Recents in Beach


Puisi-puisi Karya Mukhyar Buchari

Mukhyar Buchari

SEPI

sepi,

bukan bunyi yang 

menyembunyi

bukan nyanyian menyayat

kepingan hati

bukan sunyi yang menepi

bukan pula sendiri

ditinggal pergi


sepi, 

adalah zikir diri

tawajuh ismu zat

memetik dawai-dawai diri

berdendang mendialogkan

nada-nada jiwa.


sepi,

adalah saling berebut 

huruf-huruf cinta

mengisi maqom-maqom

bermula maqom mukasyaf

beranjak pada lathaif

semakin asyik di

lathifatul ruh

lathifatul sirri

lathifatul khafi

lathifatul akhfa

lathifatul nafsin nathiqah

terus riuh gemuruh mesra

di atas mesra, cinta 

di dalam cinta

hinggalah luruh di

jami'ul adhaa


[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



KEPADA ENGKAU

duhai aduhai,

dari kemarin aku menunggu

menunggu apa saja jika itu

tentang dirimu

dalam petikan tasbih dan 

desah zikir berselimut

kain kumal aku tersyukur

memanggil-manggil namamu

 

duhai aduhai,

aku bagaikan majnun 

yang hari-hari menunggu layla

menyusahkan dirinya

menunggu layla mengusik

ketenangan dirinya

bahkan hari-hari majnun 

menunggu caci maki 

dari layla 

karena bagi majnun

apapun yg dilakukan dan

diucapkan layla kepadanya

adalah huruf-huruf cinta

yang setiap saat dia rindu 

dan dia tunggu.

 

[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau 


 

RINDU YANG TERBUNUH

duhai aduhai,

adakah engkau mengerti

makna airmata darah

yang ku jadikan tinta

melukis huruf-huruf namamu

ku tulis atas nama rindu

yang dalam keadaan perih luka

aku menunggu.

 

duhai aduhai,

adakah engkau merasa 

tatkala kabar membawa 

berita engkau mengenggam

tangannya pada hakikatnya

engkau tlah meremas jantungku

yang engkau paksa

berhenti berdetak 

menzikirkan 

rindu

 

duhai aduhai, 

adakah engkau mengerti

walau sejenak, bahwa tatkala

engkau menemukan 

aku kehilangan

tatkala engkau tertawa

aku merintih luka

tatkala engkau bercerita

namanya 

tertampar lukaku semakin 

menganga

 

duhai aduhai,

adakah engkau tahu

disaat engkau mencintainya

aku sedang menyusun

tulang rusukku untuk 

ku jadikan kayu bakar

menghangatkan tubuh

mungilmu.

 

duhai aduhai,

aku menata rindu

disaat bayang tubuhmu

tak mungkin lagi ku kejar

disaat teriakan histerisku

memanggilmu tidak lagi

engkau dengar.

akhirnya, 

aku terhenyak

dalam diam menikmati

tetesan darah dalam

sayatan rindu yang

engkau tinggalkan.

 

[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



PRAHARA DI RESTORAN

TENGAH KOTA


di tengah pusat kota

persis di perempatan jalan

sebuah restoran bercat putih

perpadu biru dengan 

pintu masuk berukir ornamen

tradisional di situlah restoran

ternama di kota itu

parkiran cukup lapang

untuk ukuran pusat kota

yang sesak padat


berjejer mobil mewah 

diatur tukang parkir berwajah

ganteng berseragam 

nampak ramah


tiba-tiba melambat sebuah

mobil mewah berwarna putih

bergegas tukang parkir

menyambut dengan senyum 

penuh hormat

keluarlah seorang laki-laki

berdasi paruh baya diapit

seorang ibu muda cantik

menenteng tas branded

sesekali mereka bertukar

canda berjalan ke arah 

pintu restoran


hampir tiga langkah lagi

mereka sampai ke pintu

tiba-tiba selokan yang

ditutup keramik berwarna

merah bercampur kuning

berdetak kuat, dalam 

hutungan detik air dalam

selokan menyembur seperti

bendungan bobol.


tidak itu saja dari dalam 

restoran air juga melimpah

ruah, estalase, nasi, lauk pauk,

meja kursi, laci kasir,

semua benda apa saja

menyemburkan air

suasana berubah drastis

mobil-mobil mewah hanyut

dibawa arus deras

orang-orang berteriak

histeris, seketika mayat

dimana-mana

diantara hiruk pikuk

kacau balau itu terdengar

teriakan si bapak dan istrinya:

selamatkan dasiku

selamatkan tas brandedku


[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



SISA WAKTU CINTA

rindu,

aku ingin menolakmu

karena engkau tlah dipagut

merpati putih untuk dibawa

terbang ke langit tinggi

yang tak mungkin lagi

turun ke bumi

apa lagi hinggap 

di ranting rapuhku


rindu,

sungguhpun engkau 

akan pergi tidak lama lagi

izinkanlah aku membasuh

luka hati dengan huruf-huruf

kasihmu yang tak sempat

ku raba walau sejenak

izinkanlah aku meminjam

jemari lentikmu buat

memetik dawai cinta

yang hampir putus 

diregut nestapa derita


rindu,

tunggu dulu sayang,

jangan pergi, sebentar saja

temanilah aku disisa umur

rindu yang tinggal

menghitung waktu 

terbenam lemas dalam

genangan air mata,

sebelum sempat ku balut

dengan ujung hijab

sucimu.


[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



DI BANGKUMU

aku masih di bangkumu,

menunggu sapaan angin 

memagut kemesraan

mengecup huruf-huruf rindu

berlomba tak sabar merangkai

cerita tentang masa lalu

yang pernah disergap sepi

aku masih di bangkumu,

menoreh selembar kertas

menggunakan pensil yang

ku raut dengan pisau berkarat

bekas darah dari sayatan

luka lama yang darahnya

masih menetes perih

hingga kini.


perlahan sketsa wajahmu

hampir selesai, setetes darah

dari lukaku jatuh persis

di bibirmu yang tadinya

kuyu seketika berubah

merah merekah.

aku masih di bangkumu,

meresapi detak jarum jam

menghitung waktu

yang aku tahu tidak

mungkin mundur

mengulang rindu.


[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



MEMBACA ULANG

JANJI KEKASIH

kekasih,

telah hampir sewindu sepi

memasung huruf-huruf merangkai

kata menuliskan kisah-kisah 

menjadi lembaran cerita 

yang dulu biasa kita bertengkar

saling berebut waktu

untuk membacanya.

 

kekasih,

mengapa musim hujan yang

dulu kita perjuangkan bersama

cucuran airnya terhalang

oleh entah apa sehingga

bunga-bunga edelwis yang

tumbuh di sudut-sudut kota

kian hari semakin mengering

mengigil dalam kecemasan

meneruskan hidupnya

 

kekasih,

dimanakah senandung rindumu

yang dulu sering engkau

dendangkan memecahkan

kesunyian memanggil

unggas-unggas dari segala

tempat, dari segala bentuk dan

rupa untuk saling berkicau

pamerkan suara

bahkan mempersilahkan

harimau dari hutan

larangan berorasi mengasah 

taringnya.

 

kekasih,

dimanakah janji rindu yang dulu

setiap waktu engkau 

kumandangkan kemana-mana

engkau rafal bagaikan

mantra penenang jiwa

apakah engkau terlupa

ataukah tidak lagi setia?

 

[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



SENJA PASTI TIBA

awal bermula disubuh 

menggema 

mulailah huruf tertatih meniti

kata dalam tangis pertama

dicelah-celah rintihan 

dan syukur bahagia

dibisikkan azan dan iqamah

maka resmilah berpisah

 

dari alam azali memasuki

hiruk pikuk duniawi

tidak dapat berlama-lama

mencumbui dunia

sebab jarak subuh dan zhuhur

selisih waktunya tidak

seberapa, sementara

belum sempat 

berleha-leha asharpun

datang menyapa

 

masa semakin dekat 

mengakhiri catatan kata

subuh tak mungkin 

kembali, sedangkan zuhur

telah senyap melepaskan diri

pidato, tawa, kuasa

serta keperkasaan hanya

tinggal dalam ingin

azan dan iqamah segera

berganti talqin 

senja telah pasti tiba

dalam sendiri 

berangkatlah jiwa

[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



SELEMBAR DAUN RINDU

engkaukah itu

yang suaramu mengalir desah rindu

dalam setiap huruf dan kata jelas bisa ku eja

bagaikan mantra mempertautkan luka

aku berusaha merangkainya menjadi nada

menggigit cinta yang ku rafal mendendangkan

mata dari lelapnya sampai malam

diakhiri azan mengecup subuh 

berbisik rindu

“ash-shalatu khairum minan naum” 

 

engkaukah itu

yang hari-hari aku selalu menunggu

berbincang mengurai kata

memperdebatkan segala huruf sampai

ke titik koma, beradu gagasan sampai

menghitung kecepatan kerlipan cahaya

bintang untuk menembus ke cahaya 

hati hingga luluhlah diri di dalam diri

hilang diri di dalam cahaya, lenyaplah

cahaya tinggallah cahaya.

 

engkaukah itu 

yang janjimu telah ku tulis pada selembar

daun rindu, ku bawa kemana-mana

dalam lelap dan terjaga hinggalah 

sampai petang tadi sepotong ranting

patah terjatuh menimpanya daun

tersobek tangkaipun patah

menghujam persis menusuk jantungku

seketika itu akal hilang fana

badanpun rebah tersungkur 

bersimbah darah.

 

[] Mukhyar Buchari, Pekanbaru-Riau



HOLOGRAM DIRI

aku sering berpikir

sesungguhnya sekali-sekali

aku perlu menjadikan diriku

hologram

agar aku dapat dengan 

leluasa melihat diriku

membaca diriku

mendengarkan detak 

jantungku mendengar

lafal ayat-ayat suci yang 

ku baca

hadist dan kitab-kitab yang

ku ketahui

sujud dan zakat yang ku

kerjakan, infak dan shadaqah 

yang ku sebarkan

perbenturan huruf-huruf

hati dengan kalimat mulut

bermanis-manis

 

jangan-jangan hologramku

memperlihatkan bahwa

ternyata  segala amal

ibadahku hanya catatan

hampa yang ku pamerkan

dengan bangga

padahal sedetikpun

Tuhan tidak pernah

Hadir di sana


 

SELEMBAR DAUN RINDU

engkaukah itu

yang suaramu mengalir desah rindu

dalam setiap huruf dan kata jelas bisa ku eja

bagaikan mantra mempertautkan luka

aku berusaha merangkainya menjadi nada

menggigit cinta yang ku rafal mendendangkan

mata dari lelapnya sampai malam

diakhiri azan mengecup subuh 

berbisik rindu

“ash-shalatu khairum minan naum” 

engkaukah itu

yang hari-hari aku selalu menunggu

berbincang mengurai kata

memperdebatkan segala huruf sampai

ke titik koma, beradu gagasan sampai

menghitung kecepatan kerlipan cahaya

bintang untuk menembus ke cahaya 

hati hingga luluhlah diri di dalam diri

hilang diri di dalam cahaya, lenyaplah

cahaya tinggallah cahaya.

engkaukah itu 

yang janjimu telah ku tulis pada selembar

daun rindu, ku bawa kemana-mana

dalam lelap dan terjaga hinggalah 

sampai petang tadi sepotong ranting

patah terjatuh menimpanya daun

tersobek tangkaipun patah

menghujam persis menusuk jantungku

seketika itu akal hilang fana

badanpun rebah tersungkur 

bersimbah darah.

[] 28-o1-2o2o

Cak MuBu


*Tentang Penyair

    Dosen STAI Diniyah Pekanbaru Riau

    Direktur Pendidikan Perguruan Al Kifayah Riau

    Peminat Sastra ini tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media dan diterbirkan.


Posting Komentar

0 Komentar