Recents in Beach


Balalin (Bagian I Sesi 3)

 

Balalin 

(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 3)


Sumber Foto: https://alamalami.com/wallpaper

Oleh Waliyunu Heriman

Hutan Marut yang menjadi rumah kediaman nenek moyang mereka adalah hutan tua yang ada di belantara Borneo Utara. Orang-orang kampung yang pernah menjelajahi hutan itu tahu, seberapa besar kekayaan hutan tersebut. Seluruh jenis pohon kayu ada di hutan itu. Hidup sejak ratusan bahkam ribuan tahun lalu. Pohon ulin, meranti, bengkirai, kapur, adau dan pepohonan rimba lainnya. Pohon Manggeris atau Lalow dalam bahasa orang-orang kampung,  tumbuh banyak di sana. Pohon tempat lebah-lebah bersarang dan membuat madu itu,  mereka namai sesuai dengan nama nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Dengan harapan, nenek moyang yang namanya tersebut pada pohon  memberi keberkahan pada pohon dengan dijadikannya  tepat oleh banyak koloni lebah. Lebah-lebah itu mau mengeluarkan madu sebanyak-banyaknya untuk mereka panen kemudian hari.

Ada juga orang-orang kampung sana yang pergi menjelajahi hutan itu  untuk mendapatkan gaharu. Berminggu-minggu bahkan berbulan. Sampai menembus ke hutan lain di luar Hutan Marut.  Pohon itu memang misterius. Bisa dengan mudah ditemukan dan kadang sangat sulit. Dalam sekedip mata, jika bukan rezeki si pencari, pohon yang semula nampak di ujung mata bisa saja seketika lenyap.   Jangan girang dulu kalau pun sudah  siap ditebang.  Lupa melanggar pantangan gubal yang sedianya ada akan hilang seketika.

Ada satu bagian di hutan itu yang oleh orang-orang kampung tak pernah di sentuh. Tidak dijadikan ladang perburuan baik binatang maupun tumbuhan hutan.  Yaitu hutan yang ada di Bukit Marut. Batasannya, sepanjang kaki bukit atau lembah yang mengitari lereng. Kata Patriskiting, pemilik hikayat, hutan pada bukit itu adalah hutan terlarang. Tempat roh-roh jahat tinggal. Yang akan membuat malapetaka bagi siapa saja yang mengusik tempat tersebut. Memungut dan memakan buah jatuh saja orang akan sakit dan mencerau dengan suara yang menyeramkan. Patriskiting yang oleh orang-orang kampung dianggap punya kekuatan dan berteman dengan para roh-roh di sana, tak pernah menyentuh tempat itu.

Ada kisah yang terakhir kali diketahui orang-orang kampung. Kisah yang disebarkan Dolop Mamu, saudara mereka yang sekarang tinggal di kota kabupaten. Serombongan orang dari kota yang melakukan survey ke sana menghilang. Tak diketahui rimbanya. Yang ditemukan para pencari hanya perahu-perahu yang membawa mereka ke sana. Ditemukan, jauh di hilir, di muara sungai. Orang-orang berkesimpulan, mereka meninggal diterkam beruang dan naga yang ada di sana. Sebagian bercerita mereka dimangsa kawanan buaya yang hidup di sungai. Orang-orang Long Simau berkesimpulan bahwa mereka disekap hantu-hantu (roh-roh) jahat bukit Marut karena melanggar aturan. Disekap dan dimakan  Kanji’ Anjan alias Irang Lenggang, yang tersebut dalam dongeng orang Punan sebagai makhluk penunggu rimba. Bertubuh tinggi besar. Kulitnya berbulu lebat. Kepalanya seperti kepala manusia tapi mukanya seperti muka beruk. Lengannya seperti lengan beruk dan giginya seperti gigi beruk. (Sesi 3)




Penulis: Perantau dan pemantau danau igau, tinggal di Cikijing, Majalengka

Posting Komentar

0 Komentar