Recents in Beach


Alih Kode dan Gejala Transgenre, Membaca Puisi-puisi "Jangan Lupa Bercinta" Yudistira ANM Massardi Pemenang Hari Puisi Indonesia 2020

Oleh Nizar Machyuzaar


Buku kumpulan puisi Jangan Lupa Bercinta karya Yudhistira ANM Massardi menjadi pemenang pertama buku puisi terbaik yang terbit di tahun 2020.  Yayasan Hari Puisi Indonesia memilih buku ini tentu dengan pertimbangan yang tidak asal-asalan. Apalagi, juri yang menilai adalah Sutardji Chalzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M. yang mewakili praktisi (sastrawan) serta Maman S. Mahayana yang mewakili akademisi. Ketiga juri ini juga sering mengulas dan memberi kritik atas karya sastra dengan gaya masing-masing. 

Buku setebal 214 halaman ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama (Cet. I, 07, 2020). Di dalamnya termuat 145 puisi yang dibagi dalam tiga bagian, yakni 23 puisi dalam rentang tahun penulisan 2017, 79 puisi dalam rentang tahun penulisan 2018--2019, dan 43 puisi dalam rentang tahun penulisan 2020. Sampul buku berwarna jingga dengan karakter huruf dan font yang tipis dan ornamen beberapa siput dalam berbagai pose. .

ALIH KODE | Seperangkat pengetahuan yang menjadi prapemahaman dan praperumusan dalam mengapresiasi tulisan dapat dikatakan sebuah kode. Bahkan, kode ini boleh jadi menjadi konvensi pembacaan dan penafsiran bersama atas teks. Tentu, teks dalam hal ini dibatasi sebagai any discourse fixed by writing (meminjam batasan Paul Riceour). Teks yang memiliki kode generatif yang membedakannya dengan teks-teks lain yang menciptakan ragam teks. Dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra, Teew menyebut setidaknya ada tiga kode, yakni kode bahasa, sastra, dan sosial.

Dalam hubungan seperti ini, bahan baku bahasa menjadi taruhan seorang penyair yang telah undurperan dalam teks puisi menjadi keniscayaan. Bahkan pun, penyair menjadi berstatus sebagai pembaca terjarak saat puisi diinskripsi ke dalam teks yang kemudian dengan sadar dilebeli puisi. Kode bahasa juga yang menghampiri pembaca lain sehingga puisi dapat memaksa pembaca untuk tunduk pada ketatabahasaan (kesepakatan bersama) dan mafhum atas pelanggarannya (litentia of poetica). Kita kutip sebuah bait berikut ini //Di pedestrian baru itu/Bangku-bangku menunggu waktu/Rehat dari penat/Menghitung umur yang lewat

Bait pertama tersebut memakai bentuk larik yang menyusun bait konvensional dalam puisi. Namun, dalam bait ketiga terdapat perbedaan yang menandai ujaran langsung aku lirik puisi dalam tanda baca petik dua: //“Berapa banyak puisi cinta ditulis/dan dinyanyikan di Malioboro?/Adakah yang mengalunkan rinduku?”//. Ujaran langsung ini menandai adanya tokoh dan peristiwa dalam puisi. Saya menemukan kecenderungan alih kode ini dalam puisi-puisi buku ini. 

Namun, beberapa puisi patut kita ulas dalam alih kode yang lain. Puisi “Sejak Semalam” (104), “Sajak Bubur Ayam” (106), “Sajak Kisah Cinta” (107), “Sajak Kebencian” (108), dan “Sajak Perempuan Cantik” (109) memakai strategi literer prosa dalam penulisannya. Transformasi satuan gramatikal kalimat sebagai dasar pembangun teks menjadi bias dalam mendefinisikan ragam: puisi, prosa, dan drama. Satuan gramatikal kalimat dalam bentuk larik atau baris yang menyusun bait diubah menjadi satuan gramatikal kalimat dalam bentuk kalimat yang menyusun paragraf. Berikut saya kutip penggalan puisi “Sajak Bubur Ayam”. //Maka pelajaran demokrasi harus dimulai dari tukang bubur ayam! Biar tumpah semua selera. Biar tumpah segala nyinyir//. 

Dalam bagian ini, apa yang dapat kita katakan atas bias kode genre dalam teks sastra adalah transformasi kalimat dalam berbagai bentuk. Bentuk larik yang membangun bait, bentuk kalimat yang membangun paragraf, dan bentuk ujaran langsung yang membangun adegan dalam teks sastra menciptakan kode-kode genre puisi, prosa, dan drama yang dipelajari dalam tekstologi. Selain itu, dalam satuan gramatikal kalimat tersebut terdapat persoalan diksi dan style yang menandai kekhasan seorang sastrawan yang, dikaji dalam stilistika. 

Adagium sastra tidak lahir dari kekosongan budaya menandai bahwa kesastraan sebagai tindakan konkret manusia melalui peristiwa bahasa atau wacana. Selain itu, tahap ini juga menyadarkan kita bahwa sistem tanda adalah subordinat dari sistem yang lebih besar, yakni sistem sosial. Kurang lebihnya, dapatlah dikatakan bahwa bahasa mengatakan sesuatu melalui sesuatu yang lainnya. Dari asumsi ini, bahasa, khususnya dalam teks sastra, memendam energi metafor, bukan sekadar simbol dalam otonomi relatif tanda.

GEJALA TRANSGENRE | Alih kode adalah salah satu kepiawaian penyair dalam menyusun teks puisi ke dalam antarlarik, antarkalimat, dan antarujaran. Mungkin, jika saja kita iseng berandai-andai membayangkan penulisnya tidak men-judgement tulisannya dengan label puisi, sebagai pembaca, kita justeru akan meredefinisi prapemahaman dan praperumusan kita saat membaca teks, Gejala bias genre boleh jadi adalah kepiawaian Yudhistira dalam menyusun puisi.

Terakhir, saya ingin menghubungkan ulasan terhadap karya buku puisi ini dengan implikasinya terhadap perumusan sastra yang melahirkan teori dan pendekatannya serta apresiasi dan penilaian karya yang melahirkan kritik sastra. Jika kita sepakat dengan akar dan pohon sastra kita yang dibangun dari tegangan antara tradisi tutur leluhur dan tradisi cetak tulis, dapatkah kita memformulasikan suatu kode generatif kesastraan yang kemudian ajeg dan ditasbih menjadi teori dan pendekatan? Saya pun masih memakai pendekatan Barat. 

Adakah para pemaham dan perumus sastra kita akhirnya membuat pisau bedah dari tungku peradaban kita sendiri? Apalagi, konvergensi teks sastra yang di-endors oleh media baru digital seperti berjalan masing-masing dengan kanon-kanon sastra mapan. Selain fenomena teks di media sosial, beberapa aplikasi memuat konten sastra yang asik dengan dunianya sendiri, seperti wattpad. Dari aplikasi ini, konvergensi teks digital berubah menjadi cetak kemudian berubah lagi menjadi film. Belum lagi, gejala self publising yang mulai menjalar diberbagai negara yang menegasikan sentralisasi produksi karya sastra, seperti dalam aplikasi Zine.

Hal ini menjadi teristimewa karena dasar teoretis dapat menumbuhkan kritik sastra yang kontekstual dengan keindonesiaan. Belakangan, saya menyimak kritik sastra kita berdegup kencang.  Namun, apakah pertumbuhan akar dan pohon sastra ini tumbuh dalam keselarasan antara karya, teori, dan kritik? Manakala kita belum dapat merumuskan teori yang bersumber dari konteks kesastraan sendiri, ditambah kritik yang sesekali tumbuh dalam kegaduhan, sementara karya tumbuh dalam keberagaman bentuk, jangan-jangan ada yang salah dengan teori dan pengetahuan kesastraan kita selama ini. Beberapa kali saya menyimak perkembangan kritik sastra Indonesia tumbuh dalam penilaian baik buruk, bahkan penghakiman yang masuk dalam ranah mencari-cari kelemahan karya secara berlebihan sampai ke urusan subjek bukan karya. Mungkin, kita harus memformulasikan ulang pemahaman dan perumusan kesatraan kita. 

Padahal, energi seni dan khususnya sastra adalah ketidakselesaian pencarian bentuk dan isi, yang sama juga terjadi dalam kritik. Jika pola kritiknya terbaca gaduh terus, mungkin dugaan saya, sebenarnya Sang Kritikus telah gagal menangkap dinamika karya yang berkembang. Apalagi, tantangan kita ke depan adalah menangkap keumuman karya, teori, dan kritik yang menjadi napas zaman sekarang. Dapatkah kita menukil bahwa buku ini sebagai pemantik untuk lahirnya sebuah kecenderungan baru dalam akar dan pohon sastra kita kini? Setiap karya akan membuat riwayatnya sendiri: melampaui zaman atau terlupakan.


Sumber Bacaan:

A. Teew, 2003, Sastra dan Ilmu Sastra, Penerbit Pustaka Jaya

-----------,1994, Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan, Penerbit Swadaya

Yudhistira AMN Massardi, 2020, Jangan Lupa Bercinta, Penerbit Gramedia Pustaka Utaman

Baca juga versi lengkapnya: Akar Dan  Pohon Sastra

Mangkubumi, 20 Februari 2021

Ditulis sebagai bahan diskusi untuk peluncuran buku puisi Jangan Lupa Bercinta, karya Yudhistiwa ANM Massardi yang diselenggarakan oleh Acep Zamzam Noor di Komunitas Azan, tanggal 28 Februari 2021

Posting Komentar

0 Komentar