Recents in Beach


Berebut Kekuasaan

C:\Users\User\Pictures\foto penelitian\IMG_20200517_140955.jpg
Oleh Maulana Janah

Musim pergantian kekuasaan menjadi ajang perebutan kekuasaan dalam negara demokrasi, seperti di Indonesia saat ini. Demokrasi di Indonesia memiliki hukumnya tersendiri walaupun hanya menguntungkan segelintir elite yang memiliki relasi dengan kekuasan atau relasi dengan kaum pemilik modal. Relasi-relasi tersebut dalam negara yang menganut sistem demokrasi pasar bebas memiliki nilai yang sangat penting. Sebab para calon yang ikut dalam perhelatan demokrasi sangat dipengaruhi oleh seberapa besar modal yang dimiliki, seberapa besar pula tingkat kepopuleran, dan seberapa besar jaringan yang sudah dimiliki. 

Demokrasi lima tahunan tersebut bisa berbentuk pemilihan presiden, legislatif, dan pemilihan kepala daerah. Karena itu, demokrasi secara langsung mempunyai prinsip mengutamakan peran sentral masyarakat dalam proses politik. Sebab pada akhirnya, pemerintahan yang demokratis hakikatnya adalah pemerintahan yang mengakomodasi partisipasi masyarakat dalam setiap proses pengambilan kebijakan sehingga kekuasaan dapat dikontrol dengan baik. 

Namun, realitasnya seringkali tidak sesuai dengan prinsip demokrasi itu. Mereka yang telah menerima mandat dari masyarakat, sebut saja yang sedang berkuasa, seringkali abai, lalai, bahkan terlena menikmati lezatnya kursi kekuasaan dengan sejumlah fasilitas yang mewah. Itulah demokrasi, hanyalah sebuah cara atau alat untuk mencapai dalam merebut kekuasaan.

Memang benar sih, siapa orangnya yang tidak ingin menjadi penguasa? Setiap orang mengingingkan kekuasaan, entah itu orang biasa atau orang luar biasa. Menjadi penguasa memang sejak dahulu hingga saat ini atau dalam era demokrasi selalu menjadi rebutan. Betapa kekuasaan telah menarik manusia ke dalam pusaran perebutan kekuasaan dalam bentuk dan wajah demokrasi atau sekalipun tanpa wajah demokrasi. 

Perebutan kekuasaan selalu saja ada dan tentu ada untuk selamanya sampai batas waktu alam dunia ini berakhir. Mungkin tidak munafik jika ada manusia di muka bumi ini sangat mencintai, menginginkan, dan menguasai kekuasaan. Betapapun jalan untuk mencapainya terjal, sulit, dan bahkan harus mengorbankan nyawa sekali pun. Kekuasaan akan selalu dikejarnya. 

Dalam titik tertentu, perjuangan mencapai kekuasaan selalu dibumbui dengan warna-warni ideologi untuk lebih bisa mendatangkan semangat (spirit) bagi seseorang atau bagi para pendukungnya. Spirit ideologi itu seolah menjadi bahan bakar yang bergolak, berkobar-kobar dalam jiwa setiap manusia. Mereka bergerak atas nama perjuangan tertentu demi merebut sebuah kekuasaan itu. Perjuangan merebut kekuasaan dalam benak mereka akan selalu ditafsirkan berbeda-beda tergatung kepentingan politik yang mereka bawa. 

Dalam takdirnya, kekuasaan sepanjang sejarah manusia tidak ada yang diserahkan secara gratis kepada seseorang atau kepada pihak lain yang menginginkannya, sekalipun itu sistemnya kerajaan (monarchi) atau juga teokrasi, dan sejenisnya. Perebutan dalam mendapatkan kekuasaan seringkali menjadi bagian yang inheren dalam sebuah negara. Pergulatan dan pertarungan ini tiada lain hanya untuk memelihara sebuah eksistensi dari sebuah ideologi dan keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau oleh sekolompok orang, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Karena itu, kekuasaan memiliki hubungan yang sangat  intim dengan syahwat manusia.   

Seseorang yang berjuang untuk sebuah kekuasaan tentu memiliki orientasi yang berbeda-beda bergantung sudut pandang apa yang ia gunakan. Sudut pandang tersebut bisa saja karena untuk memenuhi syahwat pribadinya dengan menggunakan cara mendompleng ideologi agama atau ideologi nonagama. Ada juga yang memang berjuang murni merebut kekuasaan untuk kepentingan ideologi tertentu yang pada akhirnya  dipersembahkan untuk rakyatnya. Memang sangat sulit rasanya untuk memisahkan dua motif atau niat ini. Namun, memang kekuasaan  itu terlampau indah ibarat gadis cantik nan indah yang memesona tanpa busana bagi sebagian pria. 

Namun, pada sisi lain, kekuasaan telah melampaui batas-batas ini. Perebutan kekuasaan takhanya milik kaum pria sejati saja, tetapi juga menjadi ambisi kaum hawa yang terjadi sejak jaman dahulu kala hingga saat ini. Dalam sejarah perjalanan manusia, misalnya, ada wanita bernama Neper Titi pendamping Paraoh (fir’aun). Dia  adalah wanita yang sangat memengaruhi kebijkan pemerintahan Mesir pada saat itu. Begitu pun Cleo Patra. Dia menjadi  ratu Mesir yang pertama dan yang terakhir di negeri itu meskipun mereka harus menindas, tiran, dan despotis  untuk memperjuangkan dan mempertahankan arti sebuah kekuasaan yang teramat lezat dan menyenangkan bagi mereka. 

Pada hakikatnya, hukum kekuasaan tersebut tidak hanya terjadi pada masa dahulu atau di Mesir saja, tetapi juga berlaku di Indonesia, di pelosok-pelosok Indonesia, dan tentunya juga diseluruh jagad raya ini. Kondisi seperti ini telah diprediksi oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Mukodimah. Ia  mengungkapkan bahwa kedudukan sebagai raja adalah suatu kedudukan yang terhormat dan diperebutkan karena memberikan kepada orang yang memegang kedudukan itu segala kekayaan duniawi dan juga kepuasan lahir batin. Karena itu, ia menjadi sasaran perebutan dan jarang sekali dilepaskan dengan suka rela. Sebaliknya, selalu di bawah paksaan. Perebutan membawa kepada perjuangan, peperangan, dan runtuhnya singsana-singgasana.

Memang tidak berlebihan, di antara sekian banyak tabiat yang dimiliki oleh manusia adalah senantiasa ingin memilik dan mencintai kekuasaan. Bukan saja manusia zaman dahulu yang selalu memiliki karakter seperti ini, melainkan juga manusia modern. Rasa dan hasrat itu akan selalu ada sepanjang manusia masih ada dan hidup di muka bumi ini, meskipun dalam seting waktu dan tempat yang berbeda. Dahulu dan sekarang memang berbeda dari sisi keberadaan waktu, tetapi manusia sepanjang belum punah, sepanjang belum terjadi kiamat, sepanjang itu pula keinginan manusia terhadap kekuasaan akan selalu ada, selalu bersemanyam dalam jiwa dan pikiran manusia, terpatri dalam sanubari.  

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai manusia yang waras dan beragama? Jawabannya, tidak dilarang. Sepanjang kekuasaan itu untuk pengabdian kepada Allah dan mewujudkan misi untuk memakmurkan dan mengelola muka bumi. Dalam agama Islam, misalnya, ada batasan (hudud) dan ikatan (quyud) agar kekuasaan tidak diselewengkan dan selalu ada dalam rel kebenaran dan kebaikan.  

Memang sangat berat dan sulit membawa misi ini karena ada dua kutub yang berbeda. Kutub pertama menyatakan bahwa kekuasaan selalu menjebak manusia dalam perangkap kesenangan dan kelezatan yang menjadikan manusia mempertuhankan kekuasaan dan jabatan untuk memenuhi seluruh ambisi dan hawa nafsunya. Kekuasaan dalam kutub ini digunakan untuk dirinya bukan untuk orang lain. Orang seperti ini selalu mengambil dan merampas hak orang lain, mengambil jatah orang lain, bahkan dia sendiri telah memosisikan diri sebagai Tuhan baru yang berhadap-hadapan dengan Tuhan itu sendiri. 

Kutub kedua menyatakan bahwa manusia tidak membutuhkan kekuasaan. Bagi mereka yang sudah tidak butuh dengan kekuasaan dalam dirinya, kekuasaan hanya semata-mata untuk mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan keadilan. Keberpihakan mereka pada kepentingan rakyat dan mereduksi segala keinginan untuk dirinya, keluarganya, atau koleganya. Karena itu, kekuasaan dalam kutub ini digunakan untuk orang lain (seluruh manusia dan makhluk). Ia tidak mengambil hak orang lain, tetapi ia memberikannya. Ia tidak merampas, tetapi selalu mengasihinya. Ia tidak berhadap hadapan dengan Tuhan, tetapi ia selalu dalam konteks menjalankan titah Tuhan. Bagi mereka yang berada dalam posisi kedua ini, kekuasaan hanyalah kepercayaan dan amanah yang harus selalu memberikan manfaat bagi rakyat. kekuasaan bukanlah segenggam emas yang harus disimpan dan disembunyikan, tetapi sesungguhnya ia adalah milik seluruh rakyat. Oleh karena itu, menjadi penguasa atau mereka yang sedang berkuasa takseharusnya menggunakan kekuasaaan untuk sewenang-wenang dan tentunya takseharusnya menjadi penguasa untuk macam-macam.

Jika melihat sejarah masa lampau atau zaman dahulu kala, para raja dan penguasa dianggap sebagai manusia yang istimewa karena dipilih langsung oleh Tuhan untuk berkuasa di muka bumi. Mereka sangat berkuasa dan rakyat takut  kepada mereka. Namun ingatlah, jika para penguasa atau para raja itu memerintah dengan seenaknya, tetap saja rakyat yang akan melawan dan mereka akan dijatuhkan. Dengan demikian, penguasa sepatutnya merenungi dan mencoba untuk mengamalkan ungkapan Plato, seorang tokoh klasik dan pemikir besar dalam bukunya Republic. Ia menjelaskan bahwa sebuah negara yang ideal (polis) adalah negara yang akan dipimpin oleh raja-raja yang bijaksana, philosopher king, yang sama sekali tidak haus kekuasaan, memiliki kemampuan yang tinggi, tidak silau dengan harta benda, dan bekerja hanya semata-mata demi kebesaran bangsanya.***

Baca juga: Agama Melawan Kekerasan

Tentang Penulis

C:\Users\User\Pictures\foto penelitian\IMG_20200517_140955.jpg

Dr. Maulana Janah, lahir di Tasikmalaya 3 Juni 1979. Dosen Fakultas Dakwah IAIC Cipasung, yang selalu konsen terhadap persoalan-persoalan sosial. Sehari-hari ia menjagar tentang mata kuliah sosiologi.  Memperoleh gelar Magister Sosiologi Agama (Studi Masyarakat Islam) di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung-Jawa Barat tahun 2010. Kemudian meraih gelar Doktor di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Sosiologi dan Antropologi Agama pada tahun 2020 dengan predikat Cumlaude.

Berbagai seminar, dialog baik skala lokal dan nasional telah penulis lakukan. Selain aktif sebagai narasumber pada sejumlah media, seperti Radar TV dan Radio FM, penulis juga menjadi penulis lepas di berbagai Koran nasional dan Lokal, misalnya di Koran Sindo, Koran harian Radar Tasikmalaya, Koran Harian Kabar Priangan. Lebih dari 100 artikel terpublikasikan. Adapun buku yang berhasil ia susun adalah Tasikmalaya Dalam Sepenggal Masa,  Penerbit Mata Pelajar Indonesia tahun 2019. Peran Ulama Dalam Pengentasan Kemiskinan, Penerbit Mata Pelajar Indonesia tahun 2020, dan Social Engineering, Penerbit Pustaka Ellios tahun 2021.


Posting Komentar

0 Komentar