Recents in Beach


7 Narasi Pendek dan Ida Laelasari

Oleh Waliyunu Heriman

7 Narasi Pendek dan Ida Laelasari

 

Aku Tak Mendengar Suara-suara

Aku melihat Ida Laelasari melangkah seperti melayang. Seorang perempuan muda mendekap erat  bayinya. Sepasang kekasih berpegangan tangan. Begitu juga para penumpang lain. Melayang memasuki pintu pesawat.

Aku tak mendengar suara-suara. Mataku hanya menangkap warna putih bersemu kelabu. Dan ingatanku hilang. Terakhir yang kuingat adalah saat aku memeluk Ida Laeasari lalu perempuan itu berujar; “Aku ingin bayi perempuan yang cantik, yang suaranya merdu,”

Aku menempati seat 18 B dan Ida Laelasari menempati seat 19 C. Aku mematung tanpa ingatan dan rasa saat pesawat melayang meninggalkan landasan. Aku mendapatkan ingatan dan rasa saat pesawat terbang mendatar dan meliuk ke kiri.

Ida Laelasari sedang menatapku saat aku menoleh ke arahnya. Mata Ida Laelasari putih seperti kulit wajahnya.  Tangan Ida Laelasari bergerak meraih tanganku. Kami berpegangan. Pesawat terus melayang.

Aku tak mendengar suara-suara.***

Januari, 2021

 

Tsai Ying

Dari seberang telepon Ida Laelasari bercerita. Tentang malam tahun baru di Kaohsiung. Aku menyimak sambil membayangkan  ia duduk  dari kamarnya di lantai dua. Menghadap Dreem Mall yang megah di seberang sana.

Ida Laelasari bercerita tanpa titik. Aku menyimak sambil membayangkan Kaoshiung. Membayangkan Ai He dan Tsai Ying—perempuan yang memuja betul Mao Zedong.

Aku pernah menghabiskan malam di Ai He bersama Tsai Ying.  Ia kutemukan sedang menyendiri di sana. Yang kemudian, setelah semalam di Ai He, ia mengajaku mengunjungi Dreem Mall, E-da Theme Park, Pie 1 Art Center,  dan i-Ride Experience.

“Aku mencintaimu. Tapi di negeriku komunis dilarang hidup,” bisiku saat kami berpisah di Taoyuan Air Port.

“Jadi kamu tak malam tahun baru di Ai He?” tanyaku pada Ida Laelasari.

Tsai Ying diam.***

Desember, 2020

 

Tanpa Jibril Kami Berdua Gagal Mendapatkan Cinta Ida Laelasari

Dulu kami pernah sama-sama. Diskusi berbagai ilmu dan aliran. Mengunjungi nisan-nisan tua dengan harapan dapat karomah dari si empunya nisan.  Bahkan jatuh cinta, pada perempuan yang sama. Adu mulut dan adu otot. Berakhir dalam damai di meja cafe, dalam aroma kopi dan asap kretek.

“Kalau begini, aku sudah tak berhasarat ketemu Idi Amin,” ketusnya. Mengusap jidatnya yang makin mengkilat diterpa lampu.

Kami berdiri di atas tebing, bukit yang berabad tahun lalu menjadi tempat Sisipus membuat nasib. Kami telah renta. Ia seperti resi. Aku kagum melihat cambang dan jenggotnya yang lebat dan panjang—seakan ingin segera menyentuh lantai surga, yang selalu ia imajinasikan dengan fantastis.  Kupastikan, belasan tahun sejak kami berpisah, ia tak pernah memotong jenggot itu.

“Kuharap kau tidak marah dan iri hati. Kau kupanggil ke sini untuk menyaksikan aku pergi bersama Jibril,” tukasnya.

Sialan! Aku menjadi kesal. Rupanya ia ingin lebih dulu berjumpa Ida Laelasari, kucing betina,  yang  sama-sama kami cintai, setelah kami sama-sama gagal mendapatkan Ida Laelasari pemilik kucing itu, sebab ia lebih memilih Syekh Ali Idrus.  Angin bertiup kencang mengibarkan rambut dan jubah kelabunya ke mulut jurang.

Aku menggaruk kepala. Aku sedang tak berhasarat untuk melihat atau mendengar apa pun. Aku berbalik meninggalkannya. Di depan, dari arah awan aku sempat melihat Jibril melayang turun. Aku menunduk. Tanpa Jibril kami berdua gagal mendapatkan cinta Ida Laelasari.***

Desember, 2020

 

Ida Laelasari dan Perkelahian 2 Lelaki Cengos

“Bangbung....”

Senanandung Ida Laelasari melengking tinggi. Membangkitkan kekuatan aku yang masih tersungkur di parit setelah pukulan Jante Arkidam telak mengena tengkuk dan dada. Aku mengusap darah yang mengucur dari bibir, yang robek-robek menggangsar kerikil tajam. Mandor kebun sawit itu berkacak pinggang menatapku puas.

“Hideung....”

Ada yang berkelebat dari arah panggung, dari tubuh Ida Laelasari yang berbalut kebaya marun. Serupa bayang-bayang hitam yang kemudian merasuk dan menggetarkan tubuhku, menggemerutkan gigi, dan mengeraskan jari jemariku. Sebentar aku akan memainkan jurus macan edan, jurus yang akan menyungkurkan Jante Arkida, dengan luka-luka cakaran di sekujur tubuh.

Tubuh Jante Arkidam tenggelam dalam ladu parit berbau jengkol. Sementara aku di atas panggung, bergelut dengan alunan suara Ida Laelasari yang semakin lama makin mengobarkan syahwat.

“Sarkunu..., suatu saat aku akan menelan mentah-mentah kanjutmu!” pekik Jante Arkidam sebelum digusur dua anggota Babinsa.***

November, 2020

 

Pulau Buaya

Sekian kali terbang melintasi perairan Kota Tarakan, belum pernah sekalipun aku melihat pulau itu. Kali ini saat aku terbang bersama Ida Laelasari—penyanyi dangdut yang kucintai setengah mati, pulau itu terpampang. Pulau berbentuk telur yang  hanya beberapa mil saja dari muara Sungai Sesayap. Aku melihatnya saat pesawat yang membawaku dari Jakarta hendak mendarat di Tarakan. Cukup jelas pemandangan di atas pulau itu. Yang paling menohok adalah sebuah kastil di tengah pulau.

Beberapa kali aku menggosok mata. Menggeleng-gelengkan kepala dan memusatkan pandangan ke bawah. Memastikan pengelihatanku. Jelas dan nyata. Bukan mimpi atau fatamorgana. Pulau dengan rimba yang tampak hijau tua dengan kastil di tengah-tengahnya. Kuperkirakan ujung pulau itu lurus dengan ujung landasan bandara. Aku sempat mengabadikan pulau itu dengan kamera hand phone, tiga kali jepretan sebelum kemudian hand phone ku mati seketika pada jepretan keempat karena low batt. Tak kuhirau Ida Laelasari yang melongo.

Duduk istirahat setelah mendarat di Bandara Juwata Tarakan, imajinasiku tak diam. Pulau itu, hutan itu,  kastil itu dan para penghuninya. Barangkali itulah Pulau Buaya. Kastil istana buaya. Kenapa aku baru melihatnya sekarang? Kenapa aku tak pernah mendengar ceritanya? Ida Laelasari bersikukuh menganggap pulau itu adalah pulau imajinasiku. Aku bersikeras itu pulau nyata.

Setengah jam imajinasiku ke sana kemari.  Batrai hand phoneku terisi cukup. Aku ingin melihat kembali pulau itu. Segera kuhidupkan dan kubuka galery foto. Tiga buah foto terakhir membuat aku terkejut dan memekik histeris.***

September,  2020

 

Tasbih Untuk Ida Laelasari

Kukatakan pada Ida Laelasari bahwa jika betul-betul ingin berhijrah maka pakailah tasbih ini. Aku tak menjualnya seperti pada orang lain. Aku memberinya cuma-cuma dengan empati yang dalam atas keinginannya untuk meninggalkan dunia malam. Dunia yang telah puluhan tahun menjadikannya sebagai kupu-kupu.

Sekarang sudah waktunya Ida Laelasari bermetamorfosis. Gusti Allah maha pengampun. “Kamu masih berpeluang masuk sorga dari pintu mana pun,” Meski tampak masih gamang, Ida Laelasari akhirnya menerima tasbih dari tanganku. Aku lega. Aku berdoa agar tasbih yang kuberikan memberi khasiat yang sama pada Ida Laelasari, membuat rajin sholat dan wirid.

Ida Laelasari mendatangiku seminggu kemudian. Mengajaku makan di sebuah restaurant. Sambil makan Ida Laelasari bercerita bahwa sejak  memegang tasbih, ia jadi rajin sholat dan wirid. Tapi sejak itu pula tamu yang ingin kencan dengannya bertambah. Tiap malam Ida Laelasari harus melayani 3 sampai 5 tamu.

“Semakin bertakwa, semakin lancar rejeki ya!” 

Darahku terasa dingin.***

September, 2020

 

Penunggang Kuda Itu Mirip Aku

Terpaksa aku membatalkan rencana pertemuan dengan Ida Laelasari, penyanyi kosidah yang kalau ngaji, merdunya membuat para malaikat jatuh cinta. Seorang pria menjemputku. Mengatakan anaku sakit parah. Aku tak yakin betul pria gelap itu manusia. Mungkin jin atau siluman. Sebab mata kananku melihat pria itu; berupa manusia purba berkepala codot. Dengus nafasnya membuat dedaunan di sekitar kering.

Aku tak bisa menolak ajakannya. Ketika kami berhadapan ia lebih dulu meniupkan sihir. Asap tembakau linting yang kutiupkaan tak mampu menangkis sihirnya. Pukimak! Sihirnya seperti belaian tangan 7 bidadari sorga. 

Dugaanku ia naik jeep keliru. Sebab nyatanya yang tampak di halaman, dua ekor kuda berkepala buaya. Aku mulai curiga bahwa ia datang bukan untuk membawaku ke RS tapi ke liang lahat. Kalau kecurigaanku betul, betapa horornya Tuhan menciptakan kematianku.

Tepat ketika burung kueuk berbunyi ia mengajaku berangkat. Kubaca basmallah. Malam mendadak makin hitam dan senyap. Kuda kami meringkik nyaring . Ia bergerak lebih dulu, menyusul aku yang sudah siap dengan rencana putar halauan setelah ia meninggalkanku jauh. Sayang rencanaku kandas sebab, saat aku menoleh, di belakang,  gerombolan penunggang kuda bergerak mengawal kami. 

Para penunggang kuda itu mirip aku.***

 Agustus, 2020

Penulis: Perantau dan pemantau danau igau, tinggal di Cikijing, Majalengka

Posting Komentar

0 Komentar