Recents in Beach


Mati Cuma Sekali

 

Oleh Ihya M Kulon

Jalanan dan dunia hitam Kota ini sudah memberi banyak sekali pelajaran berharga pada diri dan hidupku. Dan satu yang sungguh berharga menurutku: Aku bisa merasakan benar bagaimana rasanya nyaris mampus !

Babak belur dikeroyok orang pernah beberapa kali aku alami. Semua pengalaman itu tidak akan pernah bisa aku lupakan rasanya. Aku pernah tertangkap tangan karena menjambret di terminal angkutan dalam kota Pancasila, di stasiun kereta api Lengkong, juga saat aku sedang beraksi mencopet di dalam Samudera Department Store, serta dua kali berturut-turut di keramaian festival tahunan kota ini yang rutin digelar di kawasan pusat olah raga Dadaha. Pokoknya urusan copet-mencopetjambret-menjambret, aku macannya di kota ini !

Bukan cuma itu saja, bahkan aku pernah sekali merasakan di lempar dari dalam bus antar kota antar provinsi bermerek Doa Ibu, setelah sebelumnya aku dihajar oleh sebagian dari para penumpangnya, lantaran aku kepergok seorang pengamen jalanan saat aku tengah asyik menyilet tas tangan seorang ibu berseragam pegawai negeri. Aku masih ingat betul saat itu si pengamen jalanan keparat itu sedang melantunkan lagu Iwan Fals kesukaanku yang berjudul “Nenekku Okem”. Melihat aksiku, spontan ia berteriak, ”Copeeeeet....!!!

Tetapi yang paling tidak bisa aku lupakan rasanya nyaris mati, adalah saat aku benar-benar jadi bulan-bulanan orang-orang Pasar Cikurubuk yang perkasa-perkasa, tiga tahun yang lalu. Pasalnya si ibu yang aku jambret kalungnya berteriak-teriak sejadi-jadinya, dan mulutnya meraung-raung laksana bunyi sirine mobil ambulan saja. Meski aku sudah berusaha lari ngepot sana ngepot sini, tetap saja aku mati kutu juga, terkepung di tengah-tengah pasar yang ramai, dan jadilah diriku sasaran empuk bogem-bogem mentah mereka tanpa ampun. Ketika itu selain wajahku bonyok dan kepalaku bocor di sana-sini, tangan kananku pun dipatahkan orang. Dua hari tiga malam lamanya aku baru sadar dari koma. Saat aku sudah benar-benar sadar, tahulah aku kalau pipi pantat sebelah kiri dan kananku terluka akibat ditikam benda tajam. Entah siapa pelakunya. Tetapi aku yakin, pasti si penikam pantatku adalah salah seorang dari tukang daging di pasar itu.

Sudah 12 kali aku ke luar-masuk rumah tahanan di Kota ini. Tapi untungnya semua kasus tertangkapnya aku bukan kasus yang terbilang berat secara hukum pidana --itu jika dibandingkan dengan tindak pidana yang dilakukan oleh para penjahat birokrasi alias para koruptor. Yang paling lama aku mendekam di dalam penjara selama satu-setengah tahun saja, ganjaran atas perbuatanku memukuli seorang babah cina yang buncit perutnya, pemilik toko emas terbesar di

Pasar Cihideung, hingga tiga giginya yang tonggos aku buat rontok dan dua jarinya aku patahkan

! Soalnya cuma sepele, akibat ia memenolak memberiku sebuah anting emas kecil untuk aku pasangkan di daun telinga kiriku. Itu saja. Padahal aku memintanya dengan cara yang baik-baik sekali. Karena aku ingat betul ketika itu aku cuma mabuk sedikit saja. Tapi sialnya, ketika itu lewat dua orang polisi lalu lintas dengan motor besarnya yang gagah, lantas meringkusku dengan mudah. Sedangkan kasus-kasus selebihnya aku jalani tiga sampai enam bulanan saja.

Boleh dibilang sejauh ini aku masih termasuk beruntung. Perbuatan-perbuatan jahatku yang berat-berat tidak pernah terendus pihak berwajib. Misalnya saja kejahatanku sebagai pengedar narkoba untuk anak-anak sekolah yang aku jalani hampir tiga tahun lamanya, membobol rumah-rumah dan toko-toko di malam-malam hari, juga mencuri atau merampas sepeda dan motor di seantero Kota ini dan sekitarnya.

Aku ini bukan preman kampung yang cuma lihai mencuri dan merampas, dan hanya layak menyandang predikat maling, copet atau jambret, karena tanganku ini sudah merenggut paksa lima nyawa manusia. Dua orang di kota ini, dua orang di Ciamis, dan seorang lagi di Bandung. Itu belum dihitung yang sekarat, lantaran aku tikam atau aku serang membabi buta dengan alat tumpul lainnya.

Dan di kota ini aku termasuk penjahat yang single-faigther alias bekerja sendiri untuk kepentingan diriku sendiri. Aku tidak suka punya kelompok atau nge-genk, apalagi punya bos yang harus aku setor kepadanya. Aku selalu beraksi sendiri, menanggung resiko sendiri, dan jika dapat hasil aku nikmati juga sendiri. Lagi pula aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku hanya anak jalanan yang berbapakan langit dan beribukan bumi.

Memang sempat sekali aku mau diajak oleh seseorang ikut bergabung dengan kelompoknya. Mereka bukan kelompok atau genk penjahat, melainkan kelompok orang yang mengklaim diri sebagai aktivis sebuah lembaga swadaya masyarakat di Kota ini. Aku dijanjikan bayaran yang cukup besar olehnya ketika itu, asal aku bersedia melakukan tindak kejahatan yang telah mereka rencanakan, sehari sebelum mereka mengelar demontrasi. Tawarannya aku terima, karena yang harus aku lakukan tidak terlalu sulit benar. Aku hanya harus melemparkan sebuah bom molotov, itu saja.

ku melaksanakan pekerjaan melempar bom molotov dengan baik dan benar. Disaat orang yang mengajakku itu bersama dengan seratus lebih kawan-kawannya tengah berdemontrasi di depan gedung DPRD Kota ini di tengah hari bolong yang panas menyengat, dan beberapa saat kelompok pendemo lawan para satpol PP dan satuan polisi tengah berkonfrontasi adu dorong pintu gerbang gedung DPRD Kota yang terbuat dari besi, sesuai isyarat perintahnya, diam-diam aku menyelinap ke arah belakang luar gedung, lantas bom molotov yang terbuat dari botol bekas minuman penambah tenaga yang sudah aku sulut sebelumnya, aku lemparkan hingga melesat dan langsung memecahkan sebuah kaca jendela salah satu ruangan yang ada di tingkat dua gedung tersebut. Praaaangg …!! Bleduuukk ...!!!

Walhasil, dalam waktu singkat si jago merah dengan asap hitamnya membakar ludes tiga ruang di tingkat dua gedung wakil rakyat yang terhormat itu dan melalap isi-isinya. Aku sempat sebentar menyaksikan sendiri, bagaimana dari dalam gedung orang-orang berseragam berhamburan keluar dengan berlari tunggang-langgang sambil berteriak-teriak

Sejak peristiwa itu, selama tiga bulan lebih aku buron ke pinggiran Kota Bandung. Aku baru kembali ke Kota ini, setelahnya lima orang demonstran yang ditangkap --termasuk orang yang membayarku itu-- dibebaskan karena dinyatakan oleh Pengadilan tidak terbukti bersalah telah mengakibatkan terbakarnya tiga ruang di tingkat dua gedung DPRD Kota, kecuali mereka dipersalahkan karena dianggap telah mengganggu ketertiban umum disamping pelanggaran berdemontrasi tanpa pemberitahuan tertulis sebelumnya. Itu menurut berita yang aku ketahui dari koran terbitan lokal. Namun baru kemudian aku ketahui, ternyata mereka dibebaskan karena adanya negosiasi tersembunyi untuk saling melindungi dan mengunci aib masing-masing.

Saat ini orang yang tujuh tahun lalu membayarku untuk melemparkan bom molotov itu sudah menjadi salah satu wakil rakyat yang terhormat dan menempati salah satu ruangan yang dahulu pernah ia suruh kepadaku untuk membakarnya. Sementara anggota-anggota dewan yang dahulu pernah didemonya, kini setelah tidak lagi mewakili rakyat yang sebenarnya, sebagian memilih menjadi pengusaha, sebagian lagi ada yang mendirikan yayasan dan LSM, dan ada juga yang masih betah mendekam dibalik jeruji besi. Ah, dasar aktifis dan politisi geblek ! Padahal kalau dipikir-pikir, mereka itu masih satu profesi denganku: Sama-sama maling !! Besar atau kecil yang dicuri, tetap saja namanya maliiiiing !!!

Mati cuma Sekali. Itu semboyan hidup yang tetap aku pegang teguh sampai usiaku 25 tahun kini. Semboyan ini selalu menjadi senjata pamungkasku bila aku sedang menghadapi satu persoalan genting dan sangat berbahaya. Bahkan semboyan ini selalu aku teriakkan dengan lantang jika aku sedang berhadapkan langsung dengan orang yang menantangku berduel, meski tubuh lawanku itu dua kali lipat besarnya dariku. Sampai hari ini pun aku masih tetap percaya 100% dengan semboyan hidupku ini. Sangat sakti. Telah terbukti membuat diriku selalu lolos dari mati. Dan aku sangat yakin sekali, diriku pasti akan kembali lolos dari mati, meski kali ini tubuhku terkapar bersimbah darah akibat dikeroyok puluhan mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota ini.

Peristiwa yang membuat aku sekarat itu terjadi persis di depan gerbang kampus mereka, gara-gara aku menyapa mereka dengan kata-kata, “Selamat siang wahai para calon penjajah Indonesia !”. Padahal saat itu aku sedang dalam kondisi setengah mabuk saja, dan memang berjalan agak sempoyongan di depan para mahasiswa yang baru saja keluar dari kampusnya. Tapi memang dasar mahasiswa zaman reformasi yang lebih suka pakai otot daripada otak, tak ayal mereka langsung merespon kata-kataku dengan pukulan-pukulan membabi buta.

 

MKulon lagi, si MKulon lagi yang sekarat !...” Suara itu aku dengar dan aku kenal betul. Suara dokter Santi, kepala ruang gawat darurat RSUD di Kota ini. 

  Dalam hati aku tersenyum mendengar keluhan mirisnya. Lalu aku rasakan tangan dokter Santi yang tanpa berbalutkan sarung tangan itu memeriksa luka-luka di sekujur tubuhku, kemudian ke bagian wajah dan kepalaku yang lukanya memang cukup parah. Dan seperti biasa ia didampingi oleh dua orang juru rawat wanita. Sungguh dari balik pelupuk mataku yang bengkak dan lebam, mereka bertiga bagaikan malaikat-malaikat saja.

“Ha...Ha...Hallo, dok...”, sapaku pada dokter Santi. Suaraku begitu berat dan serak, keluar dari kerongkonganku yang perih.

“Ya, hallo juga...”, sahutnya, ketus. “Gimana, sakit ?...”

”Lu...luma...yan, dok...”, jawabku susah payah.

“Looon, Lon…, kamu gak kapok-kapok juga sih... Memangnya kamu gak takut mati apa  !?”

Aku merasakan kelembutan juga sentuhan kasih sayang dari ucapan dokter Santi kali ini.

“Ma...Mati kan cu...cuma se...se...sekali, dok…”, kataku terseret-seret menahan sakit.

“Nah, gimana kalau kamu gak mati-mati juga sampai umur 100 tahun, mau !??”, desaknya spontan.

“…...???”

 

Tasikmalaya, Des 2011


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Good lah...sering2 nulis. Gue enjoy baca nye

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasi Anda. Ditunggu tulisannya.

      Hapus