Recents in Beach


BALALIN (Sebuah Novel Perjalanan)


Sebuah Novel Perjalanan
Oleh Waliyunu Heriman

Bagian I
Marut: Tano Telang Otah Ine[1]
 

Hutan Marut adalah bagian dari sebuah lanskap yang bernama rimba. Di pulau ini rimba seluas mata memandang. Tak ada satu pun makhluk hidup  yang sanggup menjelajahi bentangan rimba itu. Matahari hanya dapat menyentuh wajahnya. Tak heran jika lantai rimba itu selalu basah dan menjadi tempat tinggal yang nyaman makhluk-makhluk pengurai kesuburan.

Pada mulanya hutan Marut hanya menyimpan kesunyian. Tak ada kebisingan atau kegaduhan, selain keriuhan dari makhluk-makhluk hidup yang tinggal di sana saat menyambut atau melepas matahari. Saat berpesta dengan makanan atau saat bercinta dengan pasangan. Tumbuh-tumbuhan hidup sesuka hati, di atas tanah, akar, batang, dahan dan ranting dedaunan.

Pohon Balau (Shorea sp), Bangkirai (Shorea laevis Ridl.), Jelutung (Dyera spp.), Kapur (Dryobalanops spp.), Mentibu (Dactylocladus stenostachys Oliv.), Meranti (Shorea spp.), Merbau (Intsia spp.), Ulin (Eusideroxylon zwageri T. et B.) dan berbagai jenis pohon rimba lainnya—tumbuh  merdeka. Puluhan bahkan ratusan tahun mengisap sari-sari makanan dari dalam tanah yang subur hingga tumbuh besar dan menjulang.

Pohon-pohon itu seakan berlomba membesarkan tubuh dan menjangkau awan. Berdiri kokoh dengan pangkal ditopang banir-banir yang kuat. Banir-banir itu menyerupai dinding pada dua, tiga atau empat sisi pangkal. Dibalut lumut dan tumbuhan perdu—menandakan betapa tua dan lamanya pohon itu berdiri mencengkram bumi. Pada pohon dengan lingkaran batang 2-3 meter, ruang di antara banir bisa dipakai sekeluarga babi hutan bersarang.

Berada di antara pepohonan itu, serasa berada di antara raksasa rimba yang bertugas melindungi bumi agar tidak meleleh oleh matahari. Dengan daunnya yang lebat, cabangnya yang kuat dan batang yang kokoh.  Lihatlah Ulin di lereng bukit itu. Alam telah menumbuhkannya sejak ratusan tahun lalu. Bumi menghidupinya hingga pohon itu tumbuh menjulang—entah 30 atau 40 meter, dan membesar hingga perlu 2-3 orang untuk dapat memeluk pangkalnya. Dari jauh, sepertiga batang pohon itu muncul di balik rimbun daun pepohonan. Memperlihatkan kulit yang cokelat kemerah-merahan. Pada banir dan pangkal hingga beberapa meter ke atas, kulit pohon itu tak tampak. Terbalut lumut dan tumbuhan menjalar yang membelit lebat. Benalu dan anggrek hutan menumpang hidup di sana. Tak ada makhluk hidup; tumbuhan liar, parasit atau binatang apa pun jenisnya yang sanggup  mengeroposi tubuh pohon itu. Ketika pohon itu menjadi kayu penopang rumah, kekuatannya tak tertandingi. Ditanam dalam rawa, sungai bahkan laut, kayu itu tetap utuh. Tak akan habis dimakan rayap, tanah, musim atau cuaca.

Lihat juga Balau, Bengkirai dan Jelutung di tempat lain. Atau, Meranti—pohon rimba yang menjadi pesona hutan ini. Sekarang sedang musim berbunga. Lebah-lebah hutan tahu bahwa bunga Meranti bunga terbaik untuk dihisap. Sari bunga Meranti pemberi bahan  madu terbagus pada lebah-lebah. Sayang, lebah-lebah itu tak bisa menikmati sari bunga Meranti setiap tahun. Sebab Meranti hanya berbunga secara masal 4 hingga 7 tahun sekali. Waktu yang sangat lama bagi para lebah untuk menunggu. Karena itu, tak heran jika  musim bunga Meranti tiba, para lebah berpesta pora.

Lebah hutan (Apisdorsata) punya pohon favourit untuk menjadi tempat bersarang. Yaitu, pohon manggeris (Kompassiaceramensis), kempas (Kompassiaexelca) atau tempura (Diprerocarpusgracilis). Di hutan, pohon-pohon itu menjadi tempat mereka membangun kerajaan. Satu pohon dapat menampung puluhan koloni lebah. Dari kejauhan, sarang-sarang mereka tampak berwarna hitam kecoklatan dengan bentuk sisiran setengah lingkaran, menempel pada dahan-dahan atau cabang pohon. Sarang yang sudah bermadu banyak membentuk huruf  “W”. Orang-orang kampung atau para pencari lebah, tahu betul mana sarang baru, sarang berisi dan sarang kosong.

Gaharu (Aquillaria excelcia) tumbuh pula disana. Terselip di antara ribuan jenis pohon. Alam mengutus pohon itu untuk menumbuhkan gubal dalam tubuhnya. Gubal yang kemudian banyak diburu manusia karena menjanjikan rupiah yang menggiurkan. Orang-orang Punan di sebagian belahan Borneo meyakini bahwa Gaharu ditanam dan dijaga oleh Balalin—Dewa Rezeki.

Pohon-pohon itu sudah hidup lama,  sebelum orang menyebut hutan itu dengan Teno (hutan) Marut. Mereka tumbuh sebagai raksasa-raksasa hijau penopang kehidupan alam semesta. Pemberi denyut pada seluruh makhluk penghuni bumi.

Di bawah mereka, kehidupan lain berkembang menjalani kodrat dan takdir masing-masing. Saling menghidupi dan memberkahi satu sama lain. Menjalani siklus kehidupan dan kematian sebagaimana alam mengatur. Kemudian bumi, sepanjang waktu dan masa, selalu tulus memenuhi seluruh kebutuhan hidup yang mereka perlukan.


[1] hutan  adalah air susu ibu

Penulis: Perantau dan pemantau danau igau, tinggal di Cikijing, Majalengka

Posting Komentar

0 Komentar