Recents in Beach


Cerita Pendek Aminati Juhriah

 

Cerita pendek Aminati Juhriah


Aku Menempel di Kerudungnya

        Kusibak tirai malam ketika fajar. Cahaya rembulan sudah kembali. Embun di daun-daun, dingin. Setia menanti matahari.
        Aku adalah bongkahan kesepian di atas batu. Menatap terpaku, matahari tergelincir. Waktu: pada matanya pecahlah warna pandangku.
         Di batas senja terlukis, indah lengkung, pelangi padu.
        Maha karya alam sempurna, bagi semesta.
        Langit semburat, lembayung jingga.
        Putih kapas awan serupa, bidadari surga.
        Biru hadirkan renjana di balik langitnya.
        Aku terpukau memikirkan ciptaanNya.
        Sambil berdiri, duduk berbaring, memikirkan, tidaklah sia-sia, seluruhnya.
        Semua seimbang dalam bentuk, ukurannya.
        Maha sempurna,
        Engkau menciptakan, bagi mereka, berakal pikiran.
        Akulah kuman.
        Jumlahku milyaran, berkembang biak dengan cepat, sesuai kehendak penciptaku. Kami saling bersambungan dan terhubung.
        Tadi malam takdir menerbangkanku ke sebuah taman. Di bawah pohon akasia pinggir jalan.Tak terasa terlelap, angin sepoi-sepoi membuat mataku tak kuat menahan kantuk
        Tiba-tiba siang ini, aku sudah menempel di jilbab seorang gadis cantik. Sepertinya ketika tertidur di pohon tadi, tanpa sengaja ikut terbawa pulang ke rumahnya. Ia membawaku ke kamarnya. Sebuah ruang sederhana dengan cat berwarna biru muda, bagian atas berwarna putih. Tak banyak barang atau aksesoris di kamar ini. Hanya tampak dipan kecil, lemari pakaian ukiran kayu jati berwarna coklat. Sepasang kursi, meja belajar di sudut ruang. Buku-buku tertata rapi di atasnya.
        Meskipun bentukku kecil, tetapi keberadaanku ditakuti manusia. Ilmuwan kalang kabut mencari formula untuk memusnahkanku. Sampai detik ini tak ada manusia yang mampu menghentikanku berkembang-biak. Akulah kuman, utusan kematian bagi siapa saja yang kudekati.
        Beda dengan gadis yang kutemui saat ini, wajahnya terlihat tenang. Kuperhatikan mulutnya tak henti berzikir. Aku tak suka dengan kebiasaannya, menghalangiku untuk menjamahnya.
        Deria, namanya. Dia menyapa dengan salam setiap orang yang berpapasan dengannya. Setiap orang yang berjumpa dengannya tampak bahagia. Sejak kami sampai aku terus mengamatinya. Memasuki pekarangan rumah, ia menyapa seluruh penghuni. Dengan senyum manis, ia menyapa batu, pagar, tanaman dan bunga-bunga di halaman depan. Lalu, tersenyum kepada pintu, tembok, jendela, lemari, kursi, meja dan semuanya. Semua benda-benda membalas senyumnya.
        Gadis ini seperti menyatu dengan alam. Aku masih mengingatnya ketika di taman tadi. Sebelum duduk di kursi taman. Ia sempat memeluk pohon yang besar. Aku memperhatikannya. Ia mengajak pohon berbicara.
        "Terima kasih pohon, kau telah menyumbangkan oksigen untukku. Terima kasih atas warna hijau yang memukau. Untuk rindang yang kau hadirkan, meneduhkan", katanya berbisik. Pohon-pohon itu senang, mereka bergembira menyapa Deria. Aduhai gadis remaja, alangkah elok lakumu. Mereka serentak menciuminya.
        Masker masih menutupi wajah cantiknya. Ia bergegas ke kebun belakang rumahnya. Sebuah kebun kecil berisikan beberapa tanaman obat herbal. Seperti jahe, kencur, kunyit, sereh, dan daun sirih. Dengan cekatan, ia langsung membersihkan rumput-rumput liar di sekitar kebun. Ia terlihat gesit dan semangat mengambil seember air, lalu disiramkan ke tanaman-tanaman yang berderet rapi.
        Betapa lemah lembut sikap Deria. Bagaimana cara ia memperlakukan setiap tanaman. Disiramnya satu persatu tanaman-tanaman itu. Diusapnya perlahan setiap helai daun-daun. Disapa, diberikan senyuman termanis. Pantas saja semua tanamannya tampak segar dan tumbuh subur. Mereka bahagia dimiliki oleh sang gadis. Tapi kenapa ia tidak menyapaku?
        Selesai dari kebun belakang ia bergegas ke halaman depan rumah. Beberapa tanaman hias menantinya dengan rasa rindu. Beberapa bunga bermekaran menyambutnya. Lalu ia mencium bunga mawar berwarna merah muda yang mekar di hari itu. Angin telah membawaku tepat di atas hidung gadis itu. Harum aroma bunga mawar begitu terasa menusuk penciumanku. Lagi-lagi ia tak menyapaku, padahal aku sudah berada tepat di atas hidungnya? Apa karena aku virus? Sekejap lagi aku bisa menerobos masuk ke dalam tubuh gadis yang sok suci ini.
        Di seberang jalan rumah si gadis, terasa lengang. Aturan diberlakukan. Seorang lelaki berbaju lusuh di kejauhan membaca mantra-mantra, kucing mengeong di sebelahnya.
        Wajah-wajah terlihat ngeri, napas-napas sesak.
        Di balik masker serupa zombi.
        Keluhan bertubi-tubi, lapar tak terkendali.
        Wajah pribumi dipaksa mengungsi.
        Di balik jeruji kepingan diri.
        Menunggu yang tak pasti
        Tukang roti, makan roti basi.
        Tukang bubur putus asa.
        Tukang martabak membuang adonan ke kali.
        Berbagi rezeki dengan ikan-ikan teri, sebab sepi pembeli.
        Pedagang pasar gulung tikar.
        Pedagang kaki lima kehilangan kakinya. Tempat ibadah kami sepi .
        Kantor, sekolah, dan perguruan tinggi dikunci.
        PHK di mana-mana.
        Orang kehilangan jantung hatinya.
        Aku tak perduli. Misiku memasuki tubuh gadis ini. Saat berada di hidungnya perlahan aku meluncur bersama lendir yang mengarahkanku ke tenggorokannya. Entahlah aku tidak sadarkan diri. Tiba-tiba saja sel-sel tubuhku membelah, berkembang biak. Jumlahku menjadi banyak, tetapi dengan wajah yang sama. Kini aku menguasai tubuh gadisku.
        Aku berjalan perlahan menyebar ke setiap penjuru organ tubuhnya, sampai di paru-parunya. Kulihat jelas seisi tubuhnya: jantung, usus, lambung, ginjal dan organ tubuh yang lain.
        Ada satu yang membuatku takjub. Seluruh organ tubuhnya mengucapkan ucapan yang sama, bertasbih memuji-Nya. Persis seperti kebiasaan Deria.
        Beberapa waktu berlalu, aku berhasil membuat tubuh gadisku demam. Ruangan tempatku berteduh terasa lebih lembab. Jumlahku semakin banyak. Aku terus berkembang biak, lebih banyak lagi, menyebar di setiap sel-sel tubuhnya.
        Terlihat jelas paru-paru gadis itu mulai perlahan gerakannya dan suara tasbihnya. Detak jantungnya melemah. Aku merasakan udara begitu berkurang, tidak seperti pertama memasukinya. Aku telah mengganggu pasokan oksigen bagi tubuh gadisku.
        "Wahai virus yang kini menguasai tubuhku, sungguh aku tak bisa melihatmu, tapi aku percaya kau mendengarku. Duhai virus yang baik, kau diciptakan oleh Tuhanku untuk bertasbih kepada-Nya. Lakukanlah tugasmu sesuai kehendak-Nya."
        Sayup-sayup kudengar gadisku itu menyapa. Kata-katanya menyengat titik kesadaran tentang posisiku sebagai sahaya dari Pemilik semesta. Wajahku tertunduk lesu. Gejolak rasa marah dan malu bersatu. Selama ini aku sudah jauh melenceng dari rel titahNya. Harusnya ada tapi tidak harus mengganggunya.
        Tak terasa air mata menderas dari kedua mataku.
        Kita lupa bersyukur atas udara yang diberikan gratis oleh Allah. Saat sesak mulai menjalar ke tubuh dan paru-paru kekurangan oksigen, baru disadari betapa Allah begitu baik. Betapa berharganya oksigen.
        Ampunilah Tuhanku.
        Aku telah memakai jubah kebesaranMu. Rasa iri dengki dan hasad memalingkanku dari tugas yang sebenarnya.
        Bukankah Engkau yang Maha menguasai seluruh makhluk? Ya Rabb, siapakah aku? Mengapa kesombongan menipu.
        Bukankah hanya Engkau yang pantas sombong? Ya Rabb ampuni, terimalah taubatku. Astagfirullah!
        Maafkan Deria, aku tak berhak membencimu. Meskipun kau tak bisa melihat wujudku, tetapi kau tetap baik memperlakukanku. Perlahan tapi pasti seluruh tubuh Deria menuntunku kembali bertasbih memuji-Nya. Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan kesempatan bertaubat dan menyesali semua kesalahanku.
        Sudah beberapa hari aku singgah di sini, di bagian dalam tubuh seorang gadis. Terasa nyaman berada dalam tubuh sang gadis. Di sini aku merasakan ketenteraman, kedamaian, dan bahagia luar biasa atas takdir penciptaan.
        Ketika sedang asyik bertasbih memuji Rabbku, aku menyaksikan aliran air hangat terus menerus mengalir ke dalam tubuhnya.
        Mula-mula aku mencium aroma jahe, lalu kunyit, kencur, sereh dan daun sirih. Mereka datang silih berganti. Semua aroma ini serasa pernah menciumnya. Ketika masih berada di luar tubuh gadisku.
        Aku melihat dengan jelas cairan-cairan itu mengeluarkan suara yang sama. Suara yang sering dilantunkan oleh Deria.
        “Astagfirullah. Subhanallah. Alhamdulillah. Lailahailalallah. Allahu Akbar.”
        Kami semua serentak mengucap lafaz yang sama. Kurasakan tubuhku mengecil dan terus mengecil. Pandangan terasa samar-samar menatap setiap ruang. Setelah beberapa kali cairan herbal itu membasahi tubuhku, kini aku yang merasakan panas dan rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Napasku tersengal-sengal.
        Pandangan mulai gelap. Zikirku terus mengalir, tetapi keadaanku melemah. Tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku hancur berkeping-keping dan ringan melayang entah ke mana.
        Ketika kubuka mata, aku telah menjelma menjadi wujud seperti semula dengan bentuk lebih sempurna. Hampir-hampir tak percaya dengan apa yang kulihat kini, di hadapan terbentang sejauh mata memandang, sebuah taman yang sangat indah yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Tangerang Agustus 2021

Bionarasi

Aminati Juhriah seorang ibu rumah tangga biasa yang lahir di Tangerang 20 Agustus. Ibu dari empat orang anak ini bercita-cita jadi penulis. Berharap setiap tulisannya diridai Allah dan bermanfaat untuk sesama. Beberapa karyanya telah dibukukan bersama teman-teman dalam antologi.

Di antaranya: Antologi puisi Pelangi Cinta, Obituari Mengenang Yoevita Soekotjo, Story Struggle Butterfly KMO bath 28, dan dalam proses cetak Antologi 17 Srikandi Indonesia.


Posting Komentar

0 Komentar