Recents in Beach


Guru, Digugu dan Ditiru?


Oleh Drs. H. Dedi Supriadi Idris, M. Pd. 

(Abah Dedi, Guru Pengampu Bahasa Indonesia, SMA Negeri 2 Tasikmalaya)

Ungkapan tersebut sudah sangat akrab di telinga kita. Ungkapan ini mengandung maksud, betapa mulianya seorang guru di mata peserta didik dan masyarkat sekitar. Guru menjadi teladan dalam segala bidang kehidupan masyarakat. Itu benar-benar nyata pada masa lalu. Bagaimana sekarang?

Yuk, kita awali obrolan kita dengan cerita pengalaman abah saat menjadi peserta didik nakal!

Abah masih ingat, saat itu setiap Sabtu disebut hari krida. Hari ini digunakan sekolah untuk memelihara lingkungan, bersih-bersih, atau menanam tanaman di sekitar sekolah. Abah jadi ingat mata pelajaran PLH nih. Dulu tidak ada, tapi kecintaan terhadap lingkungan langsung diaplikasikan. Guru, cukup satu kali memberitahukan bahwa pada hari Sabtu siswa yang memiliki peralatanhari kebersihan untuk dibawa ke sekolah. Selamanya, tidak pernah ada pengumuman ulang. Serempak setiap hari Sabtu, siswa membawa peralatan.

Saatnya bersih-bersih, guru tidak pernah meminta apalagi menyuruh peserta didik untuk bekerja atau melakukan sesuatu. Para guru tercinta, langsung bekerja. Melihat keadaan tersebut, tanpa diminta, dengan penuh kesadaran dan suka cita, serempak peserta didik melakukan apa yang dilakukan guru.

Saat abah tidak bekerja, malah mengganggu teman-teman yang bekerja, guru tidak pernah menegur apalagi marah. Dia hanya mendekati abah, lalu meminjam alat yang saya pegang. Guru tersebut akhirnya menggunakan alat itu sesuai dengan fungsinya. 

Melihat kejadian itu, akhirnya abah malu sendiri. Abah meminta kembali alat dan melanjutkan pekerjaan sang guru.

Aduh! Benar-benar berkesan dan menyenangkan bila mengenang masa itu.

Digugu ditiru (Guru)? Benar sekali! Itulah yang digugu ditiru.

Sekarang abah sudah menjadi guru. Abah berusaha berbuat seperti apa yang dilakukan guru tercinta, dulu. Hasilnya? 

Yuk, cermati pengalaman abah ini!

Suatu hari abah masuk jam pertama. Saat abah masuk, kelas dalam kondisi kotor. Kertas dan plastik, entah bekas bungkus apa, berserakan di depan meja guru. Papan tulis penuh dengan tulisan. Setelah berdoa bersama, abah ambil sapu di sudut kelas. Abah bersihkan sampah yang ada dekat meja guru. Lalu, abah hapus papan tulis. Tanpa bicara kepada para peserta didik tercintaku.

Alhamdulilah, akhirnya selesai. 

Saya langsung ngobrol, masuk ke materi. Tanpa ada ulasan tentang kejadian tadi. Anak-anak tercinta pun tidak ada yang bereaksi.

Jam ke-3, abah masuk ke kelas lain. Kondisi kelas lebih parah dari kelas pertama. Abah lakukan hal yang sama. Alhamdulilah, reaksi anak-anak tercinta  sama dengan kelas pertama.

Saya marah? O, tentu tidak! Malah saya bersedih dan prihatin. Timbul pertanyaan dalam batin saya, mengapa yang kami lakukan dulu, saat abah menjadi peserta didik, tidak terjadi pada diri abah saat ini? Saat abah menjadi guru? Abah berenung diri. Akhirnya abah temukan jawaban pertanyaan batin abah. Hmmmmm….pasti ada yang salah pada diri abah sehingga apa yang abah tidak terjadi.

Digugu, ditiru (Guru)? Begitukah? Abah mesem saja.

Nah, dari perbandingan dua kejadian itu, muncul pertanyaan, ada apakah dengan peserta didik kita dewasa ini. Abah terus berpikir dan membaca berbagai referensi untuk bisa menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Ooo…ternyata, setelah itu abah berpendapat bahwa pertanyaan tadi kurang tepat. Justru pertanyaan itu seharusnya berbunyi, "ada apa dengan guru kita dewasa ini."

Artinya, abah kurang sepakat kalau sikap peserta didik seperti itu akibat kekurangajaran peserta didik. 

Coba pikir dech oleh kita! Kalau peserta didik kurang ajar, lalu bagaimana dengan kita sebagai pendidiknya. Akhirnya balik lagi pada diri kita, bukan?

Ketika ada peseeta didik yang saleh, berprestasi, dan membanggakan, kita selalu mengatakan "itulah murid saya. Itulah keberhasilan saya...." Kita berbangga hati! Tapi mengapa saat ada peserta didik yang kurang berhasil, nakal, kita tidak berani mengakui bahwa itu merupakan salah satu kegagalan kita  sebagai pendidik? Rasanya tidak adil, ya?

Yuk, kita berpikir dengan cerdas dan hati yang bersih! Mari kita kaji semua fungsi dan peranan kita sebagai guru. Kita ngobrol untuk memperbaiki kodisi yang abah alami tadi. Karena tidak menutup kemungkinan kondisi peserta didik seperti dalam ilustrasi di atas diakibatkan adanya sesuatu yang hilang pada diri kita (guru).

Ingat, Kawan! Tugas kita yang paling berat adalah mendidik bukan mengajar.

Mengajar? Gampang! Siapkan administrasi dengan baik, tanpa kita masuk kelas pun proses pembelajaran bisa berlangsung. Ilmu pengetahuan sudah kita transfer kepada anak-anak kita. Seperti yang kita alami pada masa pandemi ini. Mendidik? Nah, inilah yang sangat sulit abah rasakan. Padahal, idealnya peranan mendidik itu lebih besar daripada mengajar. Bahkan selain kedua peran itu, seorang guru masih memiliki bebagai peran lain.

Peranan kita sebagai guru bisa dilihat dari beberapa segi. Pertama dilihat dari segi tenaga pengajar dan administrasi. Kedua dilihat dari segi guru sebagai makhluk individu. Ketiga dilihat dari segi psikologi.

Dilihat dari segi tenaga pengajar dan administrasi, guru memiliki peranan sebagai berikut.

1)      Inisiator, leader, dan evaluator. Wow…! Ternyata menantang ya, peranan guru. Kita berperan sebagai pencetus, pengambil inisiasi, pemimpin, pengarah, pelaksana, sekaligus pengevaluasi. Kita harus mampu mengambil inisiasi terutama dalam proses pembelajaran sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada peserta didik. Inisiasi tersebut direncanakan secara matang dan diwujudkan dalam bentuk proses pembelajaran. Rencana tersebut dilaksanakan sendiri. Kita bimbing dan arahkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Sampai sejauh mana ketepatan proses pembelajaran dan perubahan tingkah laku tersebut? Kita harus mengevaluasinya. Sebagai evaluator, secara langsung kita harus mampu memilih jenis, bentuk, dan butir evaluasi dengan tepat. Evaluasi yang direncnakan harus benar-benar mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam lingkup luas, kita harus mampu menjadi pemikir kegiatan-kegiatan pendidikan sehingga tujuan pendidikan tercapai secara optimal.

2)      Suara masyarakat. Di sekolah, seorang guru harus mampu mewakili masyarakat khususnya masyarakat sekitar. Kita harus mampu menerjemahkan keinginan masyarakat terhadap dunia pendidikan sehingga proses pendidikan di sekolah sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

3)      Ahli. Nah, ahli di sini maksudnya kita ini menjadi ahli pada bidang mata pelajaran yang menjadi besik kita. Sebagai ahli, jelas kita harus mampu menularkan, mewariskan ilmu pengetahuan yang kita kuasai kepada generasi muda dengan baik dan tepat. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi ahli waris kebudayaan yang benar sehingga menjadi generasi penerus yang dapat diandalkan pada masa yang akan datang.

4)      Administrator. Selain sebagai pengajar, pendidik, seorang guru bertanggung jawab pula loh,  terhadap kelancaran kegiatan pembelajaran. Untuk menunjang kelancaran tersebut sudah tentu diperlukan administrasi yang baik. Suatu kegiatan akan berjalan dengan tertib dan berhasil jika ditunjang oleh administrasi yang baik. Karena itulah, kita sebagai guru berperan juga sebagai seorang administrator.

5)      Penegak disiplin. Wah…wah…! Penegak disiplin? Maksudnya? Ya, seorang guru, kita harus mampu menegakkan dan menanamkan disiplin terhadap peserta didik. Yang menjadi masalah, mungkinkah disiplin peserta didik terjaga dan terbina bila kita sendiri tidak atau kurang disiplin? Kalau begitu, jadi guru harus bagaimana? Jawabannya, tentu ada pada nurani kita sebagai guru. Mari kita baca diri kita!

6)      Pemimpin. Keberhasilan pendidikan sangat menentukan masa depan generasi muda. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh guru. Kalau demikian, yang menentukan masa depan generasi muda adalah guru? Benar! Nah, kalau begitu jelas bahwa kita berperan sebagai pemimpin generasi muda.

7)      Penerjemah. Kalau di sekolah guru menjadi wakil masyarakat, sebaliknya di masyarakat guru berperan sebagai penerjemah, penyampai informasi tentang perkembangan dunia pendidikan. Guru harus mampu menyampaikan berbagai permasalahan pendidikan kepada masyarakat sehingga antara masyarakat dengan lembaga memiliki visi dan misi yang sama. Tidak terjadi ketimpangan. Aduh, asyik tuh kalau hal ini sudah tertanam. Segalanya akan berjalan lancar. Tidak ada saling curiga; tidak ada saling tidak percaya.

Sebagai seorang guru, kita tidak bias lepas sebagai makhluk individu. 

Sebagai makhluk individu, guru memiliki peran:

1)      Ilmuwan dan pembelajar. Seorang ilmuwan selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Dia akan selalu belajar untuk memperluas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sepanjang hayatnya dia isi dengan belajar. Nah, kita sebagai imuwan dan pembelajar. Berarti kita harus selalu belajar untuk menambah ilmu. Seorang guru tidak akan pernah puas dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Belajar…belajar…belajar! Tidak ada lagi pikiran bahwa kita yang paling tahu di depan siswa; bahwa kita yang paling pinter. Kita dan siswa sama-sama makhluk pembelajar. Sudahkah kita seideal itu?

2)      Teladan. Seorang guru harus menjadi teladan peserta didik. Ini tidak bisa ditawar kalau pendidikan mau berhasil. Secara langsung atau tidak langsung, segala perilaku guru akan diamati dan diteladani peserta didiknya. Hemmmm…! Abah sebagai guru, malu dech dengan peranan ini.

3)      Orang tua. Sekolah merupakan keluarga besar. Sekolah merupakan lembaga tempat mendidik anak. Guru adalah orang tuanya. Di sekolah, guru harus mampu berperan sebagai pengganti orang tua peserta didik dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik. Dengan demikian, seorang kita harus tahu dan mengerti betul permasalahan dan kebutuhan para peserta didik karena mereka anak-anak kita. Sangat tidak logis jika seorang orang tua tidak mengetahui dan mengerti permasalahan dan kebutuhan anaknya.

4)      Petugas sosial. Sampai saat ini, di mana pun,  masyarakat masih percaya bahwa guru mampu menjadi pelaksana berbagai kegiatan di masyarakat. Sebagai petugas sosial, guru harus senantiasa menjaga kepercayaan tersebut dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan. Bagaimana dengan kita?

5)      Tempat berlindung. Guru harus mampu menjadi pelindung peserta didik. Guru harus mampu mampu memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, dan kepuasan kepada peserta didik. Bagaimana dengan guru yang justru menciptakan rasa takut dan enggan belajar pada diri peserta didik? Amit-amit! Kita jauh dari kondisi seperti itu, bukan?

Sementara secara psikologis, guru memiliki peran:

1)      Psikolog. Di sini maksudnya bahwa seorang guru merupakan psikolog pendidikan. Artinya, seorang guru dalam melaksanakan tugas harus mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip psikologi pendidikan. Jika demikian, ya kita harus benar-benar memahami psikologi peserta didik. Apa, mengapa, dan bagaimana peserta didik, secara psikologis harus kita pahami agar proses pembelajaran berhasil. Setiap peserta didik secara psikologis memiliki karakter belajar yang berbeda. Kita harus mampu memenuhi kebutuhan peserta didik dalam karakter yang berbeda tersebut. Aduh, senang dan jelas menantang ya, tugas dan peranan guru? Semoga saja kita mampu dech!

2)      Seniman. Seniman komunikasi, tepatnya. Seorang guru harus mampu menjalin hubungan dengan individu lain dengan cara yang berkesan dan saling memuaskan. Dengan kemampuannya itu, proses pembelajaran akan tercipta dengan prinsip dan cara berkesan serta memberi kepuasan kepada peserta didik. Tapi ingat loh, hubungan itu bukan hanya dengan peserta didik melaikan harus terjalin juga secara harmonis dengan masyarakat dan lingkungan.

3)      Group builder. Pencipta dan pembentuk kelompok. Guru harus memiliki kemampuan menciptakan kelompok-kelompok pendidikan dan pembelajaran. Mulai kelompok kecil di level kelas, level sekolah, sampai ke level yang lebih luas lagi. Pembentukan kelompok yang sangkil dan mangkus tentu saja harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Nah, prinsip-prinsip itulah yang harus kita pahami. Jangan sampai membentuk kelompok asal-asalan. Saya percaya, rekan-rekan guru sudah memahami semua itu.

4)      Catalytic agent. Pelopor pembaharuan. Wah…wah…cukup menarik nih. Guru sebagai pelopor pembaharu (inovator)? Jadi, kita harus memiliki pengaruh sehingga apa yang kita cetuskan, apa yang kia lakukan menimbulkan perubahan. Paling tidak, menimbulkan perubahan tingkah laku pada diri peserta didik.

5)      Mental hygiene worker. Nah, kalau ini mengandung makna bahwa kita sebagai guru harus mampu membina kesehatan mental peserta didik. Kitalah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan mental peserta didik.

Mencermati berbagai peranan guru di atas, saya berkesimpulan bahwa sangat wajar bila profesi guru itu disebut profesi yang mulia. Pahlawan tanpa tanda jasa. Bayangkan! Berbagai peranan tersebut harus mampu dijalankan dengan baik oleh seorang guru. Siapa pun guru yang mampu menjalankan peranan tersebut, tidak akan sulit memberikan pengaruh kepada peserta didik. Dengan keteladanannya, dia akan menjadi orang yang digugu dan ditiru oleh peserta didik dan masyarakat.

Kembali ke judul tulisan ini. Digugu Ditiru (Guru?). Saat ini mari kita introspeksi, sudahkah kita seperti yang dilukiskan dalam ilustrasi di atas? Kalau sudah, aduh! Kita bangga. Kita salut dan acungkan jempol. Kalau belum? Yuk, kita introspeksi! Apakah berbagai peranan guru tersebut sudah kita miliki? Jangan sampai ada yang hilang pada diri kita. Sudah kita aplikasikan? Yang jelas, jika guru sudah digugu dan ditiru, dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari pasti terjadi proses pendidikan kepada peserta didik. Hanya dengan proses pendidikan yang baik dan berkelanjutanlah  akan tercipta proses pemanusiaan manusia. Semoga!

Rekan-rekan guru, bisa mengkaji ulang obrolan kita pada buku-buku berikut.

Moh. Surya. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Pembangunan Jaya.

Noehi Nasution. 1995. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.

#muhasabah_231020

Posting Komentar

0 Komentar