Recents in Beach


McDonaldisasi Kehidupan di Kota Tasikmalaya

Oleh Asep Chahyanto


Tahun 2006 berdiri Mayasari Plaza di Jalan Pasar Wetan, diikuti oleh Asia Plaza di Jalan K.H.Z. Mustofa yang dibuka di penghujung tahun 2007. Keduanya merupakan penanda bahwa Kota Tasikmalaya mengalami pengukuhan McDonaldisasi kehidupan. Saya katakan pengukuhan, karena sebelum ada kedua mall ini, restoran-restoran cepat saji (fast-food) layaknya McDonald telah ada di beberapa Mall sebelumnya, seperti: Toserba Asia, Yogya, Samudra, Agung, dan Mega M

Masyarakat Kota Tasikmalaya kini telah lebih dalam memasuki kehidupan  modern.  Mengapa demikian? Apa yang dimaksud dengan McDonaldisasi oleh penulis?

Menurut George Ritzer, seorang pakar sosiologi, McDonaldisasi atau restoran cepat saji menunjukkan ciri dari kehidupan manusia modern.  Klaim Ritzer rupanya mengacu kepada karya Weber tentang rasionalitas.  Kalau di masa hidup Weber, sistem rasionalitas formalnya adalah “birokrasi”, sekarang rasionalitas formalnya lebih baik dibandingkan di masa Weber, yakni McDonaldisasi  tersebut.

Modern tidaknya suatu masyarakat, di antaranya dicirikan oleh cara bersikap masyarakat tersebut  di dalam menghadapi persoalan hidup.  Sejarah menunjukkan bahwa manusia, pada suatu waktu tertentu, lebih mengedepankan sikap mitis dalam menghadapi persoalan hidupnya.  Namun, dalam kehidupan modern manusia lebih mengedepankan rasio.

Sebagai contoh, dalam tahapan mitis, satu suku di suatu pulau, misalnya, manakala tanaman ubi jalarnya rusak karena tidak ada air –disebabkan hujan yang tidak turun. Mencari solusi dengan menyediakan “sesuatu” sebagai persembahan untuk penguasa (Dewa) hujan.  Namun, solusi seperti itu tidak akan dilakukan oleh manusia modern yang rasional. Masyarakat dalam tahapan modern, akan meneliti terlebih dahulu  bagaimana proses turunnya hujan dan akan mengetahui bahwa tidak turunnya hujan --bukan karena Dewa hujan yang tidak berkenan menurunkan hujan.  Berkat pemahamannya ini, masyarakat modern bahkan mampu membuat hujan buatan, tindakan mereka lebih efisien. 


Rasionalitas Kehidupan Modern

Ada empat dimensi atau komponen rasionalitas formal.  Pertama, Efisiensi, kedua, kemampuan untuk diprediksi, ketiga, kalkulabilitas, dan keempat, penggantian teknologi nonmanusia untuk teknologi manusia.

Restoran-restoran  cepat saji yang ada di Mayasari atau Asia Paza, seperti McDonald dan Kentucky Fried Chiken (KFC) dan beberapa perusahaan makanan cepat saji asli dalam negeri, memiliki semua dimensi tersebut.

Kalau kita perhatikan, pelayanan restoran fast-food sangat efisien. Mereka mencari cara terbaik untuk mempercepat pelayanan kepada konsumennya. Prekditabilitas (predictability) yang dijumpai pada McDonald atau KFC tampak jelas. McDonald yang ada di Tasikmalaya sama rasanya dengan yang ada di Bandung.  Demikian pula, ayam yang kita makan di KFC besok pagi, atau bulan depan, persis sama dengan yang kita makan hari ini.

Konsumen dibuat percaya, bahwa mereka dapat mengandalkan kuantitas komoditas yang dijual.  Mereka menyombongkan diri tentang betapa banyaknya ayam yang mereka jual, dan mampu untuk melayani konsumen dengan cepat. Tentunya setelah mereka mengalkulasi  banyaknya pembeli sehingga mereka menyediakan barang yang cukup.

Terakhir, mereka tidak tergantung pada seorang koki, siapa pun bisa menjadi kokinya, asal memasak mengikuti petunjuk yang telah mereka rinci dengan peralatan masak yang modern.  Di sini menunjukkan bahwa restoran cepat saji lebih tergantung pada peralatan canggih, teknologi nonmanusia.


Alat-alat Konsumsi Baru

McDonald, KFC, Texas Fried Chiken, Solaria, dan industri fast-food lainnya adalah salah satu alat konsumsi yang baru, selain alat-alat lainnya, seperti toserba, dan mall. Seperti halnya di Mall. Di Toserba Asia, Asia Plaza, Mega M, Yogya, Agung, dan Samudra, tersedia berbagai kebutuhan keluarga, mulai dari buku, koran dan majalah, mainan, pakaian, telur, daging, peralatan rumah tangga, dan lain-lain.

Toserba-toserba atau mall-mall tersebut di atas jelas merupakan alat-alat konsumsi, karena ia adalah sebuah alat, suatu struktur ekonomi dan sosial, yang membuat konsumen dapat memperoleh beraneka macam komoditas. Dan memiliki empat dimensi formal yang disebutkan di atas.

Konsumsi dibuat menjadi lebih efisien untuk konsumen karena tersedia semua jenis toko/gerai dalam suatu tempat. Konsumen percaya bahwa mereka dapat mengandalkan tiga hal yang dapat diquantifikasi –harga rendah, jumlah barang yang banyak, dan keanekaan jenis barang.  Konsumen juga bisa memprediksi, misal rasa ayam dari KFC yang mereka beli. Di mall dapat dilihat, bahwa sesuatu sangat dikontrol secara teknologis di semua aspek operasinya, mencakup suhu, lampu, acara, dan barang dagangan.

Warga Kota Tasikmalaya sebagai warga manusia yang modern, yang terdorong oleh kebutuhan efisiensi, akan memilih belanja ke toserba dibandingkan ke pasar tradisional, karena di toserba mau belanja apapun telah tersedia.  Di toserba, seperti Asia Plaza, suasananya lebih nyaman, lebih bersih, dan menjadi lebih  rileks seolah-olah kita sedang rekreasi.  Akibat semua itu, tentu saja ada sebagian warga yang dikalahkan, yakni para pedagang di pasar tradisional, dan para pemilik toko yang tidak berkonsep Mall.


Harapan Masyarakat

Kita tahu, bahwa sistem mekanisme pasar yang kelihatan adil memiliki beberapa kelemahan. Persaingan usaha antara pedagang kaya dan pedagang gurem atau kecil akan selalu dimenangkan oleh pedagang kaya. Persaingan mereka seperti halnya pertempuran ayam dan musang, yang akan selalu dimenangkan oleh musang. Di sinilah kita membutuhkan regulasi untuk melindungi usaha kecil, tetapi kita juga jangan mematikan aset kita --pemodal kuat yang memiliki jiwa entrepreneur.

Penulis khususnya dan Masyarakat pada umumnya, berharap Walikota yang baru bisa mengeluarkan kebijakan yang melindungi semua pihak, baik sektor pasar tradisional, maupun sektor modern.  


*Artikel dimuat di buku Tasikmalaya dalam Sepenggal Masa, Penerbit Mata Pelajar Indonesia. Terbit ulang atas seizin penulis. 

**Tentang Penulis

Asep Chahyanto, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, tanggal 22 Maret 1960. Menyelesaikan  Pendidikan S1 dari IKIP Bandung Jawa  Barat  (sekarang UPI)  pada tahun 1983. Terhitung mulai 1 Maret 1987 diangkat menjadi Dosen Kopertis Wilayah  IV  yang  ditempatkan di Universitas Siliwangi Tasikmalaya dengan jabatan sebagai Asisten Ahli Madya.  Pada tahun 1994 memperoleh gelar Magister Sains dari Institut Pertanian Bogor (Kegiatan Pengumpulan Kredit/KPK di Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah). Tahun 2002 menjadi mahasiswa Program Doktor di Jurusan Sosiologi FISIPOL Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (tidakselesai).

Semenjak tahun 2004 sampai sekarang menjadi anggota Panitia pelaksana RANHAM (Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia) Kota Tasikmalaya, dan bekerja sama dengan pemerintah/pemerintah daerah dalam memperkuat peran pemerintah, kapasitas, dan kompetensi di bidang pembangunan daerah, pengembangan kelembagaan, manajemen pendidikan. Tercatat, pernah membantu Sub Direktorat Fasilitasi Kerjasama Pemerintahan Direktorat Kelembagaan dan Kerja sama Desa -Ditjen Bina Pemerintahan Desa Kementrian Dalam Negeri. Sekarang sebagai dosen Luar Biasa di STIA YPPT Priatim, sebagai Tenaga Ahli DPR RI, dan  Tenaga Ahli di Lembaga Kajian Kebijakan dan Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa (LKK PKPD) Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar