Recents in Beach


Balalin (Bagian I Sesi 2)

Balalin 

(Sebuah Novel Perjalanan)
Bagian I (Sesi 2)


Sumber Foto: https://alamalami.com/wallpaper

Oleh Waliyunu Heriman

        Sekawanan tekuan (enggang) gading (Rhinoplax vigil), bertenggeran di dahan sebatang pohon Bangkirai yang tumbuh menjulang di atas bukit. Penampilan burung ini mengagumkan. Jika bertengger tegak di atas dahan terlihat kokoh dan mempesona dengan tubuhnya yang besar dan panjang mencapai 100 cm lebih. Bulu tubuh hitam. Ekor menjuntai dengan seruai yang panjang hingga 30 cm berwarna putih dengan garis hitam pada bagian tengah bulu ekor. Paruhnya seperti tanduk berwarna kuning-merah padam. Pada leher tekuan jantan terdapat kulit merah tanpa bulu. Mirip jangger ayam. Sedangkan pada leher teukuan betina kulit itu berwana biru pucat.
        Mereka terbang dari sarang masing-masing agar bisa segera menikmati hangat matahari pagi. Melompat-lompat. Terbang pendek dari dahan ke dahan. Sesekali mengepakan sayap di atas dedaunan yang menyimpan air lalu menyelisik bulu-bulu tubuh, sayap, dan ekor. Satu-dua di antara mereka, berseru, dengan suaranya yang khas—berkrakak panjang memanggil temannya, dimulai dengan nada rendah sampai kemudian meninggi. Dari jauh, hingga jarak 2 KM suara tekuan ini masih dapat terdengar—seperti orang tertawa dengan intonasi rendah kemudian tinggi.
        Di hutan Marut, tekuan ini tak sebanyak tekuan jenis lainnya, tekuan buluh (Anorrhinus galeritus) atau tekuan jambul (Aceroscomatus). Tubuhnya lebih besar. Suaranya lebih nyaring. Hidup berpasangan dan berkelompok. Selama hidup, tekuan, apa pun jenisnya, hanya sekali berpasangan. Setahun sekali kawin lalu bertelur dan beranak. Tekuan bertelur dalam sarang pada lobang pohon yang tinggi. Pada saat pasangannya beranak, tekuan jantan harus setia menunggu selama 6 bulan. Menunggu pasangannya mengeram selama 3 bulan lebih sambil menjalani masa ganti bulu (moulting). Tekuan dewasa adalah penjelajah angkasa yang hebat. Ia dapat terbang menjelajahi angkasa dengan radius 100 KM persegi. Menyebarkan biji-biji pohon atau buah-buahan.
Pada pepohonan lain aktivitas serupa dilakukan oleh beragam jenis burung yang menjadi spesies hutan tersebut. Kawanan Serindit bahkan telah lebih dulu memulai kehidupan. Burung kecil berbulu hijau, merah pada dada dan kuning-merah pada ekor itu, sejak pagi buta, sebelum fajar merekah, sudah riuh bercericit. Bersolek diri lalu terbang memburu pohon berbuah. Setelah pagi mulai panas burung berbulu pelangi itu menghilang. Istirahat, bergelantungan seperti kelelawar pada rantin-ranting pohon. Sebagian mengerami telur dalam sarang. Di kampung, orang-orang banyak memelihara Serindit, dalam sangkar bulat sebesar buah kelapa. Terbuat dari rotan. Burung ini dipercaya sebagai burung penolak bala.
        Dalam pengelihatan kawanan burung yang berada di tempat tertingggi, Hutan Marut terhampar ribuan hektar. Berada pada dataran, lembah dan perbukitan. Satu bukit besar (900 meter di atas permukaan air laut) berbatasan langsung dengan sungai yang meliuk di sela padatnya rimba, yaitu Sungai Marut di bagian Timur. Satu sungai lagi membatasi tepi Barat hutan, Sungai Ran—yang berhulu di Hutan Apo Kayan. Kedua sungai itu tak putus mengalirkan air yang kejernihannya sempurna, memperlihatkan secara utuh pemandangan di baliknya. Sesekali saja air sungai keruh ketika hujan deras atau pada saat gerombolan babi hutan lewat dan mandi.
        Babi hutan berjanggut (Sus barbatus) menjadi salah satu spesies penghuni Hutan Marut. Memiliki bulu yang melengkung ke atas dan ke depan, menutupi pipi dan rahang bawah. Sekarang, Hutan Marut menjadi pelarian gerombolan babi yang punya kemampuan lebih dibandingkan dengan babi jenis lainnya. Orang-orang suku Punan yang tinggal di Long Simau, kampung terdekat dengan Hutan Marut, tahu bahwa babi ini merupakan penjelajah yang sangat tangguh. Ia baik sendirian maupun berkelompok mampu melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk mencari makanan yang disukainya.
        Dulu, puluhan tahun silam, mereka banyak dijumpai di hutan-hutan luar sana. Hutan-hutan yang sekarang sudah berubah menjadi jakau, pemukiman, perkebunan dan pertambangan. Ketika ‘hutan luar’ itu sudah habis dibalak perusahaan, babi-babi itu terusir. Berjalan menempuh jarak puluhan kilo meter. Sambil menyebarkan benih pohon buah-buahan (dipterocarp) sambil menyeruak-nyeruak humus tanah bercacing. Proses pencarian makan para babi hutan ini kemudian berperan dalam membentuk ulang permukaan tanah, mempercepat penguraian materi organik dan mempermudah akar tumbuhan menyerap nutrisi tanah.
        Orang-orang Long Simau memburu babi seperlunya saja. Saat mereka butuh untuk pernikahan, kematian, atau untuk acara ritual. Selebihnya dibiarkan hidup menjaga kelestarian dan keseimbangan alam Hutan Marut. Hidup merdeka, mencari makan, mencari pasangan, kawin dan beranak pinak. Orang-orang kampung memilih mana yang boleh diburu dan dimangsa. Pergi ke lufang (tempat babi tidur atau mandi) atau pan (air asin)—tempat berkumpulnya babi, payau, kijang, ayam, burung untuk minum.
        Konon, pan dihuni oleh roh-roh penunggu atau pemilik tempat. Di sana orang-orang tak boleh serakah. Cukup menangkap satu atau dua ekor. Berterima kasih pada Uka Kai (Yang Pengasih) yang telah memberi mereka rejeki binatang buruan. Lalu pergi tanpa meninggalkan huru-hara.
        Di hutan itu, ada juga mata air hangat yang mengalir dari celah bebatuan. Letaknya di kaki tebing bukit Ran, bukit kecil yang dari udara tampak memotong Bukit Marut. Tak jauh dari mata air itu, terdapat goa-goa dengan pelataran di depan mulut goa, yang cukup luas. Pelataran itu tertutup batu-batu datar dan batu berbentuk bongkahan dengan beberapa di antaranya membentuk pola seperti bangunan. Konon tempat itu adalah tempat tinggal terakhir Orang Punan Purba wilayah ini. Celah sepanjang dua meter, menyerupai gua, di antara dua bongkah batu berbentuk prisma, disebut orang-orang kampung sebagai bekas tempat tersimpannya jenzah Ayu Kirut, pengayau terakhir yang dimiliki Suku Punan wilayah ini. Roh si pangayau itu tinggal dalam batu tersebut. Berasama roh nenek moyangnya yang telah menempati goa dan pepohonan.
        Beribu tahun, kesunyian itu tercipta di Hutan Marut. Beberapa KM dari perkampungan kecil, tempat orang-orang Punan Long Simau, menjalani siklus hidup yang sederhana. Pagi, setelah melahap makanan yang ada, pergi ke ladang atau hutan. Di ladang mereka menanam dan memanen hasil. Tengah hari beristirahat di pondok kayu dan pulang menjelang petang. Membawa ubi, umbut, daun pakis atau hasil hutan yang ada di sekitar ladang mereka. Ikan atau daging tupai dan musang kadang mereka bawa pulang. Di masak sebagai teman makan malam. Setelah makanan terbenam dalam perut, mereka menguap kemudian lelap. Kalau ada yang masih terjaga, hanyalah mereka yang sedang dibuai hasrat untuk punya anak.
        Anak adalah kehormatan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Anak lelaki diharapkan menjadi pengganti bapak kelak, menguasai dan mengolah ladang. Menjadi penjelajah hutan yang tangguh dan perkasa. Anak perempuan adalah pelestari kasih sayang. Ialah rahim kehidupan generasi dan masa depan.
        Bagi orang-orang Long Simau, Hutan Marut menjadi lambang kejayaan, martabat, dan keagungan leluhur mereka. Tano telang otah ine—hutan adalah air susu ibu. Tak ada hutan maka matilah. Begitu, falsafah orang-orang Long Simau. Dalam keyakinan mereka, hutan itu tempat berdiamnya roh para nenek moyang. Roh-roh kakek-nenek moyang yang meninggal dulu masih ada di hutan sana. Juga roh-roh orang-orang yang meninggal belakangan, setelah berpuluh bahkan mungkin beratus tahun leluhur mereka meninggal. Roh-roh saudara mereka terbang mengikuti roh nenek moyang. Roh-roh itu menempati pohon-pohon.
        Ke hutan itu, ketika harus berburu, orang-orang kampung hanya berburu hewan yang diperbolehkan. Ketika mereka butuh daging saat ada warga mau melaksanakan perkawinan, ada yang meninggal, atau ada acara ritual. Atau, setelah para misionaris masuk dan mengajarkan agama baru pada mereka lalu gereja-gereja di bangun, perburuan hanya dilalukan menjelang mereka akan merayakan Natal dan tahun baru.
        Diawali ritual, para lelaki muda dan kuat pergi ke sana. Dipimpin Patriskiting, kepala adat mereka. Menyisir sungai, pergi ke lufang—sarang babi hutan—atau mendatangi pan, sumber air asin. Air asin berasal dari mata air yang mengalir melewati batu kapur. Jika yang didatangi pan, mereka akan bersembunyi menunggu buruan, babi atau payau datang meminum air di sana. Sebelum sembunyi kepala adat menyuruh orang-orang untuk mencelupkan kaki dan senjata yang dibawa. Seseorang yang membawa rokok atau tembakau seks (lempeng) akan membuangnya sedikit di sekitar itu. Ritual itu dilakukan agar mereka bersaudara atau berteman dengan alam dan penghuninya. Agar perjalanan selamat dan usaha mereka berhasil.
        Sebelum berburu orang-orang harus berhati-hati. Ketika menunggu buruan di pan, pemburu harus bersabar saat ada babi atau payau minum. Setelah selesai minum dan melangkah pergi dari pan, barulah dibujak (ditumbak). Alasannya, sebab saat babi atau payau itu minum, para roh-roh yang ada di sana sedang mengerumuni binatang itu. Setelah mendapat hewan buruan, sebelum pulang mereka harus memotong telinga atau bagian dari tubuh si hewan dan meletakannya di sana sebagai persembahan pada roh-roh yang telah membantu mendapatkan binatang buruan.
        “Mereka selalu ikut kemana pun kita berburu. Berbagilah pada mereka,” Pesan itu yang selalu Patriskiting sampaikan pada orang-orang yang pergi berburu. Orang-orang patuh pada nasehat kakek berusia 80 tahun yang menjadi Kepala Adat mereka. Kecuali pada suatu ketika, saat Patriskiting membawa 7 orang kampung pergi ke sana. Sudah cukup lama mereka menunggu ketika dua ekor babi gemuk muncul. Minum sambil rebahan di sisi pan. Bermain, berguling-guling kecil. Setelah cukup lama, satu ekor yang paling besar berbalik seolah hendak pergi namun tiga langkah kemudian ia kembali berbalik. Celakanya, Lanju, anak muda yang ikut terburu-buru melemparkan bujak (tombak). Bujak itu tepat menghujam lambung sang babi. Pulang berburu, Lanju jatuh sakit. Badannya menggigil seperti terserang malaria tropik. Patriskiting tahu, ia terkena hantu penunggu pan. Hari berikutnya Patriskiting dan dua orang kampung kembali ke sana menggelar ritual permintaan maaf dan meletakan sesaji berupa tolor ayam kampung, tembakau lempeng dan makanan pemberian keluarga Lanju, pada batang kayu yang dibelah empat.
        Berburu bagi orang Long Simau sudah menjadi rutinitas. Perburuan tak hanya di sekitar lifang atau pan tapi juga biasa dilakukan ke tempat lain bila di dua tempat tersebut tak ditemukan binatang buruan. Mereka akan terus berjalan menyusuri jalan bekas binatang buruan. Patriskiting, Amat Kirut, Jale Unyat dan para lelaki Long Simau hapal persis jejak-jejak binatang. Kadang-kadang mereka berburu dengan menggunakan lanyut pertong. Yaitu, serupa lilin yang diambil dari sarang lebah. Lanyut petrong ditaruh pada setiap jejak hewan yang ditemui di tanah. Para pemburu Long Simau meyakini, lanyut pertong yang telah tersebar, akan mempermudah mendeteksi hewan yang jejaknya tertinggal.
        Belakangan cara berburu ini ditolak para lelaki muda setelah Amat Kirut menerima musibah. Ia terkena bisul di pantatnya karena pada suatu perburuan dengan cara itu hewan buruan tidak dapat ditemukan. Semua orang tahu konsekuensi kegagalan mendapatkan binatang buruan dengan cara itu adalah menderita bisul di pantat kurang lebih selama seminggu.
        Anjing-anjing yang dibawa berburu selalu disertai ‘jimat’. Yang paling mudah adalah jimat bambu. Bambu dibakar sampai meledak, lalu arangnya dioleskan pada muka seluruh anjing. Make up arang bambu itu dipercayai dapat melindungi anjing dari gangguan hantu atau makhluk halus yang banyak berkeliaran di hutan, yang mungkin ditemukan oleh anjing-anjing itu saat mereka sedang melacak binatang buruan.
        Orang-orang Long Simau memburu binatang apa saja dan memakannya. Kecuali lelaki yang belum dewasa (belum berumur 30 tahun) dan perempuan hamil. Ada pantangan yang harus mereka patuhi. Oleh Patriskiting pantangan ini diberlakukan untuk semua orang. Memburu dan memakan daging kuli (macan dahan), tekuan, bowing (beruang), ular kobra dan ular piton. Lelaki yang belum dewasa dan perempuan hamil yang melanggar pantangan ini akan terkena meru (tuah) Penyakit dengan gejala berupa badan berubah menjadi kuning disertai buang air berkepanjangan. (Sesi 2)

Biodata Penulis:



Penulis: Perantau dan pemantau danau igau, tinggal di Cikijing, Majalengka













Posting Komentar

0 Komentar