Recents in Beach


Sepeda Narti

 

Oleh Pudji Pamungkas

Narti masih tetap saja mengayuh sepedanya meski kakinya telah mulai terasa pegal. Sepeda tua berwarna hitam peninggalan dari almarhum bapaknya yang ia tumpangi itu adalah benda berharga yang menjadi kesayangannya. Betapa tidak, kendaraan roda dua tanpa bahan bakar itu adalah teman setianya yang selalu menemani dan menjadi satu-satunya alat transportasi yang ia gunakan untuk pergi dan pulang sekolah. Penghasilan ibunya yang menjanda dari berjualan warungan yang tak seberapa, tak memungkinkannya menggunakan jasa kendaraan angkutan umum.

Butir-butir keringatnya berleleran membasahi kening dan sekujur badannya. Namun ia tak terlalu memedulikannya meski baju seragam yang ia kenakan juga basah oleh keringat. Apa boleh buat, tak ada pilihan lain. Ia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Seperti pagi biasanya, selepas membantu ibunya di dapur dan menyiapkan barang dagangannya, Narti segera bergegas menuju ke sekolah. Jarak ke sekolah dari Imogiri tempat ia tinggal berdua bersama ibunya ditempuhnya sekitar empat puluh lima menit, dan itu waktu yang normal yang biasa ia tempuh. Tapi pagi itu Narti sedikit agak terlambat berangkat. Ban belakang sepedanya kempes. Mau tak mau ia harus mencari pinjaman pompa angin ke tetangganya karena ia yakin tukang tambal ban di ujung jalan di pagi seperti ini sudah pasti belum buka.

Jalanan masih belum begitu ramai. Lalu lalang kendaraan memang tidak seramai hari- hari biasanya. Maklum hari itu adalah hari sabtu, sebagian pegawai kantoran libur. Narti berusaha mengayuh lebih cepat laju sepedanya. Ia tak ingin terlambat masuk kelas. Ia juga tak ingin peluang untuk mendapatkan bea siswa dari sekolahnya hilang gara-gara sering terlambat. Dalam sebulan ini ia telah empat kali terlambat. Namun baru saja ia menempuh setengah perjalanan, mendadak ban belakangnya kembali kempes.

“Wah, ada-ada saja. Apes tenan. Ban ini pasti bocor.” Narti bergumam, mengeluh dalam hati.

Narti menghentikan laju sepedanya. Ia turun dan meminggirkannya ke sisi kiri jalan. Setelah memeriksa sesaat ia lalu celingak-celinguk ke berbagai arah. Pandangannya mencari-cari kalau-kalau ada tukang tambal ban di sekitarnya. Ia tampak sedikit putus asa manakala tatapannya tak menemukan adanya tukang tambal ban. Perlahan Narti berjalan menuntun sepedanya sambil mencoba mengingat-ngingat di mana tempat tukang tambal ban yang terdekat dengannya? Namun belum lagi sampai sepuluh meter ia beranjak, tiba-tiba tanah tempatnya berpijak terasa bergoyang. Bumi bergetar hebat. Guncangan itu begitu kuat. Ia sempoyongan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Nartipun terjatuh, dan sepeda yang dituntunnya menimpa tubuhnya. Ia merasakannya seperti benda besar yang jatuh menghimpit badannya dengan suara yang berderak keras. Narti belum benar-benar sadar terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Bersamaan dengan itu beberapa bangunan yang berada disisinya dan juga rumah-rumah di seberang jalan ambruk porak-poranda. Suara jerit tangis orang-orang terdengar disana-sini.

“Lindu.…. lindu........... Ono lindu...… Allahhu Akbar …..!!”

“Pakne ….. Tuluuung ……. Tuluuung Adduuuuhhh…. biyuunngg….!!”

Narti mendengar berbagai macam teriakan dan suara jeritan orang mengaduh meminta tolong. Orang-orang tampak lari berhamburan ke luar rumah. Beberapa orang tampak keluar merangkak dengan kepala dan badan dipenuhi bercak darah berusaha keluar dari reruntuhan bangunan yang telah ambruk dan nyaris rata dengan tanah.

Narti masih terkesima. Ia tampak sok dan ketakutan. Tanpa sadar ia berteriak: “Ibu…...…!!” Lalu pada saat batas kesadarannya muncul, tangis Narti pun pecah. Ia menangis sejadi-jadinya. Seumur hidupnya belum pernah ia melihat dan mengalami kejadian yang mengerikan itu kecuali hanya lewat berita-berita di televisi. Berita-berita yang menayangkan kejadian-kejadian bencana alam yang belakangan ini memang sering melanda di banyak wilayah di negeri ini.

Kepala Narti terluka. Darah menetas dari bagian kepala lalu mengalir membasahi dahi dan lehernya. Narti mengira luka itu mungkin akibat kepalanya terantuk batu atau benturan besi stang sepeda yang menimpa tubuhnya. Ia tak terlalu mempedulikannya. Dengan sapu tangan yang biasa ia selipkan di saku bajunya ia lalu berusaha mengusap darah yang masih terus menetes. Namun belum lagi sempat ia membersihkan semuanya, sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil namanya.

“Narti……! Narti……!!” Narti pun menoleh ke arah suara panggilan itu. Dari kejauhan, Prapto, teman sekelas di sekolahnya tampak berlari-lari kecil mendekatinya.

“Kamu tidak apa-apa Ti?” Tanya Prapto sambil memandangi sekujur tubuh Narti, memeriksa kalau-kalau Narti terluka.

“Aku ndak apa-apa kok Prap. Hanya kepalaku sedikit terluka. Kamu sendiri bagaimana?” Narti balas bertanya. Terdengar suaranya bergetar bercampur isakan tangis. Butir-butir air matanya tampak masih membasahi pipinya.

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Waktu gempa tadi aku baru saja turun dari angkutan kota, disuruh bapakku mampir dulu ke rumah nenekku, kebetulan aku tadi melihatmu.” Jawab Prapto sambil tangannya berusaha meraih sepeda Narti.

“Sini aku bawakan sepedamu. Ban sepedamu kempes ya?” Prapto lalu mengambil alih sepeda Narti.

“Sekarang bagaimana? Kita pulang naik apa?”

“Iya. Aku juga bingung Ti.” Jawab Prapto. Wajahnya tampak menerawang mencoba berpikir mencari jalan keluar.

“Bagaimana kalau kita ke rumah nenekku saja dulu. Tidak jauh kok, nanti kita pinjam motor pakdeku, mudah-mudahan ada.” Prapto meminta pendapat Narti sambil jari telunjuknya menunjuk ke suatu tempat di ujung jalan.

“Itu dekat perempatan jalan di sana.”

“Tapi, ee... bagaimana ya? Aku khawatir dengan keadaan Ibuku. Jangan jangan… ”

Narti tidak meneruskan ucapannya. Butir-butir airmatanya tampak kembali menetes. Ia mencemaskan keadaan ibunya yang sendirian di rumah.

“Iya, sama. Aku juga khawatir dengan keadaan keluargaku. Kita berdo’a saja mudah- mudahan mereka tidak apa-apa.” Mata Prapto juga berkaca-kaca. Ia juga tak kuasa menahan perasaannya yang gundah gulana tak menentu. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke arah perempatan jalan yang ditunjuk Prapto.

Di sepanjang jalan yang mereka lalui suasana tampak hiruk pikuk dipenuhi oleh orang-orang yang panik keluar dari rumah-rumah mereka yang rata-rata sudah tidak utuh lagi bentuknya. Beberapa orang tampak membopong seseorang dari reruntuhan bangunan yang agaknya telah tewas. Tiba-tiba dari arah ujung jalan muncul beberapa sepeda motor yang melaju dengan cepat diiringi beberapa kendaraan terbuka dan truk yang dipenuhi muatan orang.

“Tsunami! Tsunami! Ayo cepat ngungsi!!” Orang-orang di atas kendaraan itu berteriak-teriak mengajak mereka yang ada di sepanjang jalan untuk segera pergi mengungsi. Teriakan-teriakan yang mengabarkan akan terjadinya bencana tsunami membuat orang-orang menjadi semakin panik. Keadaan menjadi semakin tak terkendali, suasananya begitu kacau. Beberapa orang tampak berlarian ke jalan mencegat kendaraan yang lewat. Mereka membayangkan bencana yang lebih parah akan menimpanya, seperti kejadian di Aceh dan Nias beberapa waktu yang lalu.

Prapto dan Narti segera bergegas mempercepat langkah kakinya. Sampai di dekat perempatan jalan mereka berjumpa dengan mas Dirman, kakak sepupu Narto, anak pakdenya yang tinggal bersama neneknya.

“Mas bagaimana keadaan simbah dan pakde?” Prapto menanyakan keadaan nenek dan pamannya kepada Dirman sambil menyandarkan sepeda Narti di pagar masjid yang berada tak jauh dari rumah neneknya. Tak lupa ia juga mengenalkan Narti kepada mas Dirman.

“Ini teman sekolahku mas, namanya Narti. Sekarang simbah dan pakde ada di mana mas?”

“Simbah di rumah bersama pakdemu. Mereka selamat. Rumah simbah juga tidak apa- apa, hanya retak-retak sedikit.” 

Seperti tak sabar Prapto segera bergegas melangkah untuk menemui nenek dan pakdenya. Rasa penasaran ingin segera melihat keadaan nenek dan pakdenya, membuat Prapto spontan meninggalkan mas Dirman dan Narti begitu saja. Prapto seperti tak sadar kalau saat itu ia sedang bersama Narti. Baru setelah beberapa meter melangkah Prapto menyadari kalau ia meninggalkan Narti bersama mas Dirman begitu saja. Menyadari kekeliruannya Prapto segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, tapi ia tak melihat Narti, begitu pun mas Dirman, padahal ia belum berjalan terlalu jauh meninggalkannya.

“Narti! Narti…..!” Prapto memanggil-manggil sambil matanya mencari-cari Narti.

“Mas…mas Dirman!” “Ke mana mereka? Cepat sekali menghilangnya?,” pikirnya. Prapto berusaha mencari-cari mereka di antara hiruk pikuk kerumunan orang yang tengah panik. Ia kembali mencari sampai ke perempatan jalan. Tapi ia tak menemukan keberadaan Narti dan mas Dirman. Begitupun sepeda Narti yang tadi ia sandarkan di pagar masjid, tak tampak lagi di sana.

“Narti!! Narti……!! Di mana kamu?” Prapto kembali memanggil-manggil nama Narti. Ia mencoba menanyakan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, tapi semua menggelengkan kepala.

“Apa mungkin dia marah karena aku tadi meninggalkannya begitu saja?” “Ah, tak mungkin Narti pergi sendiri begitu saja dengan ban sepeda yang kempes.” Prapto mencoba berargumen pada dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat tak menemukan Narti dan juga mas Dirman, Prapto pun segera menuju ke rumah neneknya. Rumah itu terlihat retak-retak di beberapa bagian dindingnya. Beberapa perabotan rumah masih berserakan di lantai, berantakan. Rumah-rumah dan bangunan lain yang berdekatan dengan rumah neneknya jauh lebih parah keadaannya.

Orang-orang tampak berkerumun di luar rumah, sebagian tampak terluka. Prapto segera memasuki rumah neneknya, tapi ia tak menemukan siapa-siapa di dalam. Mata Prapto menelisik ke segenap penjuru ruangan. Tiba-tiba matanya terbelalak. Di sudut ruangan dekat pintu yang menuju ke dapur Prapto melihat sebuah sepeda hitam tua, mirip kepunyaan Narti. Ia lalu mendekatinya. “Sejak kapan nenek punya sepeda hitam itu?”

Hatinya bertanya-tanya. Ban bagian belakang sepeda itu juga kempes, persis seperti keadaan sepeda Narti saat ia bertemu dan akhirnya ia tinggalkan tadi. “Ah, mungkin saja memang mirip. Di Jogja ini kan banyak orang memiliki sepeda.” Ia mencoba menjawab sendiri pertanyaan hatinya, meski jawaban itu tetap meninggalkan rasa penasaran yang mengganjal di fikirannya. Sepeda hitam tua itu benar-benar mirip sekali dengan kepunyaan Narti. “Atau jangan-jangan memang kepunyaan Narti? Ah, tak mungkin! Bukankah tadi sepeda itu aku tinggalkan di pagar masjid.”

Prapto lalu bergegas menuju ke halaman belakang dan perasaannya menjadi lega manakala melihat kondisi nenek dan pakdenya selamat. Nenek dan pakdenya tampak tengah memeriksa pagar di halaman belakang rumah yang sebagian dindingnya ambruk sehingga ia bisa melihat suasana di belakang rumah neneknya. Ia pun segera sungkem dan memeluknya.

Nenek dan pakdenya terlihat terkejut melihat kedatangan Prapto yang tiba-tiba dan dalam situasi gempa seperti itu.

“Lha, kowe kok ning kene to le? Bapak, ibu lan adi-adimu piye?” Tanya neneknya sambil memeluk erat cucunya. Keduanya lalu bertangisan.

“Prapto belum tahu keadaan mereka mbah. Prapto tadi disuruh bapak untuk mampir dulu kesini sebelum ke sekolah.” Prapto menjelaskan kenapa pagi-pagi begini ia datang, karena memang tak biasanya ia menyambangi neneknya saat berangkat ke sekolah.

“Prapto tadi kesini bersama teman sekolah mbah….., tapi sekarang entah kemana, padahal tadi rasanya baru beberapa langkah Prapto meninggalkannya bersama mas Dirman di dekat masjid.”

Belum sempat nenek dan pakdenya mengomentari penjelasan Prapto, berapa kali tanah tempat mereka berdiri terasa kembali bergoyang. Gempa agaknya masih belum berhenti. Mulut nenek dan pakdenya tampak komat-kamit membaca do’a.

Dari balik pagar Prapto melihat orang-orang masih memenuhi jalanan. Mereka belum berani masuk ke rumah meski rumah mereka masih cukup utuh. Mereka masih mengkhawatirkan kemungkinan akan ada gempa susulan. Di jalanan suara raungan sirine mobil ambulans yang mondar mandir mengangkut para korban terdengar bersahut-sahutan.

Setelah berbicara sesaat dan tak lupa menyampaikan pesan dari bapaknya, Prapto lalu berpamitan.

“Mbah, pakde…. kalau begitu Prapto pulang dulu ya. Prapto ingin memastikan keadaan di rumah.” Prapto lalu mencium tangan simbah dan pakdenya.

“Kowe mau merene numpak opo le?” Tanya neneknya. Prapto baru sadar bahwa tak mungkin ada kendaraan umum yang beroperasi dalam situasi seperti ini. Sesaat ia memutar otak, berpikir. Ia lalu teringat bahwa tadi ia memang berencana bersama Narti untuk meminjam sepeda motor pakdenya.

“Motor Pakde ada? Ndak rusak?” Prapto menanyakan sepeda motor milik pakdenya. “Di garasi le. Kuncinya ada di meja ruang tengah. Ambil saja.” Kata pakdenya sambil menunjuk ke dalam rumah.

“Nanti langsung ngabari kesini ya. Pakde ndak bisa nelpon ke sana, lha wong kabel telponnya putus.”

Bergegas Prapto masuk ke ruangan dalam dan mencari kunci motor di tempat yang ditunjukkan pakdenya. Ia tak menyadari jika sepeda hitam yang tadi dilihatnya tersandar di dinding telah tak ada lagi di tempatnya. Pikirannya terfokus untuk segera menemukan Narti. Dan setelah berhasil mendapatkan kunci motornya Prapto segera menuju ke ruang garasi, mengeluarkan dan menghidupkan mesinnya.

***

Motor yang ditumpangi Prapto segera melaju di antara kerumunan orang-orang yang ada di jalan. Pikiran dan hatinya gamang, ia harus memilih, apakah langsung menuju ke rumahnya dulu menengok keadaan keluarganya atau langsung ke rumah Narti? Siapa tahu Narti tadi langsung pulang. Ia perlu memastikan keadaannya. Ia memang merasa bersalah karena tadi telah meninggalkannya dalam situasi yang kacau.

Sepanjang perjalanan yang dipenuhi oleh orang-orang dan kendaraan yang hilir mudik membawa para korban, Prapto kembali menimbang-nimbang antara langsung pulang ke rumah atau mencari Narti terlebih dahulu. Namun rasa pertemanan yang kuat membuat Prapto akhirnya memutuskan untuk mendahulukan mencari dan menemukan Narti. Ia berharap siapa tahu di perjalanan ia bertemu dengannya, karena bisa jadi kemungkinan tadi Narti langsung pulang sambil menuntun sepedanya yang kempes.

Sepeda motor yang dikendarai Prapto telah melewati beberapa blok pemukiman. Rumah Narti tinggal sekitar dua blok lagi, tapi ia masih belum juga menjumpai Narti di perjalanan.

”Ah rasanya tak mungkin Narti berjalan secepat itu dengan ban sepeda yang kempes.” Hati dan pikirannya kembali bergulat.

Setelah melewati sederetan pertokoan lama yang juga telah hancur, tak berapa lama kemudian Prapto melambatkan laju sepeda motornya. Ia membelokkan sepeda motornya ke sebuah jalan buntu yang tak terlalu lebar seukuran gang dan hanya bisa dilewati oleh sepeda motor. Gang itu adalah satu-satunya jalan untuk bisa menuju ke rumah Narti.

Dalam situasi seperti ini Prapto tak mungkin memasuki gang itu dengan sepeda motornya. Gang itu dipenuhi oleh banyak orang dan juga puing-puing reruntuhan tembok pagar dan bangunan yang berserakan di sepanjang gang. Hampir tak ada satu pun bangunan di sepanjang gang itu yang masih berdiri utuh. Suasana kampung itu mirip sebuah tanah lapang yang dipenuhi dengan berbagai bongkaran bangunan, mirip sebuah kota yang baru saja diluluh-lantakkan oleh sebuah bom berkekuatan super dahsyat. Beberapa warga kampung yang terluka dan mungkin juga telah tewas tampak sedang diletakkan berjajar di atas hamparan tikar plastik di sebuah halaman yang cukup lapang.

Prapto yakin orang-orang itu telah tewas, karena tubuh mereka ditutupi dengan lembaran kain hingga menutupi wajah mereka. Prapto lalu memarkirkan sepeda motornya tak jauh dari tempat itu.

Dengan sopan santun dan tata krama jawa khas orang Jogja, Prapto berusaha menyapa dan memberi salam kepada beberapa penduduk yang kelihatan sedang sibuk mengurus para korban.

“Kulonuwun pak, mas….. saya mau ikut numpang parkir motor saya disini. Saya mau menengok teman saya Narti yang tinggal di ujung sana.” Ujar Prapto memberi salam dan meminta izin dari mereka. Jempol kanannya ia gunakan untuk menunjuk ke ujung gang, tempat dimana rumah Narti berada.

“Narti…..? Narti anaknya bu Prawiro yang sekolah di SMEA itu? Nak ini siapa dan dari mana?” Seseorang yang usianya sudah agak lanjut bertanya. Tatapan matanya yang dalam tampak menyelidik.

“Inggih Mbah, Narti. Narti anaknya bu Prawiro yang buka warung di ujung sana itu.” Prapto membenarkan penjelasan orang tua itu.

“Nama saya Suprapto mbah, teman sekolah Narti. Dia tadi bersama dengan saya. Kebetulan kami bertemu di jalan. Kami sama-sama mau berangkat ke sekolah dan di tengah jalan ban sepeda Narti kempes. Saat itulah gampa terjadi. Ehmm….. lalu saya mengajaknya mampir ke rumah simbah saya yang rumahnya tak jauh dari situ. Tapi….. ee… karena saya terburu-buru ingin segera melihat keadaan simbah saya, saya lupa dan meninggalkan Narti begitu saja. Dan…… setelah itu saya tak melihatnya lagi.” Setelah memperkenalkan namanya Prapto menjelaskan secara panjang lebar kronologis pertemuan dan perpisahannya dengan Narti. Orang tua itu mengangguk- anggukkan kepalanya dengan dahi mengernyit yang membuat gurat-gurat wajahnya semakin tampak tua. Wajah dan sorot matanya terlihat menyiratkan keraguan atas keterangan Prapto tadi.

“Saya khawatir dia kenapa-kenapa. Makanya saya sengaja segera menyusulnya kemari mbah.” Prapto melanjutkan penjelasannya.

“Saya permisi dulu.” Prapto tampak sudah tak sabar untuk segera beranjak dari tempat itu menuju ke rumah Narti.

“Tunggu dulu nak.” Orangtua itu berusaha menahan kepergian Prapto sambil berjalan mendekati salah satu jenazah yang dibaringkan berjajar di dekatnya. Tangannya yang kurus dan tampak sudah mulai keriput di makan usia membuka kain yang menutupi sosok jenazah tadi.

“Maksud nak Prapto, Narti yang ini?” Tanya orang tua itu sambil memperlihatkan tubuh salah satu jenazah yang tampak mengenaskan. Kepala mayat itu tampak terluka parah. Darah yang mulai mengering di bagian wajah dan juga di beberapa bagian tubuh lainnya agaknya belum sempat dibersihkan. Prapto terkesiap manakala melihat wajah di balik kain penutup jenazah yang dibuka orang tua itu. Jangtungnya serasa berhenti. Ia nyaris tak percaya. Sesaat ia lalu meneliti dengan seksama jenazah yang ada yang ada di hadapannya. Hampir saja ia berteriak histeris karena terkejut luar biasa. Benar! Wajah itu adalah wajah Narti. Tak mungkin ia salah mengenali. Jenazah itu adalah jenazah Narti.

Pakaian seragam sekolah yang dipakainya pun adalah pakaian seragam yang tadi dipakai oleh Narti saat bersamanya. Tapi bagaimana mungkin Narti bisa berada di antara jenazah-jenasah itu? Bukankah ia tadi masih bersamanya saat gempa terjadi? Batin Prapto terus bertanya-tanya.

“Dia ditemukan tewas di antara tumpukan reruntuhan bangunan rumahnya yang ambruk nak. Agaknya waktu gempa pertama tadi, dia pas hendak berangkat ke sekolah. Tubuhnya ditemukan tertindih sepeda dan juga tembok serta atap rumah yang ambruk menimpanya. Bu Prawiro juga ditemukan tewas di dalam warungnya yang juga ambruk. Itu dia sepedanya.” Orangtua itu berusaha menjelaskan kepada Prapto kejadian yang menimpa Narti dan Ibunya saat gempa terjadi tadi. Ia lalu menunjuk sebuah sepeda tua berwarna hitam yang terparkir di dekat sebuah pos ronda tak jauh dari tempat Prapto berdiri. Sepeda itu tampak masih utuh, namun ban belakangnya terlihat kempes.

Beberapa saat Prapto tak bisa berbicara. Ia bingung oleh kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya. Ia mencoba mengingat-ngingat peristiwa yang tadi dialaminya bersama Narti. Ia yakin bahwa semua itu bukan mimpi atau halusinasinya. “Nyatanya aku ada disini untuk mencarinya.” Prapto berusaha menyakinkan dirinya, bahwa apa yang ia alami memang nyata.

“Tapi mbah ……?” Prapto tak melanjutkan ucapannya. Ia merasa percuma menjelaskan rentetan peristiwa yang ia alami tadi bersama Narti. Orang-orang pasti tak akan percaya.

Dalam keadaan bingung bercampur sedih karena teman yang sedari tadi dicarinya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa, Prapto pun lalu segera teringat pada nasib keluarganya yang belum sempat ia ketahui keadaannya. Setelah menyampaikan terima kasih kepada orang tua itu dan juga ucapan belasungkawa kepada penduduk yang ada di sekitarnya, Prapto pun meminta diri, berpamitan untuk menengok keluarganya.

“Nuwun sewu, saya mohon izin untuk pamit dulu. Saya belum sempat melihat keadaan rumah dan keluarga saya.”

“Monggo, monggo……dik. Sebaiknya adik segera pulang saja menengok keadaan di rumah. Hati-hati di jalan.” Seseorang yang tampaknya adalah tokoh masyarakat di situ memberi saran kepada Prapto.

“Inggih. Matur nuwun pak. Monggo… ” Prapto berpamitan dan segera melangkah ke arah sepeda motor yang tadi diparkirnya. Hatinya pedih. Ia tak lagi kuasa untuk menyaksikan keadaan rumah dan jasad orangtua Narti.

***

Beberapa kali getaran gempa dalam skala kecil masih terasa. Prapto lalu menuntun sepeda motornya sampai ke ujung depan gang. Ia merasa tak enak menstarter sepeda motornya di depan orang-orang dalam suasana yang seperti itu. Sampai di ujung gang Prapto segera menaiki sepeda motornya, menghidupkan mesinnya dan segera melajukannya ke arah tempat tinggalnya dengan suasana hati yang gundah gulana, kebingungan tak mengerti apa yang sedang dialaminya.

Sementara itu nun di sana, di sisi pagar masjid dekat rumah neneknya, seorang gadis remaja berpakaian Sekolah Lanjutan Atas tampak berdiri termangu sendirian dengan tatapan mata yang kosong. Di sisinya sebuah sepeda tua berwarna hitam tampak bersandar di pagar masjid.

Sore menjelang maghrib gerimis kecil mulai turun perlahan membasahi bumi Jogjakarta. Langit tampak kelam. Sekuntum bunga kemboja yang tumbuh di halaman masjid melayang jatuh di atas tanah yang mulai basah, dan gadis remaja itu masih tetap berdiri di sana dengan sepeda hitamnya, seperti tengah menanti seseorang.

***

Jakarta, 20 Februari 2010

Pudji Pamungkas


Posting Komentar

0 Komentar