Recents in Beach


Silsilah Leluhur Pesantren Awipari

 

Oleh: Kang Mahrus M.S.

SILSILAH LELUHUR PESANTREN AWIPARI 

Genealogi Pesantren Awipari

dari Mama Haji Husen Bin Raden  Haji Muhammad Ayyin

sampai ke Kangjeng Syekh Abdul Muhyi  hingga Sunan Giri

(Tulisan ini adalah murni terjemahan dari Kitab Silsilah yang ditulis ulang oleh KH. Eman  Sulaeman bin Mama Haji Husen, Cibongas Cikatomas Tasikmalaya (02-02-1977 M/13-2- 1397 H). Kitab ini ditulis dengan menggunakan tulisan Arab Pegon)

Segala puji bagi Allah yang telah meciptakan segala sesuatu dengan sebab  musabab. Shalawat beserta salam kepada Sayyidina Muhammad yang  menghadiahkan dirinya untuk kehormatan ummat dan keturuannya. 

Karena banyak sekali dari pihak keluarga yang mengatakan bahwa mereka  tidak mengetahui terhadap asal usul keturunannya, maka saya mendatangi para  sepuh untuk menanyakan perihal ini.

Di antara sesepuh tersebut di antaranya K.H.  Dimyati, Mama Haji Hasan, dan Mama Madna, yakni kuncen (juru kunci)  Pamijahan dan kepada kasepuhan-kasepuhan lainnya.

Para kasepuhan  mengatakan bahwa keturunan pesantren Awipari dimulai dari silsilah Kangjeng  Nabi Muhammad sampai ke Cirebon dan Pamijahan.  

Silsilah Pesantren Awipari 

Wallohua’lam, bila tidak salah, Jungjunan kita semua, yakni Kangjeng  Rasulullah SAW mempunyai putri yang bernama Sayyidah Fatimah RA yang  bersuamikan Baginda Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah.

Selanjutnya Sayyidina  Ali dan Sayyidah Fatimah mempunyai 2 (dua) orang putra, yakni:
1. Sayyidina Hasan RA, yang keturunannya sampai kepada Syekh Abdul Qadir  Jailani al-Baghdadi, dan 2. Sayyidina Husein RA. 

Sayyidina Husenin RA mempunyai putra: 
1. Sayyid Zainal Abidin, mempunyai putra; 
2. Sayyid Zainal Alim, mempunyai putra; 
3. Zainal Kubro, mempunyai putra; 
4. Zainal Husein, mempunyai putra; 
5. Syekh Jumadil Kubro. 

Syekh Jumadil Kubro mempunyai 3 (tiga) orang putra, yakni
1. Syekh Maulana Ishak; 
2. Syekh Maulana Masyhuda; dan  
3. Syekh Maulana Nuh. 

Putra pertama Syekh Jumadil Kubro yakni Syekh Maulana Ishak mempunyai  putra: 
1. Sunan Ratu Giri Kedaton, mempunyai putra; 
2. Sunan Giri Laya, mempunyai putra; 
3. Raden Wiracandra, mempunyai putri; 
4. Raden Samardana Kyai Tanganziyah, mempunyai putra;
5. Syekh Abdul Muhyi Wali Agung Pamijahan, mempunyai putra;
6. Dalem Bojong, mempunyai putra;  
7. Raden Hasan (atau Husen), mempunyai putri; 
8. Eyang Haji Siti Ruqiyah, mempunyai putra; 
9. Raden Haji Muhmmad Ayyin, mempunyai putra; 
10. Kyai Eyang Haji Husen, mempunyai putra; 
11. Kyai Eyang Haji Masduki, mempunyai putra; dan
12. Kyai Haji Busthomi.

Baca juga: Tentang silsilah Eyang Haji Mama Husen selengkapnya dapat dilihat dalam tulisan Kang  Mahrus MS, “Syekh Nur Hayyin alias Mbah Rambut Tanggul Jember: Sejarah Genealogi Ulama  Jawa Timur dan Tasikmalaya Melalui Silsilah Syekh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan”

Nasab Keturunan Eyang Siti Ruqiyah diperkuat dengan Nasab suaminya yang  Bernama Eyang Haji Kahfi bin Sembah Imam Wajih bin Eyang Nyai  Madyakusumah binti Kangjeng Syekh Abdul Muhyi, sebagai berikut

1. Syekh Abdul Muhyi Wali Agung Pamijahan beristri Sembah Ayu Bakta,  mempunyai putra;  
2. Nyai Madyakusumah, mempunyai putra;  
3. Sembah Imam Waji, mempunyai putri;  
4. Eyang Haji Kahfi, mempunyai putra;  
5. Raden Haji Muhmmad Ayyin, mempunyai putra;  
6. Kyai Eyang Haji Husen, mempunyai putra;  
7. Kyai Eyang Haji Masduki, mempunyai putra;  
8. Kyai Haji Busthomi. 

Jadi dengan demikian, silsilah Pesantren Awipari dari Kangjeng Syekh Abdul  Muhi bertemu pada Eyang Siti Ruqiyah binti Raden Husen bin Dalem Bojong dari  garis ibu dan dari garis ayah adalah Eyang Kahfi bin Sembah Imam Wajih bin  Nyai Madyakusumah. 

Silsilah Cirebon 

Putra yang ketiga Syekh Jumadil Kubro, yakni Syekh Maulana Nuh menjadi  penguasa (raja) di daerah Rum. Putra kedua Syekh Jumadil Kubro, yakni Syekh Maulana Masyhuda dikenal  menjadi raja (penguasa) di daerah Mesir dan mempunyai istri bernama Maswari  yang kemudian wafat.

Syekh Maulana Masyhuda kemudian menikah lagi dengan  seorang putri dari Jawa yang bernama Nyi Mas Raden Rarasantang, putri dari  Prabu Siliwangi dari istrinya yang bernama Nyi Mas Subanglarang (Dewi Kumala  Wangi). 

Nyi Mas Rarasantang dibawa oleh kakaknya yang bernama Raden  Walangsungsang (Pengeran Cakrabuana) untuk melaksanakan ibadah haji.  Pernikahan Syekh Maulana Masyhuda dengan Nyi Mas Rarasantang (setelah  menikah kemudian beganti nama menjadi Syarifah Muda’im) mempunyai 2 (dua)  orang putra, yakni Syarif Nuruddin Ibrahim Ilyas alias Syekh Syarif Hidayatullah  Cirebon dan Syekh Syarif Arifin yang meneruskan Syekh Masyhuda menjadi  penguasa di Mesir. 

Setelah dewasa, Syekh Syarif Hidayatullah mendapatkan ilham dari Allah  Yang Maha Suci berupa keyakinan hati untuk berdakwah di wilayah tatar sunda  yang mayoritasnya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Upaya “Amar Ma’ruf Nahyil Munkar” tersebut kemudian menjadikan anak buah kakeknya yang  bernama Prabu Siliwangi banyak yang menganut Islam. 

Syekh Syarif Hidayatullah kemudian menikah dengan putri dari Raden  Walangsungsang yang bernama Nyi Mas Pakungwati yang merupakan kakak  sepupunya. 

Kemudian Syekh Syarif Hidayatullah mempunyai 3 (tiga) orang anak yang  semuanya laki-laki. Yang pertama adalah Sultan Raden Hasanuddin yang menjadi  raja di Banten. Yang kedua adalah Raden Ahmad Pasarihan yang menjadi  pemuka agama Islam di Demak, Mataram dan Gresik. Yang ketiga adalah Raden  Ahmad Syirullah yang menjadi pemuka agama di Cirebon.
 
Raden Ahmad Syirullah mempunyai putra Raja Widanda, mempunyai putra  Raja Sadanda, mempunyai putra Dalem Lumayung, mempunyai putra Dalem  Parakan Muncang Sumedang. 

Dalam kekuasaannya Dalem Parakan Muncang ditemani oleh 3 (tiga) orang  pendamping, yakni: 
1. Raden Mas Dipalaksana; 
2. Raden Ngabehi Putra Dita (keturunan selanjutnya ke Pamalayan); dan
3. Raden Sukajaya. 

Dalem Parakan Muncang mempunyai 1 (satu) orang putra yang bernama  Raden Langgayasa. 
Setelah sekian lama, ketiga pendamping Dalem Parakan Muncang dan  putranya yakni Raden Langgayasa menjadi penguasa di Anggaraksana Sukapura, tapi kurang begitu berhasil (kirang sugema) karena terdesak oleh serangan  kompeni (VOC). 

Akhirnya, kedua pendamping Dalem Parakan Muncang, yakni Radeb Amsa  dan Raden Sukajaya berpindah tempat kembali ke tempat semula (tempat anu  sirna) di Sukapura.

Namun setelah datang ke Sukapura Raden Sukajaya tidak  menemukan ketenteraman (teu mendak kareueusan hate) hingga akhirnya  kembali ke tanah Mandala.  

Raden Amsa kemudian tinggal di daerah Cantigi dan menetap hingga  mempunyai keturunan dan meninggal di sana. Ia wafat meninggalkan putra laki laki yang bernama Radeb Canda Manggala.
 
Raden Ahmad Sukajaya setelah datang di tanah Mandala kemudian menetap  di sana. Ia mempunyai 3 (tiga) orang putra yang semuanya laki-laki, yakni Raden  Surya Wacana, Raden Surya Taruna dan Raen Surya Biguna. 

Raden Langgayasa (putra Dalem Parakan Muncang) kemudian ikut pindah  meninggalkan Anggaraksana menuju Panumbangan dengan membawa istrinya  dari keraton yang bernama Raden Mas Ajeng Tanganziyah.

Setelah sampai di  Panumbangan kemudian tidak menemukan ketentraman di sana, akhirnya  kemudian pindah lagi ke Sukapura tepatnya di tanah Mandala. Ia menetap di  Citamiang dan mempunyai keturunan dan meninggal di sana. Setelah meninggal  Raden Langgayasa dimakamkan di Pasir Huni Citamiang. 

Silsilah Raden Ngabah/Ngabehi Panumbangan 

Raden Ngabah/Ngabehi menetap dan melahirkan keturunannya di  Cipamurutan Banyukalapa (Batukalapa?). Setelah berpindah-pindah tempat, akhirnya ia menetap di Panumbangan dan  sampai meninggalnya pun di Panumbangan. Setelah meninggal, ia dimakamkan  di Curug Cipamurutan. 

Di Banyukalapa, ia meninggalkan seorang istri yang dibawa dari  Anggaraksana Sukapura yang bernama Nyi Mas Raden Tanganziyah.

Ia  meninggalkan 2 (dua) putra yang bernama Raden Candrawadana dan  Candrabangsa dan 2 (dua) orang putri yang bernama Raden Nyi Mas Teja Istri Raden Candramanggala, makamnya di Tanggela (Nanggela?).  mempunyai 6 (enam) orang putra, yakni Badajang, Candrawadana, Candrabangsa, Buyut Teja, Buyut Banayah dan Putrawadana (makamnya di  Tambela). 

Buyut Putrawadana mempunyai seorang putri bernama Siti Manam yang  bersuamikan Martawijaya (Uyut Haji) makamnya di Cidalapati. Saudara laki lakinya yaitu Aki Jarhan, Aki Walhid, Aki Jalsan. 

Pernikahan Siti Manam dan Martawijaya mempunyai putra bernama Siti  Kawi, Siti Laisah, Ambu Irda, Ambu Sarja (Siti Dawi) mempunyai putra bernama  Aswarja (Bapa Ahdan), Nur Hali (Bapa Murjam).
  

Silsilah Sembah Raden Langgayasa 

Sekarang akan menjelaskan tentang silsilah Sembah Raden Langgayasa  putra dari Dalem Parakan Muncang yang makamnya di Pasirhuni Citamiang. Menurut para sesepuh, Sembah Raden Langgayasa mempunyai anak 3 (tiga)  orang:

1. Siti Narirsah; 
2. Sumunigara; dan  
3. Indradisura. 

Buyut Siti Narirsah mempunyai seorang putri yang bernama Sacawinari,  mempunyai putra Inrajaya, mempunyai putra Martawijaya (Uyut Haji) yang  menikah dengan Buyut Siti Manam. Dari pasangan ini mempunyai putra 7 (tujuh)  orang. 

Silsilah Dalem Parakan Muncang 

Sekarang akan dibahas tentang keturunan dari Dalem Parakan Muncang.  Putra keduanya bernama Raden Ahmad Sukajaya. Makamnya berada di Munjul  (Monjol) Desa Cilamaya Kecamatan Cikatomas. 

Bila tidak salah, para sesepuh menceritakan bahwa Raden Ahmad Sukawjaya  mempunyai putra Bapa Ngabehi (Ahmad Harun), mempunyai putra Siti Amiyah,  mempunyai putra yang pertama Hasan, mempunyai putra Ahmad Rosyidi, yang  kedua Siti Aliyah, yang ketiga Siti Rosiyah, yang keempat Siti Halimah, yang  kelima Siti Rodiyah. 

Ahmad Rosyidi mempunyai anak Siti Qomariyah, Siti Maryam, Siti Maesaroh  dan Ahmad Patoni. 
Raden Ahmad Surawacana Surabiguna mempunyai putra Jalemi, Jaliman,  Jalaen. Surawacana mempunyai putra 8 (delapan), yakni:  

1. Asnawaham, mempunyai putra Sijam dan Sael; 
2. Bapa Sayin, mempunyai putra Sobana, Ambu Ina, Sariyan, Ambu Kartam,  Ambu Yunah, Bapa Asrom, dan Was’an;3. Ambu Soyir,  
4. Ambu Jamsa,  
5. Bapa Amiyah (Ahmad Harun),  
6. Bapa Lampana,  
7. Ambu Romi,  
8. Ambu Arnam. 

Demikian sementara yang baru diterjemahkan dari Kitab Silsilah yang ditulis  ulang oleh Eyang Mama Haji Sulaeman bin Eyang Mama Haji Husen.

Terjemahan  ini baru sebagian kecil dari sekian banyak tulisan yang ada.

Mudah-mudahan  Allah SWT memberikan petunjuk untuk penulis kembali melanjutkan tulisn ini  sehingga akhirnya mendapatkan silsilah Keluarga Besar Awipari kaitannya  dengan Genealogi Kangjeng Syekh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan sampai ke  Sunan Giri dan Maulana Ishak. 

Wallohua’lam.

*Diterbitkan dengan penyesuaian tata letak. Teks aslinya dapat menghubungi penulis

**Tentang Penulis
Kang H. Aos Mahrus, pegiat literasi dan ngopi di Tasikmalaya. Selain sebagai ketua Ikatan Sarjana Nadlatul Ulama (ISNU) Kota Tasikmalaya, Kang Mahrus mengajar di STAINU Kota Tasikmalaya. Sejumlah karya tulisnya telah dibukukan dan diterbitkan di berbagai media.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Balasan
    1. Samisami, mudah mudahan sedekah tulisan Kang Mahrus menjadi jalan untuk lebih memahami kekayaan khazanah lokal.

      Hapus
    2. Aamiin...., nanti kita diskusi sambil ngopi2

      Hapus
    3. Mangga, siap. Bisa lebih menarik jika ada lembaga atau komunitas yang mau menjadikannya wacana publik.

      Hapus