Recents in Beach


Chairil Anwar, Kisah Pukau Maut

Oleh Nizar Machyuzaar

Inskripsi.com | Karya Utama, Admin--Posting pertama rubrik Karya Utama bertajuk "Chairil Anwar, Kisah Pukau Maut dalam Sekali Berarti Sudah Itu Mati". Kami sengaja memilih sastrawan fenomenal ini karena selain mati muda pada usia 27 tahun, karya puisinya begitu lugas dalam meletakkan estitika puisi Indonesia modern. Banyak sastrawan selanjutnya berguru dan melanjutkan platform puisi Chairil Anwar yang mengedepankan kekuatan pilihan kata "diksi', seperti Goenawan Muhamad dan Sapardi Djoko Damono, 


Puisi "Nisan" dengan subjudul "Kepada Nenekanda" menjadi awal kepenyairan Chairil Anwar. Puisi ini diterbitkan tahun 1942 di Majalah Siasat. Puisi ini menginskripsi peristiwa kematian nenek Chairil yang //Bukan kematian benar menusuk kalbu /Kerelaanmu menerima segala tiba//. Saya menduga dua larik ini merupakan awal sekaligus akhir pengembaraan "Aku ini binatang jalang".  Bagaimana tidak? dua baris berikutnya mengisyaratkan pukau maut yang membayang di sepanjang 58 puisinya, //Tak kutahu setinggi itu atas debu/Dan duka maha tuan bertahta//. 


Dua larik terakhir ini boleh dikata merupakan tesis pemuda pelosok Sumatera yang kemudian hijrah ke Jakarta di usia 19 tahun. Di Jakarta Chairil bergaul dengan generasi pertama dan kedua kaum intelektual pribumi yang tercerahkan oleh pendidikan Hindia Belanda hasil politik balas budi. Tentu, tesis pukau maut pemuda ini bersentuhan dengan pesona pemikiran Barat sebagai antitesisnya. 


Kita akhirnya mengetahui kompleksitas manusia Chairil dari aku lirik puisi yang merupakan pergulatan mencari sintesis dalam hidup dan kepenyairannya yang singkat (1942--1949), seperti eksistensialisme (puisi "Aku"),  nasionalisme (puisi "Persetujuan dengan Bung Karno"), humanisme (puisi "Cintaku Jauh di Pulau", mitisisme (puisi "Cerita Buat Din Tamaela"), dan teologisme (puisi "Doa"). Bukan sebuah kebetulan juga jika 27 puisi yang dilampirkan menandai usianya yang juga singkat. Namun, apa lacur, puisi telah membawa sintesis hidupnya dalam penampang sejarah sastra Indonesia.  


Yang mungkin abai dari Chairil sendiri adalah pukau maut telah membawa sintesisnya pada konklusi yang lebih ajeg dan dewasa. Bukan kebetulan juga puisi "Derai-derai Cemara", yang ditulis dua hari menjelang ajalnya, kembali menyeruakkan kesadaran puitiknya akan rapuhnya makhluk manusia yang berdebu. Chairil yang memulai jalan kesunyian dengan bait berlarik empat baris seuntai pun mengakhirinya dengan tiga bait berlarik empat baris seuntai:


Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam


Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini


Hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

 

Sampai di sini, kisah /Aku ini binatang jalang/ yang /Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ terobsesi /Sekali berarti sudah itu mati/. Pukau maut telah membawanya ke /Hidup hanya menunda kekalahan/. Namun, inskripsi pergulatan hidupnya meneroka jalan ke-Abadi-an.


Hormat saya,

Nizar Machyuzaar


Baca juga: Muhammad Yamin, Peneroka Bahasa Kebangsaan


Lampiran  


Klik versi PDF, Chairil Anwar, Kisah Pukau Maut


1. Nisan

2. Diponegoro

3. Krawang-Bekasi

4. Sia-Sia

5. Aku

6. Senja di Pelabuhan Kecil

7. Doa

8. Tak Sepadan

9. Di Mesjid

10. Persetujuan dengan Bung Karno

11. Cintaku Jauh di Pulau

12. Cinta dan Benci

13. Sajak Putih

14. Selamat Tinggal

15. Sebuah Kamar

16. Rumahku

17. Kepada Peminta-minta

18. Prajurit Jaga Malam

19. Yang Terampas dan Yang Terputus

20. Cerita Buat Dien Tamaela

21. Hampa

22. Kawanku dan Aku

23. Kepada Kawan

24. Lagu Siul

25. Tuti Artic

26. Puisi Kehidupan

27. Derai-derai Cemara


Baca juga: Amir Hamzah, Membaca Narasi Kebangsaan Dengan Hikayat Hang Tuah



Posting Komentar

0 Komentar