika ini, mesti ditanggalkan. Ia, adalah pikiran bahasa. Ia adalah bahasa pikiran, betapapun distingsi menghadangnya.

 

2

Poros

Saat benda menjadi kata, sering tak kita sadari, bahwa dunia kini telah melompat menjadi bahasa. Bahwa ia telah menghilang: yang ada kini sepenuhnya kata: imaji. Akibatnya batas tenggelam, ditenggelamkan kata. "Lima rumpun seruni" bukan "lima rumpun seruni" lagi, tapi imaji tentang "lima", "rumpun", "seruni": lima rumpun seruni. Penyair terkurung di dalam bahasa, masuk ke dalam kata. Ia bukanlah Allah yang pandai membuat imajinasinya menjadi benda, di luar tubuhnya. Hanya imaji di dalam aku-liriknya.

 

Metaforanya bukanlah ilmu bayan saat Ia seraya mengimajinasikan, memetaforai, nama-nama itu serentak diadakan, jadi nyata. "Sebutkan nama-nama yang Kudatangkan ini, Adam. Sebutkan, Hawa." Adam pun menyebutkannya, nama-nama, menjadi ingatan di dalam kenangannya, genetik yang sampai ke tubuhmu, ke jiwaku. Itulah sebabnya etimologi Yunani, India, China, Jepang, Afrika, bukanlah batas tegar karena Sejarah Bahasa terus memintanya mundur - sampai kepadaNya.

 

Aku, yang mengajari kamu itu berbahasa, #Derrida. Bukan kamu. Aku yang melemparkan kata ke palung jiwamu. Maka mengapa mendustakanKu? Bukanlah Ahmad, memilih matra, tapi matra menjadi genetik dalam jiwanya. Kata terpilih lewat ledakan, denyut dalam jiwanya. Gelombang puisi memulai persajakannya. Rima, tak ada tanpa kata yang entah bagaimana caranya bermain suku kata, panjang pendek menempuh jalannya, meternya. Membentuk keadaan terpisah "ki", "ni" untuk disambut gema "mu", "lai'. Terus menggemakan dirinya, membentuk irama dari rima yang tercipta oleh matranya.

 

Tekanan pendek-pendek "ku, "ba", "ca", yang ditunggu "la", "gi". Terciptalah nada merdu dalam puisi dari kata yang bersajak ini: "Kini mulai kubaca lagi", "halaman rumahnya sendiri". Tekanan agak memanjang, dalam dua berimbang: "halaman", "rumahku". Ada pikiran di situ, tetapi ada emosi di situ. Ada dunia ideal di selanya: puisi, lewat sistem persajakannya, membagi pikiran dan perasaan, komposisional, memikat pembacanya. Tema, pokok yang dibicarakan penyair, kita ketahui dari laku aku dalam puisi. Kitab Halaman memikat karena menggabungkan antara bahasa (kitab) dan benda (halaman), yang sendirinya menarik hati seperti telah kita ucapkan: benda-benda tersuling menjadi bahasa. Tidak ada benda lagi di puisi, melainkan imaji. Tidak ada "halaman" di "kitab" karena ia telah menjadi putik di dalam jiwa. Kehadirannya beralih-alih - tak tetap di tempatnya. Kiasan-tanda menampungnya, atau prosa diambil oleh puisi: aku yang diseolahseakankan kitab dengan halaman hidupku. Itulah soalnya, tapi bagaimana soal ini ditulis, itulah bentuknya. Bentuk yang menarik hati karena semesta, jauh, dunia, telah berhasil ia kecilkan, menjadi kitab, halaman, yang dekat, yaitu hidupnya, rumah dengan segala isinya. Tapi bukan kamar melainkan halaman.

 

Kita melihat dunia polifonik dari letak kata yang melar melingkar: halaman itulah kamar hatinya. Si aku membahasakannya melalui benda-benda di halaman rumahnya, dunia dekatnya. Membayangkan si aku diucapkan oleh si dia, dalam puisi. Adalah hasrat untuk kembali - ke alam, ke asal. Kata ingin kembali lagi ke muasalnya yakni benda. Manusia meminta benda-benda mengucapkan dirinya. Tetapi benda-benda ini sebenarnya telah menghilang - mereka tersuling menjadi kata bukan benda lagi. Bukan benda melainkan kata - si aku bergetar di selanya, tegangan-tegangan yang kita rasakan. Bahwa kata ingin dimurnikan - atau benda yang ingin dimurnikan? Sebenarnya siapa menyuling siapa?

 

Siapa menyuling apa? Puisi mengalami tekanan ini. Usahanya meloloskan diri kita ketahui lewat pengertian sadar dan tidak sadar - terjaga, katanya. Manusia sekejap dalam dunia batas. Atau manusia adalah dinamik dalam dunia batas. Pikiran (dan) bahasa itu datang lagi: berimpit mengalihkan dirinya sebagai puisi. Menjadi puisi. Apa yang real dalam kenyataannya unreal. Terkurung di tempatnya, sebenarnya, eksistensi apa yang sedang diperagakan oleh puisi? Mengapa ia menegasikan dunia dekat yang diafirmasinya? "Apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga?" Konsisten mendekatkan, menjauhkan. Bahkan sampai akhir puisi: "Apakah patik masih bermimpi atau terjaga?"

 

Barangkali kita bisa menghidu dari kunci ini: "Tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata", akan permainan "jauh dekat" dalam puisi. Semacam asing yang akrab. Benda-benda yang terlihat sudah kita kenali, kembali menjadi samar. Seolah Dia, terasa dekat, kita kenali, tetapi saat mata hendak memastikan, ia menjadi puisi dengan benda-benda yang diragukan oleh Kitab Halaman. Sabda Ruang, yang mensugesti kita memikirkannya, usaha "benda jatuh", hendak kembali.

 

3

Ahsana

Melingkar, mengambil benda-benda kecil, mensejajarkannya. Memisahkan benda-benda kecil, memungutnya, menyimpangkannya - agar makna "melompat" ke dalam puisi. Makna apa? Puisi mulai mendapat tekanan: makna apa yang memperkaya hidup kita ini? Kata memperkaya ditunggu menyelamatkan. Kaya, tapi tidak selamat, apa gunanya? Kaya adalah varian ideal, menuju keselamatan. Dari pohon apa kata selamat, turun? Ia mengarahkan ke muasal, "critical eye", yang lain.

 

Keadaan awal. Puitika tak cukup lagi bertudung imajisme, surealisme - absurdisme. Pecahan-pecahan kesakitan. Dambaan-dambaan kebahagiaan. Dihadapkannya "reality and unreality, reason and irrationality, reflection and impulse, knowledge and ‘fatal’ ignorance, usefulness and uselessness", akhirnya ditunggu oleh "critical eye" lain, Breton, langit lain, Andre: langitNya. Ada garis lurus di dalam titik, betapapun kecilnya. Garis lurus yang melingkar.

 

Penyair dikuasai garis lurus di dalam titik yang melingkar ini. Percaya dan meragukannya. Titik, membawanya melingkar. Terapung dalam garis lurus yang melingkar. Usaha Ahmad, Yulden, Erwin, tahap-tahap kata, langkah-langkah makna, komposisi. Tangga-tangga dalam dunia, naik ke porosnya. Retorika menyisiasati bahasa, kata, pelakunya, termasuk, tanda baca dalam puisi. Langkah memperindah hidup ini, miring ke kiri. Tak miringkah langit itu saat, ibu bapa kita, miring ke kiri? Seperti Kitab Halaman saat ini, mengitari Sabda Ruang-nya, menegaskan, mata kirinya, tubuhnya sendiri karena ingin melihat, lagi, tubuh tuanya sebagai muasal, terkomposisi, mata kanannya yang tengah menjelma, mata kirinya yang tengah mengalih, halaman untuk tubuhnya sendiri.


"Kini mulai kubaca lagi halaman rumahku", yang disambut tubuh tuanya: "pagar batu, lima rumpun seruni, sepasang sunyi" yang telah kita tarik ke arah "mirruhi". Kini kita membacanya sebagai bahasa, puisi, yang telah keluar dari jantung hati. Memicing dari manifesto kedua Andre Breton karena usaha memperindah yang memiliki sandaran sangat esensial: bahasaNya: A-Sajdah, Sujud (ayat 7). "Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan, yang memulai penciptaan manusia dari tanah."

 

Ahsana berlapis-lapis, bertingkat-tingkat seolah puisi, menempatkan perpanjangan aku-Ahmad Yulden Erwin menjadi aku-lirik dalam kitabnya: Sabda Ruang. Menangkap gerak estetika Plato, mimesis, sebagai tubuh muda yang hendak kembali ke tubuh tuanya. Aristoteles menggoyang hasrat gurunya yang naif ini. Kota menjadi muasal renungan puisi. Manusia di dalam kota, menjalani nasibnya, antara lain: membuat pengertian, merumuskan: apakah mimetik itu, imitasi itu. Seperti gerak Erwin menafsirkannya, mempercanggihnya - atau kalau kita kembalikan kepadaNya: memperindahnya. 

 

Sujud adalah rumahnya, segala yang indah, semestinya di rumahNya ini. Saat ia berdiam di dalam puisi, kilatannya kita temui lewat hasrat penyair, yang dibimbingNya. Tanpa disadari penaNya sedang menyelinap ke dalam puisi. Poros menghidupi, dengan demikian heliosentris mengada dalam puisi. Cukup mencari mana cahaya, seperti cahaya di kitab suci, bagian-bagian mengelilingi porosnya. Bagian yang pandai menyeberang, seperti Barthes, Kristeva. (kata) "memperindah" ditarik "pena", yang menuliskan. Terimpit tangan, karena pertemuan: "bukan kamu yang menulis, Kami yang menulis", gema memanjang dari: "bukan kamu yang melempar, Kami yang melempar."

 4

"Menyelam"

Di manakah awalnya putusnya hubungan Dia dan kita? Mengapa halaman hanya diarahkan ke benda-benda fisik, awalan yang bagus dari niat: kini mulai kubaca lagi diriku. Puisi ini mebawakan janji dari pandangan idea ideal, form. Tapi ia mengecewakan pembaca yang meminta lebih, hanya mengambang, seperti Plato, di permukaan padahal telah berenang ke tengah. Tapi, tidak menyelam. Kitab Halaman senapas dengan Perenang Buta, penerusnya, hanya berhenti di tengah. Adalah keterbatasan Plato, walau, inderanya telah dipertajamnya, mata: "dim eyes often see things before sharp eyes do." (Indahnya, tulisanmu, Plato, tapi tidak cukup indah untuk perlombaan mengikhtiarkan Kebenaran, ini). 

Oleh bahannya, filsuf ini tidak mengenal nun dengan baik. Nuun yang mekar, jadi: "Demi pena, apa yang mereka tuliskan." Keadaan bed-benda seolah situasi "sepasang sunyi" Erwin: tiga larik haiku berlari memeluk, tetapi hanya terpeluk: ranting petai cina. Bukan, terpegut: Dia. God hanya menjadi hiasan di dalam idea ideal Republic. Seperti pembuka, Erwin menyebutnya Prolog, Sabda Ruang ini ialah: kemungkinan mengatasi benda yang telah dibawa ke dalam pikiran, terdampar, pada: apakah Tuan tengah bermimpi atau terjaga? Terkunci, di: tiada batas kecuali dalam pikiranmu semata. Kembali ke tubuh-benda lagi. Tak maju.


Biodata Penulis:


Hudan Hidayat, sastrawan dan esais 






Posting Komentar

0 Komentar