Recents in Beach


Muhammad Yamin, Peneroka Bahasa Kebangsaan


Inskripsi.com | Karya Utama, Admin--Penampang Sejarah Kesusastraan Indonesia bergerak dalam dua sisi, yakni karya dan kiritik. Darinya muncul pembabakan yang disusun dengan penanda sastrawan dan karya.

Sepanjang menyusuri sejarah kesusastraan Indonesia, kita mesti berterima kasih kepada Hans Bague Jasin yang telah melakukannya. Bahkan, hingga sekarang dedikasinya atas kesusastraan Indonesia dapat kita rasakan dengan mengakses Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jasin.

Seperti diketahui, Jasin membagi sejarah kesusastraaan  Indonesia dalam Sastra Indonesia Lama dan Sastra Indonesia Baru. Pewatas dipakai Jassin dari karya-karya terbitan Balai Pustaka (1920) yang kala itu banyak menerbitkan novel untuk bacaan pelipur lara rakyat pribumi. 

Selain berfungsi sebagai bacaan pelipur lara, karya sastra dapat menjadi media penyampaian gagasan, terutama kesadaran kebangsaan (nasionalisme) yang kala itu menjadi kesadaran kolektif generasi pertama kaum intelektual pribumi hasil didikan politik etis kolonialisme Belanda. 

Di tahun 1920--1922 Muhammad Yamin yang aktif dalam gerakan pemuda Jong Sumatera produktif menginskripsi gagasan kebangsaan lewat media sastra. Bentuk puisi yang ditulisnya menjadi penanda peralihan platform puisi lama ke puisi baru.

Berbeda dengan karya novel yang massif diterbitkan Balai Pustaka, puisi belum berterima dengan khalayak pembaca pribumi karena masih ditulis dengan penyebaran yang terbatas (manuskrip). Selain itu, puisi lebih dapat menampung gagasan kreatif kebangsaan sehingga tidak leluasa diapresiasi karena sensor kolonial Belanda.

Tentu, pembahasan kita akan tertuju pada karya Muhammad Yamin. Sastrawan  ini juga menginisiasi pentingnya bahasa persatuan sebagai media komunikasi dan konsolidasi antarkesatuan pemuda suku bangsa. Hal ini dsampaikannya dalam Kongres Pemuda I (1926).

Pada saat itu terjadi perdebatan antara Yamin dan M. Tabrani. Konsensus dan komitmen para pemuda belum sampai pada ikrar.Yamin masih mengusulkan nama bahasa Melayu sebagai alat perjuangan. Sementara itu, M Tabrani yang sekaligus menjadi ketua sidang menggagas nama bahasa Indonesia.

Namun, tanpa mengecilkan jasa Tabrani, kedua pemuda kesatuan ini esensinya menyepakati bahwa harus ada alat pemersatu dalam komunikasi dan konsolidasi untuk mewujudkan gagasan kebangsaan.  Yang membedakannya, Yamin menginskripsi gagasan kebangsaan melalui puisi dan Tabrani melalui tulisan jurnalistik.

Sejarah kemudian mencatat, pada Kongres Pemuda II (1928), bahasa Melayu yang sudah menyebar pemakaiannya di seantero Nusantara, akhirnya ditasbih sebagai simbol persatuan dengan label Bahasa Indonesia.

14 Larik Beruntai dalam Bait Soneta

Di tahun 1920-an, genre puisi telah menerima bentuk baru dalam penulisannya. Sastra Indonesia Lama yang berpangkal pada kesusastraan Melayu lama menyertakan platform pantun (dengan variasi karmina, talibun, dan seloka), syair, gurindam, bidal, dan mantera. 

Bentuk baru yang dimaksud adalah empat belas baris seuntai dalam bait yang dikenal dengan istilah soneta. Bentuk baru ini berasal dari Italia yang masuk dalam kesusastraan Belanda, yang dibaca oleh generasi pertama intelektual pribumi. 

H.B. Jasin mendaulat Muhammad Yamin sebagai sastrawan pembaharu dalam puisi Indonesia. Jadi, selain sebagai peneroka terbentuknya bahasa Indonesia, Muhammad Yamin juga didaulat sebagai peletak dasar puisi baru Indonesia bersama dengan Sanusi Pane. 

Berikut ini kutipan puisi yang secara bentuk memakai soneta dan secara isi menginskripsi gagasan kebangsaan.  

Di Lautan Hindia

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula bertabur
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi barissan sebuah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur

Penjelajahan bentuk puisi penyair ini masih belum lepas dari tradisi puisi Melayu lama, seperti syair dan pantun. Namun, dalam isi penyair ini telah menginskripsi gagasan kebangsaan, seperti terbaca dalam puisi “Tanah Air”, “Indonesia Tumpah Darahku”, dan “Bahasa, Bangsa” 

Hal yang sama dilakukan oleh sastrawan sezaman dengannya. Gagasan kebangsaan terbaca dalam puisi Sanusi Pane, seperti “Teratai, Kepada Ki Hajar Dewantoro”, “Tanah Bahagia”,  dan “Majapahit”. 

Untuk lebih mengenal karya Muhammad Yamin, berikut ini dilampirkan beberapa puisinya.

#1
Bukit Barisan


Hijau tampaknya Bukit Barisan
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang
Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang
Habislah tahun berganti jaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang
Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Berteduh selasih kemboja sebatang


#2
Gembala

Perasaan siapa tidak kan nyata
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja di tengah dendang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan elok permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengar puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau


#3
Gamelan

Tersimbah hati melihat bulan,
Diiringi awan kanan dan kiri;
Bagaikan benda berseri baiduri,
Sedangkan bintang timbul-timbulan.
Di waktu purnama berjalan-jalan
Seorang sahaja sayang sendiri;
Digundah lagi di malam hari,
Turun naik bunyi gamelan.
Lamalah sudah, padam suara,
Dibawa angin ke mana tujunya.
Kemudian hilang dalam udara.
Entah di mana sekarang duduknya,
Tetapi hatiku tiada terkira;
Siang dan malam dimabuknya.


#4
Gubahan 

Beta bertanam bunga cempaka
Di tengah halaman tanah pusaka,
Supaya selamanya, segenap ketika
Harum berbau, semerbak belaka.
Beta berahu bersuka raya
Sekiranya bunga puspa mulia
Dipetik handaiku, muda usia
Dijadikan karangan, nan permai kaya
Semenjak kuntuman, kecil semula
Beta berniat membuat pahala,
Menjadikan perhiasan, atas kepala.
O Cempaka, wangi baunya
Mari kupetik seberapa adanya
Biar kugubah waktu la’i muda.


#5
Perasaan

Hatiku rawan bercampur hibur
Mendengarkan riak desir-mendesir
Menuju ke pantai di tepi bergisir
Berlagu dendang sumber-menyumber.
Ombak bergulung hambur-menghambur
Mencari tepi tanah pesisir
Lalu terhempas di padang pasir
Buih berderai, putih bertabur.
Duduk begini di bulan terang
Mendengarkan gelombang memecah di karang
Rasakan putus jantungku gerang
Setelah selebu sedemikian menyerang
Terdengarlah suara merdu menderang:
‘Perasaan tinggi pemuda sekarang


#6
Tanah Air

Pada batasan, bukit Barisan,
Memandang aku, ke bawah memandang;
Tampaklah Hutan, rimba, dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula;
Langit yang hijau bertukar warna;
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.
Sesayup mata, hutan semata;
Bergunung bukit, lembah sedikit;
Jauh di sana, disebelah situ,
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
-Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.
Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala,
Itulah laut, samudera Hindia,
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai,
Ia memekik berandai-randai :
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”


#7
Di Lautan Hindia

Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Sebelah Timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula bertabur
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi barissan sebuah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur


#8
Indonesia Tumpah Darahku

Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku
Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang
Tumpah darah Nusa India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di Indonesia
Beta berniat membuat pahala,
Menjadikan perhiasan, atas kepala.
O Cempaka, wangi baunya
Mari kupetik seberapa adanya
Biar kugubah waktu la’i muda.


#9
Bahasa, Bangsa
Selagi kecil berusia muda
Tidur si anak di pangkuan bunda,
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyaknya sedang;
Berbuai sayang malam dan siang
Buaian tergantung di tanah moyang.
Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri
Diapit keluarga kanan dan kiri
Besar budiman di tanah Melayu
Berduka suka, sertakan rayu
Perasaan serikat menjadi berpadu,
Dalam bahasanya, permai merdu.
Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangkan nyawa,
Dalam bahasa sambungan jiwa.
Di mana Sumatera, di situ bangsa,
Di mana Perca, di sana bahasa.
Andalasku sayang, jana-bejana,
Sejakkan kecil muda teruna,
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa, tiadakan pernah,
Ingat pemuda, Sumatera malang
Tiada bahasa, bangsa pun hilang.


#10
Bandi Mataram!

Pandangan jauh sekali
kepada zaman yang sudah hilang,
Ketika dewa hidup di bumi
serta bangsaku, bangsaku sayang
Berumah di hutan indah sekali,
atau di ranah lembah dan jurang,
O, Bangsaku, alangkah mujurmu di waktu itu
berjuang di padang ditumbuhi duka
Karena bergerak ada dituju
serta disinari cahaya Cinta
Atau meratap tersedu-sedu
karena kalbunya dipenuhi duka.
Walau demikian beratnya beban
hati nan sesak tiadalah sangka;
Ke langit nan hijau menadahkan tangan
meminta ke-Tuhan junjungan mulia
Supaya peruntungan tuan lupakan,
walau sengsara bukan kepalang
Tuan elakkan segala semuanya
biar terhempas terbawa ke karang,
Karena bangsaku nan sangat mulia
dengan begola, bintang gemilang
Serta bulan bersamaku surya
bertabur di langit gulita cemerlang,
Ia sehati, sekumpul senyawa,
Sebagai anak nan belum gedang
Kulihat tuan bergerak ke muka
dengan sengsara biar berperang,
Kadang berbantu haram tiada:
sungguh demikian Cahaya nurani
Nan bersinar-sinar di dalam dada
Bertambah besarnya bergandakan seri
Biar menentang bala dan baya
yang menceraikan orang, sehidup semati
Atau sepakat taulan saudara.
Dalam pandanganku tampaklah pula
Daripada bangsaku beberapa orang
berjalan berdandan ke padang mulia
Ke medan gerangan hendak berjuang
berbuat kurban meminta sejahtera
Isteri dan anak, sibiran tulang,
Baik bercabul rukun dan damai
bangsaku selalu besar dan tinggi:
Kadang ‘tu fajar hampir berderai
sedangkan embun belumlah pergi
Berjalan tuan alim dan lalai
menjelang sawah sedang menanti,
Beserta kerbau, anak dan bini
Tuan berjerih membuat puja
Kepada tanah yang subur sekali:
berkat pun turun dihadiahkan dewa,
Karena awan di gunung dan giri
turun ke bumi hujan terbawa
Alamat kesejahteraan sangat sejati!
Ditengah malam duduk bersama
Menghadapi seri cahaya pelita
timbullah sukur di hati mesra
Serta mendoa ke-Tuhan Mahakuasa
memulangkan santun, meminta cinta.
Jikalau pekan harilah balai
Alangkah sukanya kecil dan besar.
Segala yang kecil sorak semarai
menurut jalan berputar-putar
Serta sorakan bandar dan permai:
Ada menolong ibu dan bunda
Walaupun ketiding belum berisi!
Ada bermainan, cengkerik dan layang
Dan mengadu ayam, sesuka hati!
Berapalah suka alang kepalang
Bergurau dengan pinangan sendiri,
Si anak dara di hari nan datang!
Gadis perawan muka nan permai,
ketika hari bersuka raya,
Semua berjalan menuju balai:
kalau begini terkenang dik beta
Besarlah hati tiada ternilai,
karena disinari ingatan mulia.
Lihatlah perempuan hiasan di kampung
berpakaian adat bertekatkan emas
Berteduh di surga sebagai payung
menginjakkan kaki langkah yang tangkas
Atau mengidap sebagai ikan tunjung
menceriterakan rahasia, harap dan cemas,
Di belakang berjalan ninik dan mamak,
Ajuk-mengajuk bertukar bicara
Timbang menimbang kuranglah tidak
Ke balai terus gerangan jua
Dengan suara seberapa suka!
Tiada berhingga sehari-harinya.
Apabila hari sudah malam
Datanglah pula satu per satu
berundangan makan di hari kelam:
Demikian teguhnya gerangan bangsaku
Senyawa sebadan, sejahtera dan malam
Membuat kurban setiap sekalu,
kepada kawan handai dan taulan
Jika diserang gundah gulana
tuan sembahkan kedua tangan.
Dan berapalah pula berhati suka
Kalau disinari caya kenangan,
Alamat bagia yang sangat mulia.
Lihatlah gerangan, pandanglah pula
Di sana memutih cahaya mega
Menebarkan harapan di cakrawala.
Dengarkan sungai, air dan gangga
Mengeluarkan lagu merdua suara
Sebagai bunyian di dalam suarga.
Di hati bangsaku di pulau perca
Bersinar Cinta, bersuka riang
Menghadapi usia, gemilang cuaca.
Wahai bangsaku, remaja ‘lah lindang
Sebagai embun di hari pagi
Lenyaplah ke zaman yang sudah hilang
Kini bangsaku, insafkan diri
Berjalan ke muka, marilah mari
Menjelang padang ditumbuhi mujari
Dicayai Merdeka berseri-seri.

Mangkubumi, 9 Februari 2021

Nizar Machyuzaar


Posting Komentar

0 Komentar