Recents in Beach


Ilmu Sastra Baru Teori Sujud Li Sajidin

Ilmu Sastra Baru Teori Sujud Li Sajidin
Kebebasan dan Keterbatasan Manusia



Oleh Hudan Hidayat*


Saat tercipta, manusia, mulai menjadi kemungkinan: patuh, atau ingkar. Demikian juga dengan ciptaan, sastra: kemungkinan patuh, atau ingkar, adalah potensinya. Pada saat yang sama menganga enigma: mengapa Allah tidak mau menyatukan manusia sebagai satu umat dengan agama yang menaungi. Jawabnya (QS Al-Maidah ayat 48) adalah sebuah kata yang makin melipatgandakan misteri yakni ujian, yang dalam tradisi kemanusiaan, kata ini akan membelah manusia ke dalam dua lajur adalah lulus dan tidak lulus. Tentu saja penghampiran seperti ini selintas saja karena isyarat dariNya: penggemar ayat-ayat mutasyabihat seperti ini mengindikasikan kekafiran. Yang tersisa dari lubang tanpa dasar ini adalah: sebagai muslim kita diminta patuh sujud Li Sajidin kepada Allah. Sisanya kita tidak tahu, atau bukanlah kawasan kita untuk menjawabnya. Manusia diberi kebebasan memikirkan, tapi dalam lingkaran yang terbatas. Bagaimanapun ia takkan bisa berpikir seperti Allah berpikir.


Puisi Padamu Jua patuh kepadanya. Tapi siapakah "nya" ini? Apakah "nya" ini patuh kepadanya yang patuh kepadanya? Ia menjadi teka-teki yang menarik. Semenarik mengapa potensi patuh atau ingkar bisa terjadi di dalam puisi. Bukankah puisi adalah buah penyairnya? Kalau demikian yang patuh, atau yang ingkar, adalah penyairnya, bukan puisinya? Seandainya dikatakan ingkar, apakah ada kekuatan lain, yang menjadi penyebabnya? Seandainya dikatakan patuh, apa sebabnya? Pertanyaan yang harus dijawab oleh ilmu sastra. Kita tahu ilmu sastra di negeri kita tidak pernah memasuki hal yang kita persoalkan ini. Jadi ia cara berpikir yang baru di sastra kita, konsekwensi saat kita menukar sumber sastra: bukan ke "barat" lagi tapi ke Al-Qur'an.


Kini Al-Qur'an yang menjadi pusat, bukan work/karya seperti model Abrams. Dengan Al-Qur'an, artinya Allah, yang menjadi pusat, seperti pusat puisi: penyair. Pusat yang bergeser - dari Allah ke manusia; dari penyair ke puisinya, tidaklah permanen, ia pergeseran sementara. Allah tetap: menjadi pusat acuan, seperti penyair: darinya puisi bermula. Tetapi seperti manusia dengan Allah, yang memiliki celah untuk menyimpang, demikian juga puisi: ia bisa berlari dari "tangan" penyair, seperti kita berlari dari "buaian" Allah.


Watak manusia begitu jelas di Buah Rindu, tetapi samar-samar di Padamu Jua. Ia samar-samar, karena penyair mensugestikan Allah melalui bait-baitnya. Empat seuntai Amir bentuk sangat maju dari pantun: ia bergerak sampai tujuh bait. Angka tujuh? Apakah kebetulan, atau simbolik dari - "tujuh ayat berulang", seperti begitu tegas Allah terbaca - tepatnya terkesan, pada bait ketiga, makin menegas pada bait keempat. Bahkan kelima, dan keenam. Atau baiklah kita katakan bahwa "tujuh bait berulang" Amir Hamzah ini, memang mengesankan Allah bukan manusia. Tetapi bergerak dari dua konvensi, kesan itu hilang, atau, setidaknya, ambigu. Konvensi tata bahasa memang bisa dilanggar (tetapi apa yang mau dicapai dengan pelanggaran? Inilah soalnya keadaan inkonvensional).


Padamu Jua Amir ini tidak punya niat untuk melanggar konvensi. Awal setiap baris puisi memakai huruf kapital. Jadi, setia dengan tata bahasa. Sehingga "nya" yang dimaksudkan tidak punya peluang untuk menjadi "Nya" - Dia. Peluang terbuka lewat konvensi bahasa puisi, yaitu bahasa kiasan, yang mungkin akan membuat "nya" manusia menjadi "Nya" Allah. Terjadilah perubahan mimetik menjadi semiotik di Padamu Jua. Hanya, terjadikah ia di Padamu Jua? Karena itu kita bertanya, sebenarnya, "nya" ini siapa? Terpukau pada "tujuh bait berulang" Amir Hamzah ini, merenungi kemiripan bunyi manusia dan bunyi Allah dalam arti sifat, atau ciri. Apakah melalui manusia sebuah sajak bisa berbicara tentangNya? Bertanya mengapa harus melalui manusia? Mengapa tidak langsung kepadaNya, serangkaian yang ditimbulkan oleh konvensi huruf kapital. Untuk apa menyusun lainlain sedangkan ia lain-lain?


Boleh melanggarnya tapi untuk apa? Sebagai serangkaian sehimpunan tanda, tiap tanda dalam puisi haruslah saling menguatkan. Kalau tidak, apa gunanya? Puisi atau sastra bukanlah kegiatan anak-anak kecil yang bermain-main dengan bahasa walau kata permainan ini sering disertakan dalam pengertian puisi. Anak kecil tidak punya kedalaman karena wawasannya belum terkembang. Anak kecil tidak punya wawasan keindahan karena dirinya sendirilah bagian dari keindahan serta kemurnian. Puisi adalah mulut segar bayi, tanpa dosa, di pangkuan ibunya. Oleh sebab hal-hal ini bahasa, di tangan penyair, dipikirkan seperti "tumpat pedat" atau kini, "habis kikis", untuk mengucapkan keadaan dalam puisi. Polisemi, mereka ini: habis, tapi ditekan lagi: kikis, untuk menunjukkan keadaan kosong. Kosong dari apa? Mengapa? Puisi adalah sebuah riwayat penyairnya sendiri. "Habis kikis" tadinya bukanlah makhluk pertama yang diam di Padamu Jua, ibunya. Tapi di diri penyair - di jiwa yang mengada pada badan Amir Hamzah, ayahnya. 


Ia keadaan before, dari Creating of Meaning, sebuah langkah teori membaca puisi (Riffaterre), yang kamu ikuti setia, tapi di sini, ia selalu ditawar, untuk dibelokkan, kepadaNya. Kepada Allah. Ada di diri penyair, kata "kosong" berdentang di sini: kehilangan menyebabkan kepenuhan. Kamu jatuh cinta, cintamu tak sampai, kosong hatimu, tapi penuh bahasamu, andai ada "tangan puisi" dalam jiwamu. Andai tidak, kekosongan itu hanya menjadi cermin sedih pada wajah kita. Nelangsa ati ni. Duh, dikau bak bulan, Dik, jauh dari genggaman. Diri punguk indew ngen bulen. Berjalan ke mana-mana, kosong. Di putik ada wajahmu, di ranting ada wajahmu, di batang sepenuh wajahmu. Tapi bukanlah milikku. Ai yiyiku. 


Itulah "habis kikis", dak biso dikerok lagi, lah sampai ke balik sub atomikkah, "habis kikis" ini? "Habis kikis" yang mula-mula menerpa ke badan, sebelum masuk ke dalam: ruh tempat kita bertanya: kehilangan apa mirruhi ini? Siapa sasaran cintanya? Kalau "nya" itu seorang perempuan Jawa seperti yang diantitesakan oleh Damiri Mahmud, alangkah dosanya Amir Hamzah kepada Allah? Anak Melayu tak tahu adat karena telah mencampakkan nilai-nilai Al-Qur'an yang dipigura dengan khidmat oleh tetua-tetua Melayu. Dak buli mencintai seperti itu selain kepada Allah. Tapi Rumi membela Amir di sini: Hudan, itu karena engkau bukanlah Majnun, kecek Laila. Pacak pulo Rumi ko. Kenai tinjuNyo baru nga tau raso.


Bait pertama, tidak ada petunjuk bahwa "nya" itu Dia. Menjadi pertanyaan antara "cintaku hilang terbang" dan "pulang kembali aku padamu". Kata "seperti dahulu", yang mengisyaratkan "pernah" di masa lalu. Pernah apa? Si aku berbicara tentang "cintanya", yang "habis kikis", tak tersisa lagi. Kepada siapa? Terkesan ada hubungan, tapi samar, sebuah upaya, dari pernyataan


"Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang".


Sekuen waktu mengabur di dalam puisi karena puisi (lirik) tak punya "cerita naratif": kisah, di dalam puisi, ditautkan oleh imajinasi serta sugesti yang berdesakan di baris puisi, bukan kalimat eksposisif sehingga kejelasan bisa kita ketahui. Kekosongan terapung. Puisi menjadi daerah mungkin. Seandainya kita mewacakan keindahan di dalam puisi serta kedalamannya, inilah kritik sastra dalam artian menilai ciptaan, dan kita akan selalu menilainya dengan anggapan, nama lain dari teori. Teori apa saja bisa dipakai karena puisi seolah sebuah rumah yang bisa kita masuki dari pintu manapun. Puisi juga sebagai ciptaan, seperti prosa, juga berteori saat akan diciptakan. Karya didorong oleh anggapan penulisnya.


"Seandainya" itu kini bisa kita isi, bahwa Padamu Jua Amir Hamzah ini indah - tapi apakah ia dalam? Dalam artinya melampaui tubuh, bila badan, ia sampai ke mirruhi di balik tubuh. Bila dunia, ia sampai ke balik dunia. Ia indah karena berhasil membuat kita berhenti, tidak maju lagi dalam dunia ini, tapi merenung memikirkannya. Bahwa kotak utuh itu berlubang-lubang, bait pertama ini utuh pada dirinya sendiri, hal yang membuat bait ketiga dan seterusnya bisa menyambutnya sebagai ketotalan Padamu Jua. Seseorang menyatakan dirinya ke dalam keutuhan: cintanya sirna, ia kembali seperti dulu, kepadanya. Apa yang utuh ini dibetot keluar dari lubang-lubangnya.


Semacam retak bahasa oleh adanya retak makna pada kata, frasa, atau klausa dalam posisinya bukan sebagai kalimat tetapi sebagai baris di bait puisi, menjadi seluruh puisi. Lubang, atau ruang samar, yang dipandu negasi dan afirmasi, samar-samar keluar dari, tarik-menarik makna yang seakan bergerak ke arahnya sendiri. Di antara mengarah ke "dia" tapi seolah "mirruhi" membelokkannya: aku sejati itu adalah saya, tujuanmu, adalah Dia muasal aku-ruh mirruhi ini ditiupkan, inti aku-mu.


Adalah frasa, "seperti dahulu", yang mengantarkan leksikal-leksikal ini menuju gramatikal yang keluar dari Al-Qur'an. Ialah keadaan muasal, atau alam ruh berupa jawaban dari Alastu birrobbikum. Ialah Qolu bala syahidna, berita dari, Tempat Tertinggi (QS 7:172).


"Bukankah Aku ini Tuhanmu?

Betul. (Engkau Tuhan kami).

Kami bersaksi."


Tapi kita telah lupa. Amir Hamzah juga telah lupa. Sehingga saat "dia" datang, "Tempat Tertinggi" seolah menyelinap ke dalam jemari anak Melayu yang penyedih ini.


"Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu" kata mirruhi-nya. Kita lupa karena "bunga dunia" tengah dan terus, menerus menarik kita.


Walau ada "Segala cintaku hilang terbang", yang mensugestikan kita kepada imajinasi mungkin ada "dia-manusia-kekasih" di sini, kemungkinan percintaan di antara manusia, sejenak sugesti ini patah, dan imajinasi kepada "dia kekasih" kita tarik, untuk digantikan kemungkinan "Dia-Kekasih", hal yang batal lagi kerena tanda tak menyokongnya. Ia bukanMu seperti dalam PROLOGUE Sapardi - "dukaMu abadi... Kusapa dukaMu jua." Lalu, siapa "mu" ini?


Niat dalam hidup ini akan menghadang Amir Hamzah atau siapapun juga yang menulis selain untuk beribadah kepadaNya. Tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan semata untuk beribadah kepadaKu, firmanNya yang kini mendadak menjadi batu sandungan terbesar bagi teori sastra yang sudah berpuluh tahun berakrab-akrab pada dirinya, sendiri.


Batu sandungan yang bekerja dengan baik di Padamu Jua. Bait pertama Amir ini lebih mudah dimengerti andai kita memasukkan antitesa Damiri Mahmud, bahwa "mu" ini bukanlah "Mu" seperti yang disangka sastra Indonesia selama ini, tapi hanyalah tambatan hati sang penyair. "Habis kikis", "Segala cintaku hilang terbang", adalah pernyataan isi hati manusia penyair di dalam puisi, ke dalam puisi, bahwa cintanya yang asli ternyata sia-sia belaka berhadapan dengan tembok istana kerajaan Melayu darimana Amir berasal.


Dari balik tembok istana ini menjulur tangan yang akan menarik penyair, bernama jodoh perjodohan, tak bisa ditolaknya, tak bisa dilawannya, membuat empat baris Amir, sebagai puisi, menguat karena topang menopang. Kini tidak ada lagi kemungkinan mendua, sebagai bahasa, tak ada retak makna, sebagai puisi, kecuali kewajaran.


"segala cintaku hilang terbang" bukanlah ditarik oleh "mu", dari masa lalunya, bahkan justru "kehadiran" mu-masa lalu ini yang membuat si aku termenung: habislah sudah harapanku. Sebab kepastian tembok istana yang kini menggagalkan percintaanku.


Seperti arah metafor niat ini juga tidak pernah diteorikan dalam sastra kita. Niat ini acap mengambang: bukan dipandu Al-Qur'an (bagi pengarang Islam) melainkan sebuah abstraksi seperti, kata-kata bijak yang sering kita dengar: sastra untuk memuliakan kehidupan. Membuat hidup jadi lebih bijak, karena itu bermakna. Apakah niat Amir Hamzah berpuisi? Darimana kita tahu niatnya berpuisi? Penyair atau sastrawan menulis, apakah niatnya? Adakah ibadah membayang-bayangi jiwanya sebagaimana begitulah ia diajarkan?


Hidup berkembang, puluhan tahun menulis sastra, sudah berubahkah hati kita kini, saat menulis, bahwa dengan sadar karena tahu, membacaNya, diri meniatkan tulisan kita untuk beribadah kepada Allah melalui petunjuk-petunjuk Rasulullah? Dua fenomena kepolitikan kita saat ini, dapatkah menjadi pengandaian di soal niat ini? Dada dipegang Ulama dengan kata-kata: insya Allah masuk ke Istana. Memang akhirnya terbukti masuk walau lewat pintu lain, ke istana, seperti pintu "halaman" yang  kini terbuka sendiri, bukan dibukakan oleh sang pemilik tangan. Seperti itukah Padamu Jua? Bahwa Amir berkomunikasi dengan Allah melalui si dia, dalam, seakan, peristiwa politik yang terjadi tanpa sentuhan langsung itu. Metafora memang sedang keluar dari sastra, hinggap di dunia dengan peristiwa nyata. Atau peristiwa nyata itu memang metaforasitas sehingga ia dapat kita bawa masuk ke dalam sastra. 


Ambiguitas makna ditekankan, begitulah teori sastra memberitahu kita tentang pelbagai kemungkinan makna misalnya sebuah puisi. Dalam gerak impulsi, penyair mungkin saja melakukannya secara intuitif, tidak atau bukan, didorong oleh teori. Atau impulsitasnya seiring waktu sudah disentuh oleh teori. Hasilnya sebuah rancangan dalam puisi. Pencanggihan bahasa dimulai di sini. Semua potensi yang menjauhkan puisi dariNya tanpa disadari oleh penyair juga bermula dari sini, hal niscaya karena ketidaktahuan penyair terhadap agama yang mengatur keseluruhannya, termasuk bagaimana cara berpuisi, sehingga mereka melanggarnya. Di titik ini daerah-daerah misteri(Nya) mengunci walau pada saat yang sama membuka lagi. Gerak ayat-ayat yang menjadi dasar teori sastra baru yakni teori sastra sujud Li Sajidin, seakan dapat difinalkan sebelum ayat-ayat muhkamat terang ini dicegat oleh ayat-ayat mutasyabihat, yang kehadiranNya justru seolah "puisi" itu sendiri. Ia, "make the visible a little hard to see" kalau memakai ungkapan penyair Wallace Stevens. Seolah kita tahu, jelas terlihat, sebelum misteriNya membuat kita tercenung karena pengertian menjadi samar-samar lagi.


"Tak mudah mematahkan raket Zhao", "yang ditanam mengapa berduri" ujar Isyana. Alif lam mim misalnya, atau kaf ha ya ain shot, serta ha mim ain shin kof (awalan-awalan sebuah Surat, firmanNya). Seakan gerak dalam pantun walau ia bukan sampiran, justru huruf yang akan menjadi kunci pembuka akan namaNya. Jadi, isi, bahkan intinya karena dengan huruf-huruf itu nama-nama Allah dibentukkan. Apakah yang dibentukkan misalnya ping di atas pong pong di bawah ping? Salah satu usaha pencanggihan di kepuisian kita. Ia begitu jauh sebelum dentangan sembiluMu merancap nyaring, walau gerak ini, karena ketidakmengertian Prof Ignas Kleden, dibelanya: menjadi begitulah cara penyair masa kini mensufikan puisi. Kita dengan begini hanya teringat kepada sebuah permainan, olah raga, bukan kepada Allah.


Apakah kita teringat pada Allah bersama Padamu Jua? Kita bisa teringat pada Allah bersama Rasulullah, dalam pengertian: diri mengikuti perilaku Rasulullah yang mengamalkan ajaran Allah. Padamu Jua menarik karena ia seakan "di batas" manusia dengan Allah. Sepenuhnya manusia tidak karena idiom-idiomnya menunjuk ke Allah. Tapi sepenuhnya Allah bukan pula karena manusia memang memperlihatkan dirinya di Padamu Jua ini. Niat Amir Hamzah di Padamu Jua tidak kita raba dari sebuah sajak Turki seperti yang dinyatakan oleh sebuah disertasi Keith Foulcher, tapi melalui puisi-puisi Hamzah Fansuri. Prosa yang ditulis Amir juga membantu kita melacak niat ini, serta sekaligus: keindahan yang dipompakan saat Amir menulis. Terpompa keindahan, bersama itu terpecik kedalaman walau tidak cukup dalam, atau masih demikian jauh andai ingin disebutkan sebagai karya: sastra Islam yang memberat kepada tasauf. Sejauh puisi-puisi Sutardji, atau Sapardi (PROLOGUE), tapi tidak sebuah puisi Abdul Hadi: Tuhan, Kita Begitu Dekat, contoh puisi Islam yang gemilang saat mengosongkan dirinya dari dunia, sebagai prasyarat puisi tasauf.


Perlu kita jelajahi apakah sufi, tasauf, ini. Andai ingin menghayati ketasaufan, diri perlu menahan diri dari pemikiran-pemikiran "barat" yang menghasilkan pengertian Kesufian, dengan cara menyimak ke sumber utamanya adalah al-Qur'an dan Sunnah. Belajar Islam, adalah keliru kalau pergi ke Chicago tapi ke Al-Qur'an dan Sunnah, serta para ulama Allah. Islam bukanlah "tiga pendekar Chicago", melainkan Makkah dan Madinah sebagai sumber, pusat ke mana mata musti memandang. Chicago terbukti menghasilkan pemikiran Islam yang tidak murni seperti cara berpikir Nurcholish Madjid, Amien Rais, atau Syafi'i Ma'arif.


Laku Ra'biah mengosongkan dirinya dari dunia adalah karena cintanya kepada Allah. Pengosongan dunia yang dibaca sebagai berlepas dari dunia, tapi masih dalam dunia. Berlepas dari tubuh, tapi masih di dalam tubuh. Berlepas dari bahasa, tapi masih di dalam bahasa, karena "alat-alat" menjadi tempat si aku yang ingin sejati, murni kepadaNya. Dunia tersuling di sini, sebuah gerak seakan makna tersuling dari kata yang kehadiran seolah tubuh bagi ruh. Kata, bukanlah arti, bukanlah makna, walau makna diantar oleh arti, oleh kata. Ruh bukanlah tubuh walau tubuh tempat ruh seperti energi bukanlah tenaga yang membuat tubuh bergerak - jejaknya. Energi, massa, cahaya, kelipatan serta persamaan, alat-alat yang dipakai Einstein, hanyalah penamaan untuk yang tak terbahasakan, adanya. Begitu juga dengan seleksi dan kombinasi dalam Closing Statement Roman Jakobson. Atau kini: Padamu Jua Amir Hamzah. Pahala mengalir sebagai amal jariah kepada H. Ahmadi Isa, saat dalam tulisannya membawakan syair Rabi'ah, seorang pelaku hidup Zuhud yang kita cerna seraya tetap mengenang ideal-ideal hidup yang diajarkan oleh Rasulullah. Hidup bukanlah membuta, tapi penuh kesadaran diri mencari. Terlihat dengan jelas kepada siapa hati dilabuhkan Rabi'ah. Ialah kepada Allah.


"Kujadikan Engkau teman berbincang dalam kalbu.

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku.

Dengan temanku tubuhku berbincang selalu.

Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku."


Sebuah susunan terhubung satu dengan yang lain, dalam ilmu puisi ia adalah koheren. Koherensi yang maujud jadi sebuah baris mendorong baris lainnya, dalam keterhubungan, atau baris lainnya ini tidak bergerak sendiri, melainkan bisa dikembalikan ke baris sebelumnya. Begitulah baris-baris menjadi bait, bait-bait menjadi keutuhan di mana bait akhir terus tersambung kepada bait sebelum. Ia padu, karena itu jagad raya sudah berpuisi, seperti tangan dan kaki yang terhubung dengan badannya: mempuisikan siapakah manusia, adalah tubuh yang seimbang, sebagai susunan luar: badan.


Dengan ilmu koherensi ini kita menguji kewarasan Padamu Jua. Termasuk kewajaran sentakan Damiri: benarkah Padamu Jua ini tak lebih dari sajak cinta pada kekasih? Bukan: bergerak naik seperti Rab'iah: cinta pada Allah.


Segala harapanku untuk kawin dengan gadis Jawa, hilang terbang karena gadis Melayu rupanya yang menjadi takdirku, sejak dulu. Adat menjodohkanku, istana mengikat kaki dan tanganku. Tapi bagaimanakah: hati ini telah terpikat kepada Tzu karena keindahan ruang kosongNya. Inilah makna bulat bait pertama, dari satu skenario. Bait kedua menyambut bait pertama ini, yang membuat kita berpikir: wajarkah gadis yang tak dicinta tapi telah menjadi jodohnya, digambarkan dengan begitu agungnya? 


Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap


Ketakwajaran yang menarik karena kesanggupan Amir membawakan emosinya, ketakwajaran halus serta seimbang dalam emosinya, sebagai puisi.


Ialah logika dalam puisi, dalam baris ke baris puisi, dalam bait ke bait puisi, dalam, saat, benda-benda berlompatan ke dalam bahasa. Saat kata didalilkan adalah Tesa itu sendiri, atau saat Tesa ini diberi antitesa adalah Kredo Puisi, maka Aminati Juhriah datang menyapa dengan sopan kedua penerusnya: tidakkah, kita, kata Aminati, seharusnya bergerak ke balik Tesa atau Antitesa? Sehingga walau kata bebas bergerak ke sana ke mari, hakikatnya adalah terusan dari Kekekalan: Allah yang meniupkan mirruhi ke "bahasa" kita, ke "puisi" kita. Hasilnya: avant-garde toh tetap tak kuasa bergerak sendiri - meninggalkanNya.


Tegak-nya Chairil Anwar di tahun 1943 lain sekali dengan tegak-nya Aminati Juhriah di tahun 2021. Adalah tegaknya kata-ingkar dan kata-iman. Puisi disusun seakan pancang, seolah badan: tegak, lurus,  tipografi kata seakan hujan. Hujan demi hujan, jatuh, kata demi kata, adalah tetes hujan yang tak kelihatan sambungannya, menderas. Ke mana, ke siapa? Chairil: ke Tesa. Kata adalah tesa itu sendiri. Aih, alangkah beracunnya bahasa yang keluar dari mulut lapuk bujang Melayu ini, kata adalah tesa itu sendiri. Pantaslah ia menjadi racun, yang direguk di 1943.


Nak mak mano. Kecek adalah kecek itu sendiri. Apo jadinyo? Atau kecek sebebas kecek itu sendiri. Ambo nak bekecek ngecekla. Tentang apo? Tentang apo ajo. Tesa sebebas tesa itu sendiri. Kerjo ambo njago sepanjang nyo-kata biso kreatif.


Aminati tegak lurus dalam puisi, Chairil Anwar juga, tapi dengan niat dan hasil yang berbeda. Kekal menghasilkan kelogisan: Allah, Allah yang Kekal. 1943 menghasilkan kelogisan apa?


* Pada 28-30 September 2017 tercatatlah sebuah sejarah kolaborasi antara Masjid Abdul Rahman bin Auf dengan NUMERA Malaysia bagi menganjurkan bersama Seminar Internasional Sastera Melayu Islam. Sebanyak 12 kertas kerja dan sebuah Ucap Utama oleh Kritikus tersohor Indonesia Profesor Hudan Hidayat berjudul “Sastera Melayu Islam dalam Naungan Al-Qur’an” dipersembahkan. . Hudan menyediakan sebuah buku prosiding yang terpuji. Artis ikut berlagu dan penyair mempamer buku dan membaca puisinya.


** Selepas meneliti senarai nama yang panjang, Ahli jawatankuasa Numera Malaysia telah mengambil ketetapan bahawa Profesor Hudan Hidayat layak menerima Anugerah Persuratan Dunia Numera 2017. Hudan memajukan bakat kreatifnya dan bakat kritikannya yang tajam. Dia lulusan Universitas Jayabaya di bidang Fisipol jurusan Hubungan Internasional. Dia lahir di Yogyakarta, dan dibawa pindah ke Palembang masa kecil dan remajanya beliau hidup di Kota kecil Curup di Bengkulu, Sumatra. Menurutnya dia menjadi pengarang (juga pengkritik) oleh kerana “garis nasib”. Cerita pendeknya yang pertama tersiar di majalah Zaman (1984) karya yang lain adalah Orang Sakit (Indonesia Tera), Keluarga Gila, Lelaki Ikan (Kompas). Novelnya Tuan dan Nona Kosong. Pada tahun 2009 Hudan Hidayat sebagai peserta aktif Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara dan seterusnya sebagai peserta forum bandingan “Gitanyali dan Ayn” yang diadakan di UPSI bersama Dr Lalitha Sinha sempena Baca Puisi Dunia Numera 2014.


Posting Komentar

2 Komentar