Recents in Beach


Balalin (Bagian I Sesi 4)

 

Balalin 

(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 4)


Sumber Foto: https://alamalami.com/wallpaper

Oleh Waliyunu Heriman

Sepasang tekuan buluh baru saja melangsungkan hajat asmaranya di atas pohon Jelutung yang tumbuh menjulang di lembah yang diapit dua bukit kecil, seberang Kampung Long Simau, ketika kentongan dipukul orang. Si enggang jantan berkroak persis pada kentongan ketiga. Disusul suara si perempuan. Di sambut kawanannya dari seluruh penjuru mata angin. Kemudian riuh oleh suara burung-burung lainnya.

Kentongan itu berasal dari gereja. Dipukul seorang lelaki setengah tua, seorang pendeta Katolik berambut kriting yang dikirim dari ibu kota. Sudah 2 tahun ia menetap menggantikan pendeta sebelumnya yang terpaksa harus dipulangkan dari Long Simau karena sakit-sakitan. Pendeta itu tampaknya tak punya militansi yang hebat sehingga tak mampu bertahan lama di tengah kampung yang udik. Ia sering absen saat jemaah membutuhkannya. Satu bulan ada di kampung, satu bulan meninggalkan kampung.

Penggantinya Pendeta Boro. Ia memang tak menetap terus di Long Simau. Tapi pada Sabtu sore ia akan datang ke Long Simau untuk memimpin ibadah pada hari Minggu. Kalau sedang berkenan ia akan menginap barang satu atau dua malam di rumah Patriskiting. Sebaliknya jika enggan maka minggu sore ia akan pulang berketinting ke rumahnya di ibu kota kecamatan. Pulang sore lalu tiba malam, 4 jam perjalanan. Pulang dengan perahu sarat oleh barang bawaan. Hasil kebun dan hutan yang selalu disiapkan orang-orang. Kadang membawa  daging babi hutan atau payau. Atau ikan-ikan sungai  yang ada di hulu kampung. Ikan pelian, baung,  atau tembaring.

Anak-anak lebih awal datang. Berkerumun di depan pintu gereja. Gereja itu, tidaklah menyerupai banguan layaknya gereja yang ada di kampung lain,  yang letaknya tak terlalu jauh dari kota. Gereja itu hanya sedikit lebih besar dan bagus dibandingkan dengan pondok orang-orang kampung. Bertiang dan berdinding kayu dengan atap kirai. Berbentuk persegi panjang seluas 7 x 11 meter. Satu-satunya penanda bahwa itu gereja adalah salib pada tiang setinggi 3 meter. Dibuat dari kayu ulin bersamaan dengan pembanguan gereja itu. Gereja itu dipakai juga oleh anak-anak sekolah. Ada 25 anak yang semestinya bersekolah dengan baik seperti anak-anak sekolah di kampung lain. Hanya karena keadaanlah yang menbuat mereka harus  bersekolah apa adanya. Dalam seminggu paling hanya dua atau tiga hari mereka sekolah. Diajarkan membaca dan berhitung oleh dua orang guru kontrak. Sesekali  Pendeta Boro ikut memberi pelajaran. Sisanya, hari-hari anak-anak habiskan untuk pergi ke sungai, kebun atau ke hutan berburu binatang kecil yang dagingnya bisa mereka makan. Pada musim buah, anak-anak berburu buah-buahan. Durian, kelempesi, meritam dan beragam buah yang bisa dimakan.

Pendeta Boro melihat-lihat jemaah yang sesak memenuhi gereja. Ia merasa kehilangan seseorang yang biasanya datang lebih awal dan duduk paling depan, Patriskiting. Lelaki itu tak nampak. Tak ada kabar disampaikan anak atau tetangganya. Padahal kalau ia sakit atau sedang pergi, selalu ada kabar. Hingga ibadah selesai Patriskiting tak juga muncul. Orang-orang pun heran dan tak pernah tahu kemana lelaki tua bertubuh ringkih itu pergi. Termasuk anak perempuannya, Tening.

 “Waktu kami mau tidur masih ada. Duduk di depan. Pagi-pagi saya sudah tak melihatnya. Saya kira pergi ke sungai atau kemana,” terang Tening dengan raut muka cemas.

Bubar dari gereja, sebagian orang-orang berhambur mencari Patriskiting. Sebagian pergi ke hulu dan hilir sungai. Sebagian ke kebun dan ladang tempat Patriskiting biasa bekerja menghabiskan waktu sehari penuh. Hingga tengah hari pencarian tak membuahkan hasil. Tening sudah terisak di ruang tengah rumahnya. Di kelilingi para perempuan. Para lelaki berkerumun di halaman rumah.

Yang mereka khawatirkan Patriskiting jatuh di sungai dan hanyut. Kebetulan air sungai sedang deras setelah seminggu ini hujan turun tiap hari. Debit air Sungai Mau nyaris mencapai tepi. Para lelaki itu pun berembuk dan memutuskan untuk melakukan pencarian ke hilir sungai. Dengan harapan, seumpama nasib buruk memang menimpa Patriskiting, jatuh ke sungai dan tenggelam, pada hari itu juga mayatnya bisa diketemukan. Tanpa harus menunggu 3 hari sampai mayat itu mengapung ke permukaan air. Akhir pencarian hari itu diputuskan sampai ke Giram Belalau—giram terdekat dari kampung, satu jam perjalanan dengan ketinting. Giram Belalu sangat ditakuti. Orang kampung yang lewat, apalagi saat air sungai kecil, tak ada yang berani melewatinya dengan perahu hidup. Perahu harus dimatikan dan diseret dari bebatuan di tepi giram tersebut. Jika perahu bermuatan banyak, muatan akan diturunkan lebih dulu. Kecelakaan pernah merenggut sepasang pengantin baru yang hendak pergi ke kampung tetangga. Berperahu berdua melewati giram yang dikiranya bisa dilalui tanpa harus mematikan dan menyeret perahu. Perahunya karam tersedot pusaran air dan keduanya hanyut. Kepandaian berenang yang dimiliki keduanya sejak kecil tak mampu menandingi derasnya arus.

Para pencari pulang menjelang petang dengan wajah cemas. Tening tak putus menangis. Pendeta Boro memimpin doa keselamatan di gereja. Lalu bubar setelah doa selesai dan berkumpul di rumah Patriskiting hingga petang tertimbun malam. Patriskiting diyakini hilang. Kemungkinan paling besar, jatuh dan hanyut dibawa arus sungai. Orang-orang sudah sepakat melanjutkan pencarian besok pagi.

Amat Kirut dan Jale Unyat duduk memisahkan diri dari kerumunan orang-orang yang berkumpul di rumah Patriskiting sejak lepas petang. Keduanya duduk di balakang rumah, di tempat Patriskiting membuat perapian pada malam atau menjelang malam.

“Ada yang mau aku ceritakan,” kata Amat Kirut setelah selesai membakar lintingan tembakau seks.

“Soal apa? Rencana besok?”

“Bukan, ini lain lagi,”

“Apa?”

Amat Kirut menggeser duduk mendekati Jale Unyat yang duduk bersandar pada pohon lansat.

“Aku menemukan anjat di hilir,”

Jalu Unyat tertawa

“Ah, kukira soal penting. Begitu saja kamu cerita?” potong Jale Unyat.

“Berisi baju anak perempuan,”

“Hmm…kamu ambil?”

“Ya,”

“Buat apa?”

“Siapa tahu itu barang curian,”

“Di mana sekarang?”

“Kusimpan di belakang rumah,”

“Kamu tahu baju milik siapa?”

“Aku curiga punya Ilung. Sebab aku pernah lihat baju itu dipakainya,”

“Terus?”

Amat Kirut diam. Jale Unyat bergerak mendorong kayu bakar ke tengah perapian yang mulai redup. Bunyi gemeletek kayu terpanggang bara terdengar beberapa saat kemudian disusul nyala api. Jale Unyat mendekatkan telapak tangan ke dekat api menyerap hangat agar menjalar ke tubuh. Hawa dingin dari arah hutan di seberang sungai mulai meresap ke tubuh.

Para lelaki yang berkumpul di rumah Patriskiting, sedang berkerumun mengelilingi perapian ketika sosok lelaki ringkih muncul dari balik kegelapan. Berjalan tenang tanpa kesulitan oleh gelap yang menutup seluruh penglihatan. Ia heran melihat orang-orang berkerumun. Ada perapian dan sisa minum-makanan di meja kayu dekat kaki pondok. Adalah dengus dan bunyi kaki anjing hitam—yang menemani perjalanan lelaki itu, yang pertama kali menyadarkan para lelaki atas kehadiran seseorang yang seharian meresahkan mereka.

Salah seorang dari lelaki yang berkerumun spontan bangkit, berdiri lalu berbalik ke arah datangnya suara binatang yang sudah dipastikan siapa majikannya.

“Patriskiting,” lelaki itu bergumam setengah berteriak. Lelaki lainnya serempak menoleh dan memburu lelaki yang kini berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang sangsi. Betulkah yang datang adalah Patriskiting dalam wujud sebagai manusia? Ataukah hanya rohnya?

“Kenapa kalian berkumpul di sini?”

“Kami menunggumu,”

“Seharian kami mencari di sungai. Kami takut uku sakit dan jatuh di sungai,”

“Kami cari ke kebun dan ladang tak ada. Tening tak tahu kemana,”

Patriskiting melangkah masuk rumah. Ke dalam kamar untuk menyimpan bujak yang dibawanya. Lalu kembali ke ruang tengah rumah menghampiri para lelaki yang segera berkerubung mengelilingi.

“Saya hanya pergi ke Marut. Melihat rumah nenek-moyang kita di sana. Sudah lama tak pernah saya lihat,”  kata Patriskiting.

“Mengapa tak mengajak kami? Bukankah kita bisa sama-sama ke sana,”

“Saya juga tidak merencanakan. Hanya tiba-tiba saja ingin ke sana malam itu. Saya menunggu sampai menjelang pagi, lalu berangkat,”

“Walau pagi walau malam,  bisa mengajak kami. Tak susah kan?”

“Ya sudah, maafkan orang tua ini. Sudah merepotkan kalian,”

“Lain kali bawalah kami ke mana pun maksud dan tujuan,”

Orang-orang bubar setelah yakin atas kehadiran Patriskiting. Yang keletihan sehabis melakukan pencarian, langsung tertidur lelap. Tening memeluk bapaknya sambil terisak. Kali ini merasa lega. Bayang-bayang buruk mayat bapaknya terapung di sungai sirna.

Patriskiting tak menjelaskan tujuan kepergiannya malam itu. Tapi orang-orang yakin ada sesuatu yang sangat penting yang membuat lelaki itu harus bergegas melongok kampung leluhur mereka di Hutan Marut sana. Long Simau malam itu lebih sepi dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Anjing-anjing yang biasanya menyalak sesekali, malam itu tak terdengar. Seperti orang-orang, mereka pun keletihan setelah hampir seharian ikut dengan majikan-majikannya melakukan pencarian. (Sesi 4)




Penulis: Perantau dan pemantau danau igau, tinggal di Cikijing, Majalengka

Posting Komentar

0 Komentar