Recents in Beach


Agama Melawan Kekerasan

Oleh Maulana Janah

Konflik dan kekerasan yang berkembang di tengah masyarakat atau dalam sebuah negara bisa memiliki hubungan yang erat dengan keyakinan keagamaan. Maka seharusnya, perilaku yang dapat memicu munculnya ketegangan sosial berlatar belakang agama harus segera ditinggalkan. Sebab, agama secara sosiologis bisa memunculkan dan menjadi faktor konflik. 

Kutub keyakinan seorang penganut keagamaan apabila terganggu dan terusik bisa menjadi letupan yang dahsyat. Oleh karena itu, agama pada dasarnya memiliki dua muka, di satu sisi diyakani oleh penganutnya sebagai sumber moral dan nilai, perdamaian, persatuan, persaudaraan, serta segala hal yang berhubungan dengan kebaikan. Di sisi  yang kedua, agama juga bisa berubah menjadi faktor konflik dan bahkan perang ketika ada gangguan terhadap keyakinan umat beragama. 

Pada konteks tertentu, agama bisa dimanfaatkan oleh kekuatan politik yang mencari keuntungan sesaat, untuk dibentrokan pada sisi keyakinannya yang berdampak pada kondisi sosial tertentu. Oleh karena itu, menurut Kahmad (2006) yang harus menjadi perenungan adalah ‘masyarakat’, karena mereka menjadi lahan subur bagi tumbuhnya konflik. Bibitnya bisa bermacam-macam, seperti faktor ekonomi, politik, sosial, dan bahkan agama.

Misal, munculnya berbagai ketegangan dan konflik sosial yang menjelma menjadi kekerasan atas nama agama memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Beberapa waktu kebelakang, misalnya, banyak aksi mengecam Amerika Serikat terkait dengan film yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad Saw. Aksi tersebut bisa berubah menjadi konflik yang berkepanjangan selama negara Adidaya tersebut selalu melakukan provokasi yang menyulut kemarahan umat Islam di seluruh penjuru dunia. 


Dalam perjalanan sejarah keagamaan, mungkin umat terlalu sering diprovokasi, disulut melalui berbagai cara, seperti isu teroris, film Nabi Muhammad, sertifikasi ulama, dan lain sebagainya. Jika pertanyaan ini dibalik, misalnya, apakah selama ini umat Islam selalu melakukan provokasi dalam bentuk teror, pelecehan agama, pembakaran kitab suci, atau bentuk lainnya? lalu siapa yang melakukan provokasi, apakah negara, umat atau kalangan agamawan itu sendiri? apa motifnya? tentu jawabannya akan sangat rumit. Semua kalangan bakal saling tuding dan saling menyalahkan yang pada akhirnya tidak ada titik temu. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa bisa membangun hubungan keagamaan yang harmonis, bisa dipastikan kehidupan keagamaan akan mengalami konflik berkepanjangan.


Agama diyakani oleh penganutnya memiliki sisi dalam (inner) berupa keyakinan dan kepercayaan kepada yang Mahakudus yang bersifat laten (tersembunyi) bagi setiap manusia. Sementara sisi luar agama (auter) bersifat manifest (nyata). Pada posisi ini ajaran agama ditarik dan direalisasikan dalam konteks kehidupan sosial manusia, sehingga membentuk pandangan dunia (worldview) bagi para penganutnya. Dengan demikian, ranah sosial atau dunia nyata menjadi lahan dalam upaya melaksanakan titah dan pesan-pesan suci agama. Sebab pada hakikatnya, nilai-nilai agama itu membimbing manusia agar senantiasa berada dalam suasana yang aman dan  nyaman. 


Namun, suasana itu akan berubah menjadi ketegangan manakala sisi dalam agama diganggu atau dilecehkan oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, secara otomatis sisi luar pengamalan agama oleh penganutnya menjadi sesuatu yang cenderung intoleran. Hal ini merupakan respons yang bersifat emosional dari seluruh para penganut agama. Terkadang suasana tersebut berubah menjadi ledakan-ledakan konflik meskipun bisa saja faktornya bermacam-macam. 


Dengan demikian, jika melihat kondisi tersebut, munculnya konflik, kekerasan, terorisme, dan radikalisme, berkembang karena dilatarbelakangi oleh berbagai motif. Misalnya, motif kepentingan dan konspirasi politik atau kesenjangan ekonomi, merebaknya kemiskinan, menjamurnya ketidakadilan, dendam politik, serta pemahaman yang sempit dan keliru tentang ajaran agama yang diyakininya. 


Faktor munculnya konflik berlatar belakang agama disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang dimiliki oleh para penganutnya yang mengalamai berbagai gesekan akibat dari erosi ketidakadilan dan hegemoni global. Jika persoalan keyakinan sudah menjadi komoditas kepentingan tertentu, fenomena yang terjadi sekarang ini merupakan konsekuensi logis dari sikap negara atau kelompok tertentu yang keluar dari etika keberagamaan. Karena itu, agar agama tidak menjadi faktor disintegrasi di tengah masyarakat atau dalam suatu negara, harus dihentikan upaya-upaya yang mengarah kepada permusuhan antarsesama manusia, bahkan antarsesama penganut agama. 


Terdapat banyak kasus yang menjadi pemicu disintegrasi. Di beberapa negara  timur tengah, misalnya Palestina dengan Israel, konflik berkepanjangan karena persoalan agama dan politik yang telah menjadi bagian politik konspirasi dunia. Sementara di Indonesia, konflik lebih sering disebabkan oleh faktor eksternal yang cenderung politis, misalnya peristiwa Ambon dan Maluku, Poso, serta kerusuhan yang baru-baru ini, yaitu antara Suni dan Syiah atau kekerasan yang terjadi di Tasikmalaya baru-baru ini. 


Di satu sisi, kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa penganut agama cenderung intoleran terhadap penganut agama yang lainnya. Di sisi lainnya,  konflik-konflik tersebut bermuatan keyakinan yang berlandaskan ideologi yang diyakininya, sehingga antarpenganut agama saling mengklaim  merasa paling benar. Fakta ini menunjukan bahwa ada pengamalan agama yang bias dan tidak dewasa. 


Oleh karena itu, untuk menjembatani konflik-konflik yang terus terbuka, diperlukan satu usaha ke arah kehidupan keberagamaan yang kondusif. Caranya melalui reinterpretasi terhadap pesan-pesan agama, agar para penganutnya bisa mengekspresikan keberagamaannya di hadapan penganut agama lain tanpa ada benturan dan konflik. Meskipun kecenderungan konflik antaragama merupakan fakta yang tidak bisa dibantah, paling tidak, para penganut agama tidak perlu mencari-cari alasan untuk saling berkonflik yang memunculkan kekerasan.Dengan demikian, pada akhirnya agama harus melawan kekerasan, bukan menyuburkan kekerasan. 

Baca juga: Berebut Kekuasaan 


Tentang Penulis


C:\Users\User\Pictures\foto penelitian\IMG_20200517_140955.jpg
Dr. Maulana Janah, lahir di Tasikmalaya 3 Juni 1979. Dosen Fakultas Dakwah IAIC Cipasung, yang selalu konsen terhadap persoalan-persoalan sosial. Sehari-hari ia menjagar tentang mata kuliah sosiologi.  Memperoleh gelar Magister Sosiologi Agama (Studi Masyarakat Islam) di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung-Jawa Barat tahun 2010. Kemudian meraih gelar Doktor di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang Sosiologi dan Antropologi Agama pada tahun 2020 dengan predikat Cumlaude.

Berbagai seminar, dialog baik skala lokal dan nasional telah penulis lakukan. Selain aktif sebagai narasumber pada sejumlah media, seperti Radar TV dan Radio FM, penulis juga menjadi penulis lepas di berbagai Koran nasional dan Lokal, misalnya di Koran Sindo, Koran harian Radar Tasikmalaya, Koran Harian Kabar Priangan. Lebih dari 100 artikel terpublikasikan. Adapun buku yang berhasil ia susun adalah Tasikmalaya Dalam Sepenggal Masa,  Penerbit Mata Pelajar Indonesia tahun 2019. Peran Ulama Dalam Pengentasan Kemiskinan, Penerbit Mata Pelajar Indonesia tahun 2020, dan Social Engineering, Penerbit Pustaka Ellios tahun 2021.



Posting Komentar

0 Komentar