Recents in Beach


Orang Tasik Gila Belanja

 

Oleh Asep Chahyanto 

Adanya pendingin ruangan tidak membuat udara menjadi sejuk apalagi dingin.  Udara panas mungkin saja terbawa dari luar ruangan, yang siang itu panas matahari terasa terik menyengat. Namun, mungkin juga karena sesaknya orang-orang yang memadati ruangan. Hari itu, saya baru keluar dari Toko Buku G yang ada di salah satu mall terbesar di Priangan Timur.  Tepat sehari sebelum bulan puasa resmi tiba.  Telah dua hari ini Kota Tasikmalaya dipadati pengunjung dari luar kota.  Tentunya untuk berbelanja berbagai keperluan menjelang hari lebaran.

Nampak, satu keluarga –ayah ibu,dua orang anak perempuan sekitar 16 tahun dan 14 tahun, dan dua anak laki-laki sekitar 12 tahun dan 10 tahun--berkumpul di salah satu sudut ruangan.  Sejumlah keluarga yang lain tengah bergembira memilih berbagai pakaian yang ada.  Dan keluarga-kelurga lainnya memenuhi ruangan-ruangan tempat mencoba pakaian.  Mereka yang di dalam ruangan, mematut-matut diri di depan kaca, bagai Narsisus yang tak henti memandangi diri, pakaian dan wajahnya kemudian jatuh cinta pada dirinya sendiri.

 “Ulah hayang nu eta atuh neng, mahal!  Asal aya we sasetel sewang, tah jatahna ngan sakitueun (menyebut sejumlah nominal uang), ” kata si Ibu yang ada di sudut ruangan.

 “Iya neng, da nu ieu ge alus ceuk Bapa mah.” Sahut ayahnya. Kedua tangannya memegang gaun untuk perempuan dan menilainya dengan memutar-mutar gaun, yang juga diamati oleh ketiga anaknya yang lain.

 “Abi mah hoyong nu ieu,”   kata sang gadis ngotot, sambil mendekap gaun untuk anak remaja.  Dilihat sekilas saja kita bisa melihat, gaun yang dia pegang jauh lebih bagus dari pada gaun yang dipegang oleh ayahnya,tentunya harganya pun jauh lebih mahal.   

 “Ih ari maneh sok tara bisa diatur pisan.”  Ujar si Ibu, nampak kesal dan kehabisan kesabarannya, secara refleks tangannya mencubit dengan keras perut sang anak.

Penulis bisa ber-emphaty pada pasangan orang tua tersebut, betapa pusingnya mengatur keuangan keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan menjelang hari lebaran.Dan ingin mencoba menjelaskan kenapa masyarakat modern sekarang ini, khususnya masyarakat di wilayah Tasikmalaya hidupnya sangat konsumtif?


Identitas Diri di Era Modernisasi

Menurut Synnot (1992) Identitas diri seseorang akan berubah bersama perubahan bentuk tubuhnya. Pubertas, kehamilan, penuaan, menopause dan kecelakaan yang menimbulkan kecacatan misalnya akan merubah konsep dan identitas diri seseorang tersebut.

Selanjutnya Synnot menyatakan bahwa, tubuh pada hakekatnya memang bukan semata-mata tulang dan kulit, namun lebih jauh merupakan diri. Tubuh dalam pengertian ini bukanlah tubuh secara fisik, namun tubuh yang terbentuk sebagai sebuah konstruksi sosial dan budaya. Sebagai diri, tubuh dapat memberikan informasi tentang banyak hal. Melalui usia, gender serta warna kulit, tubuh dapat memberikan arti tersendiri. Bagian-bagian tubuh beserta atributnya merupakan determinan dalam pembentukan konstruksi identitas diri.

Dengan demikian, identitas diri seseorang tidak bisa dilepaskan dari sebuah konstruksi sosial dan budaya dimana diri/tubuh itu berada.  Menurut Anthony Giddens (1991) modernisasi merubah konstruksi terhadap identitas diri seseorang, hal tersebut erat kaitannya bahwa modernitas tidak bisa dilepaskan dari dua di antara empat gugus penyangga modernitas yakni: kapitalisme  dan industrialisme.

Proses strukturasi modernitas ini juga menerobos jauh ke wilayah hidup pribadi. Apa yang oleh para psikolog dan ilmuwan sosial disebut “diri” (self) semakin lolos dari penentuan tradisi komunitas lokal. Identitas diri tidak lagi ditentukan oleh tradisi yang telah dijalani secara turun temurun.

Keinginan memiliki anak,sekarang semakin ditentukan oleh atau berada dalam sistem ahli medis. Kalkulasi pencapaian karier dan kesejahteraaan finansial semakin ditentukan oleh sistem ahli ekonomi.  Mencari sahabat dan relasi intim semakin menjauh dari tradisi yang ditentukan oleh budaya atau komunitas kita, hubungan interpersonal lebih mendasarkan diri padarasa percaya (trush) yang diburu dan dimenangkan lewat penyingkapan diri (self disclosure). 

Istilah ‘berbagi rasa’ (sharing) atau dalam bahasa populer “curhat” menjadi istilah kunci dalam psikologi modernitas.  Rasa percaya diri, baik dalamarti trust maupun pede (percaya diri),semakin menjadi objek buruan.  Seperti yang telah kita lihat di tempat mencoba pakaian di mall di atas.


Identitas Diri Sebagai Komoditi

Di era globalisasi ini kita tidak bisa menampik bahwa citra tubuh yang cantik, tampan,  menarik serta seksual dikaitkan dengan pemahaman hedonis. Ini semua tidak lepas dari penyangga modernitas yakni kapitalisme dan industrialisme yang membawa ledakan yang dahsyat terhadap gaya hidup konsumtif yang diakibatkan oleh iklan, radio, televisi yang menjual berbagai produk untuk mempercantik diri.

Sekarang ini, kita tidak akan kesulitan untuk menemukan berbagai produk perawatan tubuh, pusat-pusat kebugaran dan sekolah-sekolah kepribadian yang meneguhkan premis bahwa tubuh merupakan aset atau kapital budaya.

Menurut Featherstone (1991), perhatian yang diberikan terhadap tubuh dapat dibedakan menjadi dua kategori: bagian dalam tubuh dan bagian luar tubuh. Bagian dalam meliputi perawatan dan penanganan kesehatan serta berfungsinya organ-organ tubuh secara normal. Bidang perhatian ini mencakup pencegahan penyakit, penyalahgunaan obat dan kemerosotan kondisi tubuh akibat penuaan. Sementara itu, bagian luar tubuh mencakup penampilan dan pengontrolan tubuh serta gerakan tubuh di dalam ruang sosial. 

Dewasa ini, bagian luar tubuh lebih banyak mendapat perhatian dibanding bagian dalam tubuh. Penampilan luar tubuh kini menjadi unsur utama tubuh. Identitas diri pun menjadi sangat ditentukan oleh penampakan luar tubuh. 

Menurut Giddens (1991), dalam pusaran proses ini termasukpula semakin tingginya etos “kepemenuhan/pemenuhan diri” (self fulfilment) serta  aktualisasi diri (self actualisation).    Sehingga saat ini kita akan mudah menemukan buku-buku yang menunjang untuk mengukuhkan identitas diri, seperti buku-buku “Cara Menjalin Persahabatan”, “Metode Tampil Menawan”, “Lima teknik Memenangkan Persahabatan”,dll

Lebih jauh lagi, banyak orang yang menginginkan identitas dirinya sempurna oleh karena itu tubuh menjelma menjadi sesuatu yang bisa dibentuk, dirubah bahkan dipilih sesuai keinginan pemiliknya. Dengan kemajuan teknologi medis, tubuh juga tidak lagi orisinal. Hidung yang lebih mancung, alis yang ditato, pipi yang dibentuk, dagu direkayasa, menjadi bagian tubuh kontemporer.

Adanya media sosial seperti FB dan Twitter, dijadikan ajang untuk menampilkan produk hasil memburu perawatan diri. Sekarang kita akan mudah menjumpai orang yang mematut-matut diri dan memotret dirinya dengan bantuan HP-nya sendiri.


Penutup

Itulah alasan penulis,”Kenapa Orang Tasik Gila Belanja.”  Dengan bantuan pisau analisa yang telah disediakan oleh para filsuf  Postmodernisme, Orang Tasik juga bagian dari warga dunia, terkena gejala globalisasi dan modernisasi juga.  

Modernisasi telah merubah konstruksi terhadap identitas diri seseorang, kapitalisme dan industrialisasi sebagai dua penyangga modernisme telah membawa ledakan konsumerisme,termasuk dalam industri perawatan dan penampilan diri yang di “gilai” orang Tasikmalaya.


*Artikel dimuat di buku Tasikmalaya dalam Sepenggal Masa, Penerbit Mata Pelajar Indonesia. Terbit ulang atas seizin penulis. 

**Tentang Penulis

Asep Chahyanto, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, tanggal 22 Maret 1960. Menyelesaikan  Pendidikan S1 dari IKIP Bandung Jawa  Barat  (sekarang UPI)  pada tahun 1983. Terhitung mulai 1 Maret 1987 diangkat menjadi Dosen Kopertis Wilayah  IV  yang  ditempatkan di Universitas Siliwangi Tasikmalaya dengan jabatan sebagai Asisten Ahli Madya.  Pada tahun 1994 memperoleh gelar Magister Sains dari Institut Pertanian Bogor (Kegiatan Pengumpulan Kredit/KPK di Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah). Tahun 2002 menjadi mahasiswa Program Doktor di Jurusan Sosiologi FISIPOL Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (tidakselesai).

Semenjak tahun 2004 sampai sekarang menjadi anggota Panitia pelaksana RANHAM (Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia) Kota Tasikmalaya, dan bekerja sama dengan pemerintah/pemerintah daerah dalam memperkuat peran pemerintah, kapasitas, dan kompetensi di bidang pembangunan daerah, pengembangan kelembagaan, manajemen pendidikan. Tercatat, pernah membantu Sub Direktorat Fasilitasi Kerjasama Pemerintahan Direktorat Kelembagaan dan Kerja sama Desa -Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kementrian Dalam Negeri. Sekarang sebagai dosen Luar Biasa di STIA YPPT Priatim, sebagai Tenaga Ahli DPR RI, dan  Tenaga Ahli di Lembaga Kajian Kebijakan dan Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa (LKK PKPD) Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar