Recents in Beach


Agribisnis dan Pembangunan Pertanian


 Oleh Dedi Sufyadi

Hari rabu, tanggal 20 Mei 2015, melalui kebaikan Rektor Unsil, Prof. H. Rudi Priyadi, saya berkesempatan turut hadir dan sedikit ber-tausiyah dalam acara seminar nasional tentang agribisnis dan pengembangan ekonomi pedesaan di Universitas Trunojoyo, Madura. 

Di sepanjang perjalanan pikiran normatif saya terus menerawang, bagaimana pengembangan ekonomi pedesaan di negeri agraris ini? Jawaban sementara pun langsung didapat bahwa menurut saya pengembangan ekonomi pedesaan itu identik dengan pembangunan pertanian. Dengan kata lain, dalam mengembangkan agroindustri itu jangan sampai melupakan penguatan subsistem on-farm.

Apa yang saya pikirkan di atas, dalam seminar ternyata tidak muncul. Prof. Bustanul Arifin, salah seorang Ketua Perhepi Pusat, menjadi pembicara kunci. Beliau  berujar bahwa negara maju yang jumlah petaninya sedikit, pemerintahnya begitu peduli terhadap pembangunan pertanian. Sebaliknya, negara sedang berkembang yang jumlah petaninya banyak, pemerintahnya cenderung abai terhadap pembangunan pertanian. Inilah yang disebutnya sebagai paradoksal pembangunan keblinger.  Tentunya, wajib untuk diluruskan. 

Dalam paparannya  BA setuju-setuju saja jumlah petani di negeri ini terus berkurang, sepanjang produktivitas karya mereka meningkat. BA berharap sekali, para akademisi, pengusaha, dan civil society bersatu padu menggerakkan pembangunan pertanian guna mengimbangi pembiaran yang cenderunng dilakukan oleh pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah sebaiknya tidak boleh  abai terhadap kemajuan sektor kerakyatan ini. Pemerintah harus mampu menciptakan gula di pedesaan. Ini amanat Undang-Undang agar proses transformasi ekonomi di negeri ini dapat berjalan mulus. 

Alhamdulillah, pemerintahan saat ini sebenarnya telah memiliki konsep bagus yang di sebut NAWACITA, yaitu menciptakan kemandirian ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan, dan menjaga ketahanan pangan dan energi. Sebagai paradigma ekonomi untuk membumikan Nawacita, hemat saya, yaitu pembangunan agribisnis. Sistem agribisnis tidak dapat lepas dari subsistem supporting pembuat kebiajakan, yaitu pemerintah.

Salah satu pembicara berikutnya, Dr. Enny, Direktur Indef, berujar bahwa agroindustri merupakan ujung tombak kemandirian ekonomi. Memang, agroindustri selama punya link dengan para petani dapat dikatakan barokah karena dapat meningkatkan nilai tambah. Namun kata beliau, kemandirian ekonomi di negeri ini masih harus ditingkatkan. Rongrongan impor-imporan mesti distop. Nawacita jangan sampai hanya sekadar konsep. Sebagai contoh, bubur ayam harus segera dimakan mulai dari pinggiran. Hasil bumi Ibu Pertiwi ini mesti segera disenangi oleh anak negeri.

Bila Dr. Enny mengatakan bahwa, agroindustri merupakan ujung tombak kemandirian ekonomi, saya ingin mengatakan bahwa para penyuluh pertanian lapangan merupakan ujung tombak keberhasilan pembangunan pertanian. Peran para penyuluh pertanian itu sungguh besar jasanya dalam mentransfer teknologi. Hal ini  sebagaimana dikatakan oleh Dr. Fauziah, dosen Univ. Trunojoyo bahwa teknologi merupakan sumber pertumbuhan ekonomi suatu negera. 

Bila diamati pertumbuhan ekonomi negara sampai kuartal akhir ini yang masih di bawah harapan, tampaknya masih harus terus di genjot. Namun demikian, kita patut bersyukur, pemerintah saat ini telah on the track. Pemerintah telah meminta Bulog untuk menyerap beras petani 4,5 juta ton. Menteri Perdagangan telah mengatakan bahwa tahun ini takada impor beras.

Sebagai bangsa berdaulat, kita mesti prihatin dengan merebaknya kasus beras plastik. Bahaya laten ini perlu diatasi oleh kesungguhan kita dalam membangun pertanian. Para ilmuwan telah membukukan bahwa pembangunan pertanian itu pada dasarnya membangun kedaulatan pangan. Patut dingat, pangan itu bukan hanya beras, melainkan singkong juga. Mengapa tidak?

Tentu, kita harus senantiasa waspada. Menurut perhitungan Staf Bank Dunia, IRRI, FAO, jumlah pertumbuhan produksi beras tetap lambat. Hal ini  didorong oleh kenaikan produktivitas yang rendah. Mudah-mudahan pemerintah saat ini tidak terkena penyakit agnogenesis, yaitu pembiaran-pembiaran yang dapat membahayakan.  Dalam masyarakat yang masih dilekati oleh slence  peradaban (baca: memiliki bodi demokrasi, tetapi peradaban batu akik)  ini,  tentunya kita berharap jangan sampai kondisi tersebut  berdampak terhadap  usaha peningkatan produktivitas yang notabene masih harus  terus di genjot.

Semoga saja, dalam pengembangan agribisnis ini tidak sampai mengabaikan pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian yang senantiasa memperkuat pertanian dalam proses pembangunan. Pembangunan pertanian yang tidak mencerabut SDM pertanian itu sendiri. Semoga.

*Tentang Penulis
Dedi Sufyadi, lahir di Tasikmalaya pada 17 April 1960. Pendidikan S-1 diselesaikan di Jurusan Sosiologi Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertania, Unpad. Program S-2 diselesaikan deprogram Studi Ekonomi Pertanian
Pascasarjana Unpad. Sementara itu, Pendidikan S-3 diselesaikannya pada Bulan Agustus tahun 2006.
Sampai saat ini tercatat sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi dengan status Tenaga Edukatif Kopertis Wilayah IV Jawa Barat sejak tahun 1986. Selain itu, penulis juga aktif di Perhepi (…) Kota Tasikmalaya sebagai Ketua.
Pada tahun 1999 materi ajar kuliahnya diterbitkan oleh Un Published. Sementara tulisan-tulisannya, terutama berkaitan dengan bidang pertanian, tersebar di berbagai media lokal dan nasional, seperti Pikiran Rakyat, Kabar Priangan, Majalah Wawasan Tridharma. 

Posting Komentar

0 Komentar